Home » PAGE 5.4 - Domestik Politik » Politik dan Pilpres 2014 » Sikap Demokrat Prabowo Dipertanyakan

Sikap Demokrat Prabowo Dipertanyakan


Republika 2 Juli 2014 Page 5 oleh Irfan Fitrat

JAKARTA — Calon presiden dari koalisi Merah Putih Prabowo Subianto memaparkan pandangannya mengenai politik luar negeri dan kepentingan nasional di hadapan perwakilan berbagai kedutaan besar negara asing di Indonesia, Senin (30/6) malam. Ia berorasi dalam forum yang diadakan Indonesian Council on World Affairs (ICWA) di Hotel Borobudur, Jakarta, itu.

Dalam forum itu, sempat dibuka sesi tanya jawab. Seorang pengajar dari Australia menanyakan mengenai pandangan Prabowo akan demokrasi. Karena ia sempat mendengar ucapan Prabowo di salah satu acara yang menyebut demokrasi Indonesia merupakan produk Barat. Ia pun menanyakan apakah Prabowo sepakat dengan kepemimpinan otoritarian.

Prabowo memberikan penekanan arah pembicaraan saat itu mengenai konsep demokrasi. Bukan, menurut dia, membicarakan pemerintahan demokrasi dan otoriter. “Saya merasakan ke mana Anda mengarahkan pertanyaan ini,” kata mantan danjen Kopassus itu seraya tersenyum. Komentar Prabowo itu disambut tawa hadirin yang hadir.

Selama ini Prabowo mengaku ada yang berusaha membentuk citra dirinya. “Saya dicitrakan sebagai seorang yang antidemokrasi. Saya ingin pemerintahan otoriter. Saya ingin kembali pada Orde Baru.” Hadirin ada yang bertepuk tangan. “Mohon dipastikan saya demokratis. Saya percaya demokrasi,” kata Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu.

Prabowo mengatakan, sebagai tentara dia telah bersumpah dan berjanji untuk menjaga konstitusi Indonesia. Ia mengaku masih menjaga janji itu. Karena itulah Prabowo mengatakan terjun ke dunia politik. “Ini pemilihan ketiga saya. Jadi, saya ternpuh jalan yang susah. Saya tidak gunakan tank dan mengambil alih parlemen. Tidak,” ujar dia, yang kembali disambut tawa.

Karena itu, Prabowo membantah jika disebut ingin menghilangkan demokrasi dan sistem pemilihan langsung oleh rakyat.

Pernyataan Prabowo tersebut mendapat reaksi dari sejumlah kalangan. Pengamat politik Ray Rangkuti mengatakan, mestinya pernyataan itu diukur dengan melihat perjalanan hidupnya, dimulai sejak karier militernya hingga kesimpulan temuan surat Dewan Kehormatan Perwira (DKP) soal pemecatannya dari TNI. “Prabowo bahkan pribadi yang tidak disiplin,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (1/7).

Ray juga mempertanyakan, bagaimana sikap Prabowo di internal Partai Gerindra dalam merefleksikan dirinya sebagai seorang demokrat. Sejauh mana, kata Ray, iklim demokrasi itu tunibuh dan berkembang di internal partai. “Paternalistik, keputusan sepihak, nepotisme politik, adalah contohnya. Seperti parpol di Indonesia secara umum,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menilai pandangan ketua Dewan Pembina Gerindra ini, terhadap demokrasi yang dinilai kurang tegas. Terutama terhadap unsur yang kerap mengesampingkan demokrasi sebagai jalan hidup berbangsa. Pengelolaan negara dengan demokrasi penuh pun, lanjut Ray, dianggap kurang tepat untuk iklim Indonesia. “Demokrasi, bukan sekadar prosedur, berpolitik, dan ikut pemilu.”

Bagaimanapun, kata Ray, prinsip demokrat sajati adalah menjamin penegakan HAM, menjaga pluralisme, menegakkan hukum, dan memelihara kebebasan. Ray pun ragu, jika keempat pilar demokrat tersebut secara maksimal telah diperjuangkannya. ■ ed: muhammad fakhruddin

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s