[KOMPAS] Waktu terasa mahal harganya. Tidak percaya? Tengoklah bagaimana mereka yang tinggal di kota besar atau metropolitan kesulitan mencari waktu untuk sekadar bersantai atau menyalurkan hobi. Waktu 24 jam habis untuk pekerjaan kantor, berjibaku dengan kemacetan, dan mengurus keluarga. Bisa memiliki ”me time” dan menyalurkan hobi menjadi momen bahagia yang disyukuri meskipun itu hanya bisa sekali dalam sebulan.

Ungkapan seperti ”Thanks God it’s Friday” dan ”I hate Monday” masih sering terdengar. Betapa seorang makhluk ekonomi butuh waktu untuk rehat sejenak, menjaga jarak dari rutinitas dan memulihkan energi. Melakukan hobi menjadi ”obat” yang ampuh untuk mengembalikan gairah di tengah rutinitas yang mendera.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hobi adalah kegemaran atau kesenangan istimewa pada waktu senggang dan bukan menjadi pekerjaan utama. Kata ”istimewa” dalam pengertian itu memiliki makna khusus atau khas. Hal inilah yang menyebabkan para pehobi atau hobiis (sebutan bagi pemilik hobi) umumnya selalu menyediakan segala sesuatunya secara khusus, termasuk dari segi waktu.

Penyediaan waktu ini memang berbeda-beda bergantung dari jenis hobi, alokasi dana, rutinitas kesibukan, serta kemauan. Masyarakat kota besar di Indonesia memiliki frekuensi penyaluran hobi yang variatif, dari yang dilakukan hanya sekali dalam sebulan sampai yang setiap hari.

Hasil survei gaya hidup yang dilakukan Litbang Kompas di enam kota besar pada Maret-April 2012 menunjukkan, bagian terbesar responden (68,7 persen) melakukan hobi mereka seminggu sekali hingga beberapa kali dalam sebulan. Porsi yang lebih kecil (12,2 persen) menyalurkan hobinya sebulan sekali. Namun, ada juga sekitar 19 persen responden yang melakukan hobinya setiap hari.

Bervariasinya waktu yang diluangkan untuk menekuni hobi ini bergantung pada rutinitas pekerjaan terkait ekonomi yang dijalani setiap hari. Jika dilihat berdasarkan tingkat kesejahteraan, semakin tinggi penghasilan responden, frekuensi melakukan hobi semakin berkurang. Sebaliknya, semakin rendah penghasilan, frekuensi penyaluran hobi responden menjadi semakin sering.

Kondisi ini bisa dimaklumi karena orang yang memiliki penghasilan yang tinggi bisa jadi memiliki tanggung jawab pekerjaan besar sehingga menuntut pemanfaatan waktu yang lebih banyak untuk bekerja. Sementara yang berpenghasilan rendah memiliki waktu yang lebih banyak untuk melakukan aktivitas non-ekonomi sehingga terbuka peluang yang cukup besar untuk melakukan hobi. Tentu saja, hobi pada kedua kelompok ini berbeda.

Orang yang memiliki hobi rutin adalah yang statusnya bekerja dan memiliki penghasilan yang dapat disisihkan untuk menunjang kegemarannya.
Dari hasil survei terlihat, responden yang berpengeluaran kurang dari Rp 375.000 per bulan lebih banyak yang bisa menyalurkan hobinya setiap hari (22 persen) ketimbang kelompok lainnya. Porsi kelompok berpengeluaran rentang Rp 375.000 hingga Rp 1.877.000 per bulan lebih sedikit yang bisa melakukan hobi setiap hari (17-18 persen). Sementara pada kelompok yang berpengeluaran Rp 1.877.000 ke atas per bulan, persentasenya lebih kecil lagi (16 persen).

Frekuensi penyaluran hobi tidak terlalu berbeda antar-responden jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan. Namun, jika dilihat berdasarkan jender, survei ini memperlihatkan perempuan lebih banyak yang bisa menyalurkan hobi setiap hari (23 persen) ketimbang laki-laki (17 persen).

Jika menyalurkan hobi lebih membutuhkan waktu khusus, memanfaatkan waktu senggang untuk kegiatan-kegiatan ringan tetapi menyenangkan menjadi alternatif di tengah kesibukan. Tak sedikit responden yang bisa menyediakan waktu meskipun tidak lama untuk kegiatan sekadar jalan-jalan di pusat perbelanjaan, nonton di bioskop, melakukan perawatan tubuh, atau olahraga kebugaran (fitness).

Pendukung hobi

Tersedianya waktu luang yang banyak tidak menjamin seseorang dapat melakukan hobi dengan leluasa. Kegemaran yang sifatnya istimewa ini tentu saja membutuhkan perlakuan khusus, yang berarti juga memerlukan alokasi dana yang cukup, bahkan untuk hobi yang relatif sangat murah dan mudah pun seperti jalan sehat atau joging. Hobi ini setidaknya memerlukan sepatu atau alas kaki yang diganti secara berkala setiap kali rusak. Demikian juga dengan kaus dan celana olahraga, semua memerlukan anggaran meski dengan nilai seminimal mungkin.

Anggaran itu akan berlipat ketika seseorang yang, misalnya, memiliki hobi joging kemudian ikut dalam kelompok yang kecanduan joging. Lambat-laun ia akan terpengaruh untuk ikut melengkapi aksesori olahraga seperti rekan-rekannya. Sebut saja, jam tangan yang dapat untuk mengukur pemakaian kalori tubuh, detak jantung, ataupun jarak tempuh. Pakaian olahraga dan sepatu bermerek terkenal pun kini menjadi kebutuhan penting.

Oleh sebab itu, biasanya orang yang memiliki hobi rutin adalah yang statusnya bekerja dan memiliki penghasilan yang dapat disisihkan untuk menunjang kegemarannya. Survei ini menemukan, mayoritas responden (hampir 38 persen) pemilik hobi rutin adalah yang bekerja 8-10 jam sehari. Orang yang bekerja kurang dari jumlah jam itu atau bahkan menganggur intensitas pada hobi yang ”berbiaya” menjadi lebih rendah. (LITBANG KOMPAS)

Penulis: BUDIAWAN SIDIK ARIFIANTO
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

About these ads