Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Koran Tempo » Sukarela Demi Sang Idola

Sukarela Demi Sang Idola


Koran Tempo 27 Juni 2014 Page 8 | Oleh Nur Alfiyah

Ketika mesin partai dianggap kurang bekerja keras, para relawan bergerak lebih giat menggalang simpati.
Kaus bergambar wajah Joko Widodo, calon presiden nomor urut 2, terbentang di tangan Riky Ardiyansyah. Dengan bersemangat, Riky berteriak persis seperti apa yang tertulis di belakang kaus itu. “Jokowi for president,” kata Riky di tempat sablon kaus di Pemalang, Jawa Tengah, medio Mei lalu.
Riky merupakan relawan pendukung Jokowi. Ia bersama Kukuh, sang pemilik usaha sablon, rela membuat kaus “Jokowi for President” itu sendiri, sejak sebelum Jokowi menjadi calon presiden. Awalnya, keduanya prihatin banyak pendukung Jokowi yang tak bisa mendapatkan cendera mata dari kader PDI Perjuangan. Tak ada pula bagi-bagi cendera mata idolanya itu, meski waktu itu PDI Perjuangan “menjual” Jokowi sebagai ikon pemilu legislatif. “Bahkan caleg DPRD dari PDI Perjuangan bilang tak ada saat diminta,” kata Riky.
Maka, Riky berinisiatif membuat kaus. Riky kemudian bergabung dengan relawan pemenangan Jokowi, Seknas Jokowi daerah Pemalang. Riky membuat 300 buah kaus bergambar Jokowi itu dan membagi-bagikannya ke tetangga serta relawan lain. “Lewat kaus ini, saya ingin mensosialisasi Jokowi,” kata dia sambil mengatakan minimnya politikus pengusung Jokowi memasyarakatkan calon presidennya ke pemilih.
Kader PDI Perjuangan yang tak turun ke bawah clirasakan oleh Koordinator Projo Jawa Timur, Machdan. Ia bersama relawan lainnya tak sekali pun bertemu dengan kader partai pengusung Jokowi selarna turun ke berbagai daerah di Jawa Timur sejak November 2013. Pertemuan baru terwujud manakala Projo mengundang mereka ke acara sosialisasi. “Kadang kami minta mereka untuk memberikan sambutan,” kata dia.
Machdan menduga para kader partai tak tampak lantaran mereka kelelahan setelah bertarung dalam pemilihan legislatif. Beberapa sumber Tempo lain juga mempertanyakan dukungan partai terhadap upaya memenangkan Jokowi-Kalla. Mereka menganggap struktur partai “mogok”.
Relawan pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, merasakan sebaliknya. Dodit, koordinator relawan Gerakan Rakyat Indonesia Baru wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat, melihat kehadiran kader partai itu, meski tak banyak. Ia merujuk pada kehadiran kader partai saat kampanye akbar Prabowo di Senayan. “Ada Partai Gerindra yang sedikit, mereka menggunakan dua bus, partai lainnya juga ada,” kata dia. Ketika itu, para pendukung Prabowo-Hatta unjuk atribut partai saat kampanye di Gelora Bung Karno.
Anggota tim pemenangan yang membidangi relawan JokowiKalla, Eva Kusuma Sundari, mengakui mesin partainya barn mulai bekerja belakangan. Menurut dia, para relawan bekerja lebih awal, yakni ikut mengerjakan tugas partai pengusung, seperti menggerakkan pemilih. “Mereka mengerjakan kekosongan tugas yang seharusnya dilakukan oleh partai,” ujarnya.
Sedangkan mesin partai, kata dia, selama ini mengurus masalah administrasi untuk memenuhi persyaratan pemilihan presiden di Komisi Pemilihan Umum. Seperti mengamankan pencoblosan, mengurus saksi, memastikan pendaftaran legal di KPU.
Meski demikian, Eva mengatakan, bukan berarti partai tak berupaya mendulang suara. Mereka ikut mengorganisasikan relawan. “Mereka tut wuri handayani,” katanya. Sekarang, kata dia, mereka hams sama-sama bekerja.
Direktur relawan tim pemenangan Prabowo-Hatta, Didik Hariyanto, merasakan hal yang sama. Kinerja relawan lebih banyak dari mesin partai. “Sebanyak 30-40 persennya dari partai, sisanya relawan yang bekerja,” ujarnya. Didik mencontohkan, dalam kampanye akbar di Senayan lalu, sedikit bendera partai terlihat di antara ribuan orang yang memenuhi Senayan.
Peneliti politik dari Poltracking Institute, Hanta Yuda, mengatakan kinerj a mesin partai turut mempengaruhi elektabilitas calon presiden. Berdasarkan survei yang dilakukan Poltracking pada 26 Mei-3 Juni lalu terhadap 2.010 responder, pasangan Jokowi-Kalla didukung sekitar 48,5 persen dan Prabowo-Hatta sebesar 41,1 persen. Selisih suara 7 persen di antara keduanya jauh lebih sempit dibanding survei Maret yang menunjukkan elektabilitas Prabowo 27,9 persen dan Jokowi 54,9 persen.
Peningkatan elektabilitas pasangan Prabowo SubiantoHatta Rajasa dinilai tak lepas dari peran mesin partai. ” Selama masa kampanye, mesin partai koalisi terlihat lebih bekerja dan lebih masif menggerakkan massa,” katanya. Kondisi berbeda terlihat dari kubu JokowiKalla. Pasangan nomor urut 2 ini lebih banyak disokong oleh kerja non-partai, seperti kelompok relawan. Kerja mesin partai, meskipun ada, tetap tak terlihat.
Menurut Hanta, dari segi efektivitas kerja, penggerakan dukungan oleh mesin partai pendukung Prabowo-Hatta lebih terorganisasi. Mesin partai ini sangat berperan dalam membangun isu dan mensosialisasi kelebihan Prabowo. Sedangkan dukungan untuk Jokowi-Kalla lebih berasal dari masyarakat dan terpencar-pencar. Mesin partai pendukung Jokowi-Jusuf Kalla kurang terlihat kerjanya.
Hanta mengakui, pada pemilihan presiden nanti,kedua mesin sosialisasi, partai dan nonpartai, akan mempengaruhi basil pemilihan presiden. “Pada akhirnya hasil pilpres akan ditentukan seberapa besar efektivitas kerja mesin kampanye dalam mendongkrak kedua pasangan.”
Koordinator relawan ProJokowi, Budi Ari Setiadi, mengatakan relawan yang tergabung dalam organisasinya sudah kerja keras. Soal mesh partai, menurut dia, itu akan terlihat saat pemungutan suara, 9 Juli nanti. • NUR ALFIYAH
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s