Home » PAGE 5.4 - Domestik Politik » Politik dan Pilpres 2014 » Prabowo Kurangi Subsidi, Jokowi Potong Birokrasi

Prabowo Kurangi Subsidi, Jokowi Potong Birokrasi


Republika 21 Juni 2014 Frontpage, oleh Wulan Tunjung Palupi, Djibril Muhammad
JAKARTA — Calon presiden Prabowo Subianto berencana memotong subsidi energi hingga dua per tiga dalam tiga tahun masa pemerintahannya. Dalam waktu lima tahun, subsidi energi diupayakan seminimal mungkin sambil terus mengupayakan biofuel dengan harga yang ekonomis.
“Kita kurangi subsidi energi, tetapi harus tetap melindungi kelompok masyarakat yang paling miskin dan paling lemah,” kata Prabowo dalam acara dialog capres-cawapres dengan pengusaha anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, di Jakarta, Jumat (20/6) malam.
Menurut Prabowo, perlindungan kelompok masyarakat yang paling miskin merupakan bentuk langsung dari pengalihan subsidi energi yang dilakukan pemerintah. Model pemberian subsidi langsung kepada kelompok masyarakat ekonomi lemah tersebut bisa berupa kupon atau voucher bantuan tunai.
Calon wakil presiden pasangan Prabowo, Hatta Rajasa, meyakini pengurangan subsidi energi akan mendorong tumbuhnya sumber energi terbarukan. Menurutnya, memotong subdisi energi hams dilakukan karena saat ini angka subsidi energi begitu besar hingga akhirnya tak produktif dan membebani ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Hatta menambahkan, dengan proyeksi pertumbuhan sebesar tujuh persen, kebutuhan energi akan meningL kat. Saat itulah energi terbarukan harus sudah mampu menggantikan energi fosil. “Sekarang masa depan kita ada di renewable energy,” ujar Hatta.
Menjawab pertanyaan Wakil Ketua Umum Kadin Sinta Wijaya Kamdani, Prabowo juga menjanjikan adanya insentif untuk pembangunan kilang dan industri petrokimia. Berbagai insentif dilakukan untuk mendorong agar industri hulu migas bisa tumbuh karena munculnya investasi baru.
Dalam acara yang sama, calon presiden Joko Widodo menerangkan, dia dan calon wakil presiden Jusuf Kalla memiliki tiga senjata dalam membangun perekonomian Indonesia ke depan. Senjata pertama adalah pembangunan manusia. “Karena dengan pembangunan manusia yang baik memunculkan produktivitas, etos kerja. Gol terakhirnya, daya saing lebih meningkat,” kata Jokowi.
Bagi mantan wali kota Solo ini, Indonesia memiliki potensi dan kekuatan yang sangat besar. Hal yang menjadi masalai selama ini adalah keputusan di lapangan yang terlambat.
Karena itu, kata Jokowi, pembangunan infrastruktur menjadi faktor penting yang kedua. Namun, selama ini selalu raja memiliki masalah, seperti soal pendanaan, perizinan, dan pembebasan lahan. “Peran pemerintah mendorong, penyerapan infrastruktur bisa dengan cepat, seperti jalan dan listrik,” katanya lagi.
Senjata ketiga adalah regulasi. Jokowi menilai, banyak peraturan daerah yang tidak proinvestasi. Peraturan pemerintah di tingkat atas juga sama. “Ini yang harus dipotong,” katanya.
Selain itu, Jokowi menargetkan membangun 20-25 bendungan dalam lima tahun ke depan. Hal itu untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Alasannya, persoalan yang sering dikeluhkan petani yakni membuat sawah baru. Namun, hal yang lebih penting adalah membuat bendungan dahulu. “Yang dibangun bendungan dulu, kemudian irigasi masuk ke sawah. Ini yang sekian tahun tidak dikerjakan. Kalau airnya sudah ada dan masuk, barn sawahnya dibuat, semuanya butuh air,” ujar Jokowi.
Persoalan sawah baru harus didukung lahan yang memadai. Semua harus ditentukan karena menyangkut tata ruang wilayah di setiap daerah. Selain itu, masalah yang dikeluhkan petani adalah tersedianya pupuk, bibit, dan pestisida.
Jokowi menyatakan, masalah bibit dipicu tidak adanya riset yang baik. Bibit lokal yang ada saat ini bukanlah varietas yang punya keunggulan. Sehingga, harus ada penelitian yang benar-benar menghasilkan bibit unggul.
Elmar Bouma, perwakilan dari International Bussiness Chamber mempertanyakan prioritas pemerintah mendatang untuk mengarahkan investasi asing di Indonesia. Menurut dia, ke depannya Indonesia masih tetap membutuhkan banyak investasi asing, tapi di sisi lain investor butuh kepastian dari pemerintah. “Apakah pemerintah prioritaskan investasi asing untuk industri hilir, substitusi impor, atau untuk industri padat karya?” katanya.
Menjawab pertanyaan itu, capres nomor urut satu Prabowo mengatakan, Indonesia membutuhkan investasi asing untuk mengejar ketertinggalan. Investasi asing diperlukan untuk mendukung kemajuan alat, teknologi, SDM, dan sistern logistik usaha nasional. “Dari hulu sampai hilir, semuanya butuh investasi dari luar,” kata Prabowo.
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Bobby Gafur Umar meminta agar calon presiden memiliki langkah konkret untuk mendukung industri nasional yang tangguh dan kompetitif. Ia menyayangkan saat ini Indonesia menjadi surga produk impor yang seharusnya bisa diproduksi sendiri. “Serbuan produk impor ke Indonesia naulai dari makanan, pakaian, sampai mobil dan produk besi baja,” ujar Bobby.
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s