Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Bali, Surga Juga bagi yang di Luar Hukum

Bali, Surga Juga bagi yang di Luar Hukum

[Kompas, 28/6] Kalau Anda terbang dari Perth, Australia, menuju Jakarta melalui Denpasar dan berjumpa dengan orang-orang Australia yang berlibur lalu mengobrol dengan mereka, Anda akan mendapati mereka tidak menyadari Bali adalah sebuah provinsi di Indonesia. Mereka menganggap Bali entitas sendiri, bukan bagian dari negara yang lebih besar.

Ilustrasi Dr Ian Wilson dari pengalamannya sendiri itu memperlihatkan betapa Bali (bukan Indonesia) telah menjadi bagian dari budaya pop Australia, terutama bagi kelas menengah dan bawah, di mana Bali merupakan semacam surga.

Indonesianis Adrian Vickers dalam bukunya, Bali, A Paradise Created, menyebutkan Bali sebagai basil konstruksi Barat, fantasi Eropa dari apa yang disebut eksotis. Hanya sekitar satu dekade setelah puputan kerajaan-kerajaan di Badung, Tabanan, dan Klungkung, Belanda menampilkan Bali sebagai tempat yang ramah, eksotis, “pulau dada telanjang” bagi orang Eropa yang kelewat penuh tata krama. Dalam wacana kolonial Belanda, Bali diciptakan kembali menjadi surga, destinasi bagi pelancong Barat.

Mulai tahun 1920-an, Bali menjadi surga bagi wisatawan Barat. Itu juga termasuk wisatawan Australia yang berdatangan sejak tahun 1940-an. Saat itu orang Australia yang berkunjung umumnya kaya, sampai datang generasi baru yang mengawali masuknya Bali dalam budaya pop Australia.

Pada tahun 1970-an, Bali, terutama desa nelayan Kuta, menjadi tujuan generasi baru turis ransel. Peselancar, kaum hippie, dan mereka yang menentang budaya arus utama Australia berdatangan menikmati liburan murah meriah. Bali semakin merasuk ke budaya pop Australia setelah berkembangnya turisme massal tahun 1980-an. Juga, ‘Australia-fication’, diaustraliakannya bagian-bagian dari Bali, kecenderungan yang berlanjut ke dekade berikutnya.

Mobilitas sosial sementara

Pengaustraliaan bagian-bagian Bali dengan bermunculannya bar, kelab, dan hotel “rasa Australia” itu terjadi sejalan dengan semakin menariknya Bali bagi kelas menengah dan bawah Australia “Australia-fication” itu membuat bagian-bagian Bali menjadi seperti di Australia, apa yang disebut Vickers sebagai “domesticated exotica”, campuran antara yang eksotis dan yang familiar. Bali semakin, memantapkan tempatnya sebagai bagian dari budaya pop Australia.

Setiap tahun hampir 900.000 orang Australia berlibur ke Bali. Itu artinya hampir sepertiga jumlah turis asing yang mengunjungi Bali atau 3,8 persen penduduk Australia. Jarak yang dekat, keterjangkauan, dan familiaritas membuat Bali menjadi tujuan ideal.

Bali menjadi surga juga karena memberi mobilitas sosial, walau sementara, melalui kesempatan tinggal di hotel mewah atau memiliki salah satu vila mewah di Seminyak, Canggu, atau Kerobokan. Orang Australia merupakan investor penting dalam ledakan pasar properti Bali.

Apakah yang dicari para pengunjung itu? Daya tarik keeksotikan Bali semakin berkurang, sementara daya tarik familiaritasnya meningkat. Berlibur ke Bali adalah menikmati keaustraliaan hidup enak serta untuk bergaul dengan sesama orang Australia. Seperti mahasiswa-mahasiswa AS yang “wajib” melakukan spring break di Meksiko untuk menikmati keamerikaan mereka, anak-anak muda Australia yang lulus SMA merayakan transisi dalam hidup dengan pergi ke Bali untuk berselancar, minum-minum, dan berpesta.

Kriminalisasi

Dalam beberapa tahun terakhir, ada perkembangan dalam kehadiran Australia di Bali, yaitu kehadiran klub atau geng motor Australia yang di negaranya disebut bikies. Sejak tahun 2009, polisi Australia menyatakan kekhawatiran akan hadirnya klub motor di luar hukum itu.

Menyebut diri mereka 1%ers untuk membedakan dengan 99 persen penunggang sepeda motor yang patuh hukum, kelompok pesepeda motor ini menolak norma dan nilai arus utama, menggantinya dengan aturan sendiri. Bikies muncul di Australia sejak pertengahan 1960-an. Ada sekitar 40 perkumpulan 1%er, antara lain Hells Angels, Bandidos, dan the Rebels, dengan jumlah keanggotaan 3.000-5.000 orang.

Mereka diasosiasikan dengan kegiatan kriminal, seperti menetapkan uang perlindungan tempat tato serta memproduksi dan mendistribusi ganja dan sabu. Beberapa negara bagian Australia melakukan kampanye anti-bikie dengan memberlakukan anti-association laws (peraturan anti-perkumpulan). Berdasarkan aturan itu, hakim bisa menetapkan sebuah kelompok sebagai organisasi kriminal. Setelah itu, polisi bisa mencegah anggota kelompok saling berhubungan atau berkumpul atau bagi yang bukan anggota berhubungan dengan mereka.

Pers dan masyarakat Australia umumnya menelan begitu saja pernyataan polisi serta pemerintah pusat dan negara bagian bahwa kelompok bikies perlu dikontrol melalui peraturan hukum. Jika dibandingkan dengan Indonesia, masyarakat sipil menolak keras rencana DPR dan pemerintah membuat Undang-Undang Organisasi Massa. Sebanyak 98 ormas menyatakan siap menggugat ke Mahkamah Konstitusi apabila RUU itu disahkan dan sejumlah ormas akan melakukan pembangkangan sipil (Kompas, 24/6).

Reaksi berbeda tersebut dapat ditelusuri dari pengalaman berbeda kedua negara. Indonesia pernah mengalami masa pengekangan kebebasan berorganisasi masyarakat pada periode kekuasaan Orde Baru. Awalnya, RUU Ormas diusulkan untuk membatasi ormas yang melakukan kekerasan, tetapi dalam perjalanannya menuai kritik karena dianggap mengancam kebebasan berkumpul dan berserikat. Sementara Australia relatif tidak memiliki pengalaman dengan kelcuasaan otoriter negara.

Tekanan anti-association laws membuat geng motor Australia mengalihkan perhatian ke luar negeri. Bali, seperti halnya Phuket, Thailand, merupakan tempat yang memberikan kesempatan bisnis.

Sejak tahun 2009, sejumlah bikies meningkatkan investasi di Bali dengan membeli usaha, terutama tempat tato dan resor wisata. Hal itu membuat polisi Australia khawatir mereka memperluas kegiatan kriminal di Bali. Namun, kepolisian Bali mengatakan belum melihat ada kegiatan kriminal.

Bali bagi para bikies adalah juga surga perlindungan, tempat mereka bebas mengekspresikan diri, mengenakan lambang kelompok, minum, dan bergaul dengan sesama anggota, hal yang semakin sulit dilakukan di negara mereka. Beberapa kelompok di luar hukum ini malah mulai melakukan pertemuan tahunan di Bali, bukannya di Australia.

Kehadiran Australia dan orang Australia di Bali sangat menonjol. Namun, dalam hubungan antarmasyarakat kedua negara, kehadiran yang menonjol itu tak banyak bermakna. Berjalan-jalan di Kuta, rasa Australia terasa kental, mulai dari banyaknya turis Australia sampai bar dan berbagai bisnis bernuansa Australia. Merujuk pada ilustrasi awal tulisan, mungkin saja turis-turis Australia yang sedang minum, berpesta, atau menikmati hotel di Bali merasa sedang menikmati bagian dari budaya pop mereka, menikmati keaustraliaan mereka.

Bali Sorga Juga

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s