Jokowi Lebih Konkret


Media Indonesia 17 Juni 2014 Frontpage Oleh Adhi M Daryono

Kadin mengapresiasi program Jokowi soal konektivitas berbasis maritim karena menghapus perbedaan harga.

Prabowo maju menghampiri, mengulurkan salam, lalu memeluk Jokowi setelah mengakui keunggulan capres nomor urut 2 itu dalam menjelaskan soal pengembangan dan pemberdayaan ekonomi kreatif.
“Saya diingatkan oleh tim penasihat tidak boleh setuju dengan Pak Jokowi, tetapi kali ini saya harus setuju (terhadap pendapat Jokowi),” kata Prabowo dalam debat capres bertema Pembangunan ekonomi dan kesejahteraim sosial dengan moderator Guru Besar Universitas Brawijaya, Malang, Ahmad Erani Yustika, kemarin.
Sontak tempik sorak ribuan hadirin yang mengikuti debat capres di Hotel Gran Melia, Jl HR Rasuna Said Kav X-0, Jakarta Selatan, tersebut membahana selama beberapa detik.
Seusai debat, Jokowi menjelaskan kembali perihal ekonomi kreatif tersebut kepada Metro TV.
Ini konkret. Pertumbuhan ekonomi kreatif kita pesat karena banyak kaum muda yang menggeluti. Kita punya seni pertunjukan, musik, video, dan anirnasi yang tidak didukung pemerintah. Ini kan factor bagaimana manajemn yang baik. Kita bisa membantu bagaimana kelak seni pertunjukan diatur sebuah manajemen bagus dan pasti bisa mendunia.” ujar Jokowi seraya mengusap keringat di keningnya.
Di sisi lain, pemaparan PraboI.vo soal ekonomi kreatif hanya mengedepankan perlunya pemerintah menambah anggaran pendidikan serta banyaknya pemuda Indonesia yang kreatif.
Pertumbuhan ekonomi
Sebelumnya, Prabowo juga memberikan jawaban tidak pas lantaran tidak memahami persoalan ketika Jokowi melemparkan pertanyaan bagaimana seharusnya peran tim pengendalian inflasi daerah (TPID).
“Apo itu TPID? Saya tidak paham,” tanya Prabowo.
“TPID ialah tim pengendalian inflasi daerah,” jawab Jokowi.
“Ya, saya serahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah.”
Penjelasan Prabowo itu menafikan peran TPID yang juga beranggotakan Bank Indonesia dan kementerian teknis (lihat grafik).
Ketika menjelaskan soal defisit APBN, Prabowo secara spesifik menyoroti kebocoran anggaran sebagai penyebab. Padahal, menurut pengamat ekonomi dari UGM Yogyakarta Tony A Prasetiantono, defisit anggaran umumnya terjadi karena timpangnya pendapatan dengan belanja negara.
“Menurut saya, Jokowi lebih konkret. Prabowo mengawangawang, kurang implementatif,” ungkap Tony kepada Media Indonesia.
Menurut Tony, Jokowi terbilang berani menjawab pertanyaan Prabowo mengenai target pertumbuhan ekonomi 7% yang dinilai pesimistis. “Pertumbuhan ekonomi bahkan bisa di atas 7% dengan catatan iklim investasi dan regulasi dibenahi agar memberikan kesempatan untuk pertumbuhan ekonomi,” jelas Jokowi.
“Ini relevan dan kontekstual. Siapa pun presidennya harus mengejar pertumbuhan ekonomi 7%,” tandas Tony.
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s