Home » PAGE 5.4 - Domestik Politik » Politik dan Pilpres 2014 » Hatta Lebih Konkret, JK Mudah Dicerna

Hatta Lebih Konkret, JK Mudah Dicerna


Republika 1 Juli 2014 Page 5 oleh Erdy Nasrul
Kapabilitas dan penguasaan materi Hatta dan Jusuf Kalla dinilai berimbang.
SEMARANG — Penampilan kedua kandidat dalam debat calon wakil presiden (cawapres) relatif berimbang. Keduanya memiliki kapabilitas dan menguasai materi.
“Kedua kandidat cawapres, baik Pak Hatta maupun Pak JK, memiliki pengalaman dan sejarah sebagai birokrat. Kapabilitas keduanya berimbang,” kata pengamat politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Teguh Yuwono, Rabu (30/6).
Pada debat cawapres bertema “Pembangunan SDM dan Iptek” yang berlangsung Ahad (29./6) malam, pengajar FISIP Undip itu menjelaskan, starting point (titik awal) program yang diambil keduanya berbeda sehingga masyarakat yang seharusnya lebih bisa menilai mana di antara kedua program yang dianggap unggul.
Ia mengatakan, Hatta Rajasa menggunakan program model pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bagus untuk membangun Indonesia lima tahun ke depan, baik pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sedangkan, kata dia, JK menawarkan sesuatu yang baru dalam bidang pendidikan dan teknologi, yakni revolusi mental yang menonjolkan pendidikan budi pekerti dan karakter.
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan menilai, gagasan calon wakil presiden Hatta Rajasa lebih konkret dibandingkan Jusuf Kalla. Menurut Taufik, paparan Hatta merupakan hal konkret karena dilakukan saat Hatta menjadi menristek atau kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Sehingga, Hatta tidak hanya ahli dalam dataran teori tapi juga memiliki jam terbang tinggi.
Menurut Taufik, Hatta melihat bahwa kemajuan iptek, pendidikan, dan ekonomi merupakan tiga hal yang berkaitan erat. “Ketiga hal ini saling konvergen dan menyatu dalam satu tarikan napas,” paparnya.
Taufik menambahkan bahwa gagasan Hatta berujung pada lembaga pendidikan yang aplikatif. Lembaga pendidikan yang menghasilkan anak didik selaras dengan penyedia lapangan kerja. “Dalam konteks ini maka tidak bisa dilepaskan dari aspek kesejahteraan tenaga pendidik dan guru-guru kita,” kata Taufik yang juga wakil ketua DPR RI itu.
Wakil Ketua DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Pramono Anung, menilai bahasa Jusuf Kalla lebih mudah dicerna ketimbang Hatta Rajasa. Pramono menyoroti beberapa kata yang disampaikan Hatta, seperti difusi (peleburan) dan invention (penemuan). “Rakyat Indonesia yang terdiri atas berbagai ma- cam golongan kesulitan memahami arti kata itu,” katanya.
Mantan sekjen DPP PDI Perjuangan itu menanggapi ada dua diksi berbeda dalam debat tersebut, yakni Jusuf Kalla lebih merakyat dengan bahasa keseharian, sedangkan Hatta dengan substansi maupun kompetensinya tentang persoalan ilmu pengetahuan dan teknologi. antara ed: muhammad fakhruddin
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s