Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Kompas » Trikarya Menentang Aburizal yang Pecat Pendukung JK

Trikarya Menentang Aburizal yang Pecat Pendukung JK


JAKARTA, KOMPAS — Tiga organisasi pendiri Partai Golkar atau Trikarya, yang terdiri dari Kosgoro 1957, MKGR, dan SOKSI, menentang kebijakan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang memecat tiga leader Golkar yang mendukung pasangan calon presiden-calon wakil presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
Ketiga kader Golkar yang dipecat itu adalah Poempida Hidayatulloh, Nusron. Wahid, dan Agus Gumiwang Kartasasmita.
“Keputusan (pemecatan) itu harus dianulir dan direhabilitasi. Kami tidak ingin ada pelemahan suasana demokrasi dan pelemahan kader,” ujar Ketua Umum Kosgoro 1957 Agung Laksono yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar dalam jumpa pers di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (25/6).
Trikarya menilai sanksi pemecatan itu terlalu berat, mengingat yang didukung tiga kader itu adalah Jusuf Kalla yang juga merupakan mantan Ketua Umum Golkar.
Anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Fahmi Idris, menilai Aburizal Bakrie tidak mampu menangani perbedaan.
“Ini, kan, perbedaan (pendapat), bukan perpecahan. Kemampuan Ical (Aburizal Bakrie) dalam memimpin (Golkar) lemah sekali,” ujar dia.
Kelemahan Aburizal, menurut Fahmi, terlihat saat Golkar sebagai pemenang nomor dua dalam Pemilu Legislatif 2014 justru mendukung capres dari Partai Gerindra yang berada pada posisi ketiga (Prabowo Subianto) dan calon wakil presiden dari Partai Amanat Nasional yang menempati urutan kelima (Hatta Rajasa).
“Setelah Musyawarah Nasional nanti kami pecat balik mereka,” kata Fahmi.
Fahmi menduga pemecatan terhadap tiga kader Golkar itu hanya modus. Suhardiman, sebagai pendiri Golkar, yang terang-terangan mendukung Jokowi-JK pun tak dipecat.
Menurut Fahmi, akibat kisruh di internal Golkar itu, justru akan lebih banyak kader Golkar yang bersimpati kepada pasangan Jokowi-JK.
“Awalnya, saya menghitung 60 persen suara Golkar ke JokowiJK, tetapi kini kira-kira sudah 70 persen (dukung Jokowi-JK),” ujar dia.
Hadir juga dalam konferensi pers itu Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) Zainal Bintang dan Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar
Sejauh ini tidak ada jumpa pers resmi dari DPP Golkar terhadap pemecatan tiga kadernya itu. Ketua Bidang Organisasi dan Daerah DPP Golkar Mahyudin yang memberikan informasi awal adanya pemecatan kader Golkar tidak merespons pertanyaan Kompas.
Secara terpisah, Wakil Sekjen Golkar Tantowi Yahya menyarankan tiga kader tersebut mengadukan pemecatan mereka kepada Mahkamah Partai.
“Ada aturannya. Coba selesaikan dulu masalah pemecatan kepada Mahkamah Partai. Jika tidak memuaskan, diselesaikan lewat jalur hukum,” ujar Tantowi.
Dia yakin tiga teman lamanya itu paham risiko dan sanksi dari partai. “Mungkin kaget saja karena dipecat,” ujar Tantowi.
Dia menilai pemecatan itu wajar karena anggota partai selain punya hak juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab.
Suara terbanyak di pileg
Seusai jumpa pers itu, Nusron menegaskan sebenarnya dirinya tidak peduli jika dipecat.
“Saya ini tidak rpengejar jabatan. Sebagai peraih suara terbanyak dari Golkar pada Pileg 2014, seharusnya saya menjabat wakil ketua DPR karena sudah dijanjikan dalam rapimnas,” uj arnya.
Namun, Nusron, yang berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah II, mengaku lebih memilih mendukung Jokowi-JK karena menginginkan perubahan.
“Kalau saya mau duduk mans dan pura-pura dukung Prabowo, sudah pasti jadi pejabat. Namun, saya tidak mau itu,” kata dia.
Dengan meraih lebih dari 240.000 suara, Nusron menempati peringkat keenam caleg dengan suara tertinggi.
“Katanya, suara Golkar adalah suara rakyat. Nanti rakyat akan memilih Jokowi-JK,” kata Nusron.
Pembelajaran berharga
Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh yang sebelumnya juga mendapat sanksi penonaktifan, kemarin, sanksi itu dibatalkan.
Saat dihubungi Kompas, Rabu, Adnan mengaku bare saja ditelepon pengurus DPP Golkar yang menyatakan keputusan penonaktifan dirinya telah dicabut.
“Kemarin (Selasa) sore, saya bertemu empat mata dengan Pak Ical. Penonaktifan ini akan dibawa ke jalur hukum jika tidak ditinjau kembali. Masak tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba banjir. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saya dinonaktifkan,” tutur Adnan.
Dia menilai, dalam dinamika politik menjelang pilpres, saat pilihan rakyat tidak mengacu pada partai, tetapi pada figur, semestinya Aburizal Bakrie bijak dan arif membaca situasi.
“Sikap gegabah seperti ini sama saja dengan memantik perlawanan dari arus bawah,” ujar Adnan.
Berdasarkan survei Political Communication Institute pada 16-20 Juni 2011, di tingkat akar rumput, pemilih Golkar pada pi- leg lalu yang memilih Prabowo-Hatta sekitar 48,6 persen, memilih Jokowi-JK 45,9 persen, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 5,4 persen. Hal itu dipaparkan Direktur Political Communication Institute Hen Budianto.
Hasil survei Litbang Kompas juga menemukan kondisi serupa. Suara pemilih Golkar dalam pileg lalu terbelah ke dua capres. (RYO/NAR)
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s