BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nilai moral pada dasarnya adalah mengupayakan anak mempunyai kesadaran dan berprilaku taat moral yang secara otonom berasal dari dalam diri sendiri. Dasar otonomi nilai moral adalah identifikasi dan orientasi diri. Pola hidup keluarga (ayah dan Ibu ) merupakan “model Ideal” bagi peniruan dan pengindentifikasian perilaku dirinya. Otomisasi nilai moral dalam diri anak berlangsung dalam dua tahap, yaitu pembiasaan diri dan identifikasian diri.
Merujuk pada sistem moral Spranger, nilai-nilai moral yang diupayakan bagi kepemilikan dan pengembangan dasar – dasar disiplin diri mencakup lima nilai, yaitu nilai-nilai ekonomis, social,politis, Ilmiah, estetis dan agama dalam sistem nilai spranger, nilai etik tidak berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian integral dari nilai religi. Hubungan antara disiplin diri dengan nilai ini merupakan konsep nilai moral yang memungkinkan orang tua untuk membantu anak dalam memiliki dasar disiplin diri.
B. Tujuan
Nilai moral bertujuan untuk mengupayakan anak menjadi pribadi yang utuh dan terintergrasi. Untuk mencapai tujuan ini, tugas dan tanggungjawab keluarga (orangtua) adalah menciptakan situasi dan kondisi yang memuat iklim yang dapat dihayati anak-anak untuk memperdalam dan memperluas makna – makna asensial.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Moral
Kata moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Kata mos jika akan dijadikan kata keterangan atau kata sifat lalu mendapat perubahan dan belakangannya, sehingga menjadi “morris” kepada kebiasaan moral dan lain-lain dan moral adalah kata nama sifat dari kebiasaan moral dan lain-lain, dan moral adalah kata nama sifat kebiasaan itu, yang semula berbunyi moralis. Kata sifat tidak akan berdiri sendiri dalam kehidupan sehari-hari selalu dihubungkan dengan barang lain. Begiu pula kata moralis dalam dunia ilmu lalu dihubungkan dengan scientia dan bebrunyi scientis moralis, atau philosophia moralis. Karena biasanya orang-orang telah mengetahui bahwa pemakaian selalu berhubungan dengan kata-kata yang mempunyai arti ilmu. Maka untuk mudahnya disingkat jadi moral.
Perkata diartikan dengan ajaran kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Dengan demikian moral dapat diartikan ajaran kesusilaan. Moralitas berarti hal mengenai kesusilaan.
Sedang, ertika merupakan suatu ilmu yang membicarakan tentang perilaku manusia, perbuatan manusia yang baik dan yang buruk. (Ethics the study and phsylosophy of human conduct with emphasis on the determination of right and wrong one of the normative sciences)

Menurut hukum ethic sesuatu perbuatan dinilai pada 3 tingkat :
• Semasih belum lahir jadi perbuatan, jadi masih berupa rencana dalam kata hati ; niat
• Sesudah sudah berupa perbuatan nyata = pekerti
• Akibat atau hasil dari perbuatan itu = baik atau tidak baik

Variable pencapaian dari niat atau karsa itu sendiri adalah sebagai berikut :
• Tujuannya baik tetapi cara mencapainya tidak baik
• Tujuannya yang tidak baik cara mencapainya (kelihatannya ) baik
• Tujuannya baik cara mencapainya juga baik

B. Teori Perkembangan Moral

Teori Piaget
Dalam bukunya the moral judgement of the Child (1923) Piaget menyaakan bahwa kesadaran moral anak mengalami perkembangan dari satu tahap dari tahap yang lebih tinggi. Pertanyaan yang melatar belakangi pengamatan Piaget adalah bagaimana pikiran manusia menjadi semakin hormat pada peraturan (sejauh mana peraturan dianggap sebagai pembatasan) dan kedua,pelaksanaan dari peraturan itu. Piaget mengamati anak-anak bermain kelereng, suatu permainan yang lazim dilakukan oleh anak-anak diseluruh dunia dan permainan itu jarang di ajarkan secara formal oleh orang dewasa. Dengan demikian permainan itu mempunyai peraturan yang jarang atau malah tidak sama sekali ada campur tanan orang dewasa. Dan melalui perkembangan umur maka orientasi prkembangan itupun berkembagn dari sikap heteronom (bahwasannya peraturan itu berasal dari diri orang lain) menjadi otonom 9 dari dalam diri sendiri. Pada tahap heteronom anak-anak menganggap bahwa sesuatau yang patut dipatuhi, dihormati, diikuti dan ditaati oleh pemain. Pada tahap otonom, anak-anak beranggapan bahwa peraturan-peraturan merupakan hasil kesepakatan bersama antara para pemain.

Teori Kohlberg
Teori Piaget kemudian menjadi inspirasi bagi Kohlberg. Hal yang menjadi kajian Kohlberg adalah tertumpu pada argumentasi anak dan perkembangan argumentasi itu sendiri. Melalui penelitian yang dilakukannya selam 14 tahun, Kohlberg kemudian mampu mengindentifikasi 6(enam) tahap dalam moral reasoning yang kemudian dibagi dalam tiga taraf.

1. Taraf prakonvensional
pada taraf ini anak telah memiliki sifat responsive terhadap peraturan dan cap baik dan buruk, hanya cap tersebut ditafsirkan secara fisis dan hedonistis (berdasarkan dengan enak dan tidak enak, suka dan tidak suka) kala jahat dihukum kalau baik diberi hadiah. Anak pada usia ini juga menafsirkan baik buruk dari segi kekuasaan dari asal peraturan itu diberi, orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada taraf ini terdiri dari dua tahapan yaitu :
1) Punishment and obedience orientation. Akibat – akibat dari tindakan menentukan baik buruknya tindakan tersebut menghindari hukuman dan taat secara butqa pada yang berkuasa dianggap bernilai pada dirinya sendiri.
2) Instrument-relativist orientation. Akibat dalam tahap ini beranggapan bahwa tindakan yang benar adalah tindakan yang dapat menjadi alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri dan kadang-kadang juga kebutuhan orang lain. Hubungan antar manusia dianggap sebagai hubungan jual beli dipasar. Engkau menjual saya membeli, saya menyenangkan kamu, maka kamu mesti menyenangkan saya.
2. Conventional Level (taraf Konvnsional)
pada taraf ini mengusahakan terwujudnya harapan-harapan keluarga atau bangsa bernilai pada dirinya sendiri. Anak tidak hanya mau berkompromi, tapi setia kepadanya, berusaha mewujudkan secara aktif, menunjukkan ketertiban dan berusaha mewujudkan seara aktif, menunjang ketertiban dan berusaha mengindentifikasi diri mereka yang mengusahakan ketertiban social. Dua taraf ini adalah :
1). Tahap interpersonal corcodance atau “good boy-nice girl”orientation. Tingkah laku yang lebih baik adalah tingkah laku yang membuat senang orang lain atau yang menolong orang lain dan yang mendapat persetujuan mereka. Supaya diterima dan disetujui orang lain seseorang harus berlaku “manis”. Orang berusaha membuat dirinya wajar seperti pada umumnya orang lain bertingkah laku. Intensi tingkah laku walaupun kadang-kadang berbeda dari pelaksanaanya sudah diperhitungkan, misalnya orang-orang yang mencuri buat anaknya yang hampir mati dianggap berintensi baik.
2). Tahap law and order, orientation. Otoritas peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan dan pemeliharaan ketertiban social dijunjung tinggi dalam tahap ini. Tingkah laku disebut benar, bila orang melakukan kewajibannya, menghormati otoritas dan memelihara ketertiban social.
3. Postoonventional level (taraf sesudah konvensional)
Pada taraf ini seorang berusaha mendapatkan perumusan nilai-nilai moral dan berusaha merumuskan prinsip-prinsip yang sah ( valid) dan yang dapat diterapkan entah prinsip itu berasal dari otoritas orang atau kelompok yang mana.

Tahapannya adalah :
1) Sosial contract orientation. Dalam tahap ini oaring mengartikan benar salahnya suatu tindakan atas hak-hak individu dan norma-norma yang sudah teruji dimasyarakat. Disadari bahwa nilai-nilai yang bersifat relative, maka perlu ada usaha untuk mencapai suatu consensus bersama.
2) The universal ethical principle orientation. Benar salahnya tindakan ditentukan oleh keputusan suara nurani hati. Sesuai dengan prinsip prinsip etis itu bersifat abstrak. Pada intinya prinsip etis itu adalah prinsip adalah keadilan, kesamaan hak, hak asasi, hormat pada harkat ( nilai ) manusia sebagai pribadi.
Dalam proses perkembangan moral reasoning dengan tahapannya seperti itu berlakulan dalil berikut :
1. perkembangan moral terjadi secara berurutan dari satu tahap ke tahap berikutnya.
2. dalam perkembangan moral orang tidak memahami cara berfikir dari tahap yang lebih dari dua tahap diatasnya.
3. dalam perkembangan moral, seseorang secara kognitif tertari pada cara berfikir dari satu tahap diatas tahapnya sendiri. Anak dari 2 tahap 2 merasa tertarik kepada tahap 3. berdasarkan inilah kohlber percaya bahwa moral reasoning dapat dan mungkin diperkembangkan.
4. dalam perkembangan moral, perkembangan hanya akan terjadi apabila diciptakan suatu diequilibrium kognitif pada diri si anak didik. Seseorang yang sudah mapan dalam satu tahap tertentu harus diusik secara kognitif sehingga ia terangsang untuk memikirkan kembali prinsip yang sudah dipegangnya. Kalau ia tetap tentram dan tetap dalam tahapannya sendiri, maka tidak mungkin ada perkembangan.
Sumber bacaan : etika individual pola dasar filsafat moral. Karangan Drs.H. Burhanuddin,MM.Penerbit Rineka Cipta ISBN : 979-518-761-9 Tahun terbit 1997

C. Tahapan Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg.
Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif. Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan, walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.
Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.

Tahapan-tahapan
Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini. Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap memiliki perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.
Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
1. Orientasi kepatuhan dan hukuman
2. Orientasi minat pribadi
( Apa untungnya buat saya?)
Tingkat 2 (Konvensional)
3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas
( Sikap anak baik)
4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial
( Moralitas hukum dan aturan)
Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
5. Orientasi kontrak sosial
6. Prinsip etika universal
( Principled conscience)

BAB III
PENTUTUP

A. Kesimpulan
Signifikasi upaya orang tua dengan tingkat apresiasi anak berdasarkan kata hati, nalar dan naluri terjadi karena pasang surutnya kewajiban dan kepercayaan orang tua dalam diri anak-anak. Kewajiban dan kepercayaan terhadap orang tua yang bergelora dalam diri anak-anak dapat menggetarkan dawai kata hatinya. Anak yang bergetar dawai kata hatinya oleh kewajiban dan kepercayaan orang tua memiliki perlawanan secara psikologi dan emosional. Dengan demikian, mereka terdorong secara sukarela untuk belajar memiliki nilai-nilai moral sebagai dasar perrilaku yang berdisiplin diri.
B. Saran
Nilai moral adalah awal utama bagi anak-anak dalam berprilaku. Oleh sebab itu nilai moral sangat penting untuk dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar anak-anak dapat berprilaku sopan ramah-tamah, dan disiplin.
DAFTAR PUSTAKA
http:/id.wikipedia.org/wiki/Tahap Perkembangan Moral Kohlberg”

About these ads