Home » PAGE 5.4 - Domestik Politik » Politik dan Pilpres 2014 » Figur Capres Rakyat Cari Presiden yang Sedikit Bicara, Banyak Kerja

Figur Capres Rakyat Cari Presiden yang Sedikit Bicara, Banyak Kerja


JAKARTA – Calon wakil presiden (cawapres) RI, Muhammad Jusuf Kalla (JK), menegaskan bahwa Joko Widodo (Jokowi) memang bukan tipikal orang yang pintar bicara dan beretorika panjang. Akan tetapi, JK memastikan bahwa Jokowi adalah tipikal orang yang bekerja panjang dan pintar bekerja.
“Kenapa Jokowi bicaranya pendek saja? Begini, susah can orang yang pintar bicara panjang, bisa kerja panjang. Kalau Jokowi, bicara pendek, bekerjanya panjang,” kata JK di hadapan ratusan kiai dan ulama dalam acara “Silaturahim Ulama Pesantren Bersama Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla” di Jakarta, Rabu (4/6).
Dengan tipikal Jokowi yang demikian itu, JK menyerahkan kepada masyarakat selaku pemilih untuk menentukan apakah kepemimpinan ke depan membutuhkan orang yang bekerjanya panjang meski bicaranya pendek ataukah yang bicaranya panjang tetapi belum jelas bagaimana kerjanya.
“Biasanya, kalau orangpintar bicara banyak, kerjanya kurang. Kalau saya sih setengah-setengah, setengah pintar bicara, juga setengah bekerja panjang,” lanjut JK yang disambut tepuk tangan dan tawa hadirin.
Dia melanjutkan tipikal Jokowi adalah orang yang tak bisa bicara dengan berapi-api, tapi Jokowi akan berapi-api kalau bekerja. “Sekarang saya tanya, kita suka yang orator hebat atau pekerja hebat? Kalau orator hebat itu banyak, tapi kalau pekerja hebat itu tak barfyak,” tegas JK.
Dia mengungkapkan hal itu untuk merespons polemik yang membandingkan antara pidato Prabowo dan pidato Jokowi saat deklarasi damai yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Lebih Komprehensif
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk, mengaku her- an dengan hebohnya tanggapan pidato singkat Jokowi dalam deldarasi damai pasangan capres-cawapres. Sebab, menurutnya, kesadaran umum di masyarakat dalam melihat pemimpin pasti komprehensif, tak sekadar dilihat dari bagaimana pidatonya.
“Terlalu genit membahas pidato berjam-jam. Kalau soal kepintaran berpidato, yang sekarang juga jago, tetapi minim aplikasi,” kata Hamdi.
Dia menyarankan agar Jokowi tidak terjebak pada polemik pidato. Menurut dia, Jokowi harus tetap dengan kekhasannya yang memang bukan orator, tetapi pekerja. “Kalau nand mendadak jadi pintar pidato dan bagus, justru tidak Jokowi lagi yang selama ini dilihat publik dengan figur pemimpin yang lugu dan tampil dengan bicara apa adanya,” jelasnya.
Secara terpisah, pengajar Departemen Ilmu Komunikasi UI, Ade Armando, mengatakan pidato Jokowi pada saat deldarasi kampanye damai dinilai penting untuk perkembangan demokrasi di Indonesia. “Cara dia tampil memang tak seperti orator, tapi isinya sangat penting,” kata Ade.
Ade menampik banyak pihak yang menganggap pidato Jokowi lemah. Menurutnya, dari segi substansi, justru sangat pas dengan keadaan Indonesia saat ini. Pidato yang tak sampai lima menit itu juga amat efektif dan mengena. Pidato Jokowi, kata dia, merupakan wujud kejujurannya yang tak ingin berbasa-basi. “Makanya dia tak menyebut nama Prabowo, pesaingnya,” ujar dia. It eko/nsf/P-6
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s