Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Majalah Tempo » [OPINI] Soal Cover Majalah Tempo Edisi 14-20 Juli 2014

[OPINI] Soal Cover Majalah Tempo Edisi 14-20 Juli 2014

Berawal dari postingan dalam akun FB Jonru pada tanggal 13 Juli 2014 yang mengomentari cover Majalah Tempo edisi 14-20 2014. Berikut kutipannya :

Ketika Jokowi Terlibat pada Pembuatan Cover Majalah Tempo yang Isinya Penggiringan Publik “Klaim Kemenangan versi Quick Count”

Klaim kemenangan Jokowi yang didasarkan hanya pada quick count telah berhasil menggiring opini publik bahwa Jokowi merupakan pemenang pilpres 2014.

Dan opini publik tersebut kini diperkuat lagi oleh Majalah Tempo dengan cara membuat liputan berita dengan cover seperti terlihat pada gambar.

Dan SURPRISE!!!

Awalnya saya kira, foto di cover ini hanyalah hasil olah digital belaka. Ternyata oh ternyata, gambar di sebelah kiri menunjukkan bahwa Jokowi dilibatkan dalam proses pembuatan cover.

Apakah ini artinya Jokowi mendukung upaya penggiringan opini publik tersebut?

Mari bertanya pada rumput yang bergoyang

Dalam Website PKS Piyungan pun dipublikasikan kembali dengan menggunakan judul : Lucunya Cover Jokowi di TEMPO dengan materi kurang lebih sama dengan yang di akun FB Jonru.

Pada kolom Kompasiana yang dikirim oleh Samandayu dengan judul Ciee, Jokowi Jadi Sampul Majalah Tempo tanggal 13 Juli 2014,  juga mengomentari cover majalah Tempo itu. Berikut kutipannya :

JOKOWI jadi sampul utama Majalah Tempo. Dia terlihat memakai jas abu, dasi merah, daleman kemeja putih, sebagaimana yang sempat ia perlihatkan dalam dua debat capres cawapres pertama. Bedanya, dia memakai peci hitam. JKW kelihatan diarak oleh simpatisannya. Dikatakan simpatisan karena mereka sebagian memakai pakaian kotak-kotak merah ala taplak meja yang selama ini sudah jadi simbol kesederhanaan dan jiwa merakyat JKW. JKW tampak nyengir kuda di sana, lengkap dengan kedua tangannya yang menunjukkan angka dua, atau salam dua jari.

Sampul itu adalah sampul resmi Majalah Tempo edisi 14-28 Juli 2014. Awalnya banyak yang mengira itu hanya editan dan bukan sampul sesungguhnya. Sementara selama ini cover majalah Tempo selalu menarik dan provokatif. Masih ingat sampul karikatur Tempo sebelum pilpres? Di sana digambarkan sosok bergambar Jokowi bermain seruling di tempat paling atas yang disorak-soraki audiens yang rata-rata orang asing. Sementara sosok bergambar Prabowo memainkan seruling dengan berusaha keras sementara dirinya didukung dan ditertawai orang-orang di sekitarnya. Lengkap dengan gadis berwajah TiongHoa yang nempel di bagian bawah, yang menurut sebagian orang digambarkan sebagai representasi kasus Mei 98. Dan berbagai hal yang dianggap misteri, yang juga sudah dibahas di banyak forum semisal detik forum atau kaskus.

Kali ini Tempo kembali mengeluarkan sampul provokatif ini. Entah apa maksudnya? Apakah Tempo sedang berusaha menggiring opini publik seperti media yang banyak diduga partisan lainnya, untuk memberitahukan bahwa JKW adalah sang presiden terpilih? Atau dalam terbesit pesan kalau JKW hanyalah bagian dari euforia semu, dimana dia hanya sebatas menjadi “Presiden Quick Count”.

Mungkin seseorang harus membeli majalah tersebut untuk tahu apa maksudnya. Tapi banyak teman saya yang memutuskan untuk berhenti berlangganan harian atau majalah yang berpihak, atau keberpihakannya sangat kentara. Taruhlah menurut yang mereka akui adalah Tempo dan Kompas. Masyarakat perkotaan atau masyarakat akademis khususnya, sudah pintar dalam menyaring apa yang mereka dapatkan di media. Hanya sebagian masyarakat Indonesia yang bisa terbuai oleh pencitraan dan bombardir pemberitaan media massa yang “nakal” dan memihak. Entah apakah di luar Indonesia, demokrasi negara lain seperti itu. Tapi media-media ini semakin menunjukkan wajah asli mereka saat masa kampanye pilpres.

Menarik untuk ditelusuri, “kok bisa kayak gitu ya, niat amat bikin cover sampe ada session foto dgn sperti itu”. Well, searching dan kebetulan dapat informasi dari Catatan Baskoro yang dimuat dalam blog WordPress dengan judul Jokowi Dikerjain Wartawan Tempo. Baskoro sendiri merupakan jurnalis Tempo yang kebetulan ada saat pemotretan itu. Dalam blognya dia menceritakan ihwal itu terjadi. Berikut kutipannya :

Komunitas Tempo tak hanya kumpulan  orang yang serius dalam mengolah berita, tapi juga komunitas penuh keisengan dan keusilan. Saya tak tahu kenapa keusilan, keisengan, dan kejahilan luar biasa itu bisa tercipta. Mungkin salah satunya, berkat tak ada sekat-sekat di antara orang-orang itu sendiri. Sangat jarang di Tempo ada orang dipanggil “Pak.” Lebih banyak memanggil Mas, Mbak, Bang, kak  atau sebutan spesifik lainnya. Saya, misalnya, dipanggil Cak Bas  -mungkin mengacu asal kelahiran saya, lahir di Madiun dan besar di Surabaya.

Di rapat-rapat, misalnya, candaan atau olok-olok bisa muncul setiap detik. Bersahut-sahutan seperti mercon,  bahkan di tengah saat membicarakan usulan berita penting sekali pun. Karena itu pernah suatu ketika seorang jurnalis luar negeri yang ikut  rapat Tempo terbengong-bengong melihat kami rapat. “Rapatnya terlalu panjang,” katanya. (Ya jelas karena bercampur guyon itu…). Dan tanggapan wartawan Tempo yang mendengar kritik itu, seperti biasa, yang terucap hanya.” “he..he…he…iya memang..” Nah! Ini pula yang membuat Anies Baswedan Jumat kemarin geleng-geleng kepala saat melihat puluhan wartawan Tempo plus puluhan karyawati lain heboh menyambut sekaligus “mengerjain” Jokowi yang datang ke kantor Tempo. Kabar Jokowi datang ke Tempo itu sendiri sudah membuat ratusan warga sekitar Velbak –tempat kantor Tempo- datang berjubel di halaman parkir yang sudah dibersihkan untuk menyambut rombongan Jokowi. Calon presiden ini akan beranjangsana juga buka puasa di Tempo. “Jokowi yang meminta sendiri,” demikian kata salah seorang bos mengabarkan. Untuk  menu puasa Jokowi kami menyiapkan nasi pecel dan gudeg.

Saya masih di lantai dua ketika sekitar pukul 17.00 Jokowi datang. Ini hari Jumat dan saya berkutat dengan tugas menulis “opini,” untuk Majalah yang akan terbit Senin depan.  Hari ini semua naskah juga harus selesai. Saya sudah membayangkan naskah akan sedikit telat. Kenapa? Ya, karena ruangan tempat saya berada akan di setting sebagai “studi foto” untuk memotret Jokowi sekaligus tempat shalat magrib. Saya ketawa melihat sejumlah sajadah baru bertebaran di atas lantai itu. “Baru beli, juga sandal jepit itu. Untuk  Jokowi,” kata  seorang staf bagian umum.  Seorang teman wartawan tersenyum girang. “Lumayan kantor punya sajadah baru, dan sandal jepitnya nanti kita bagi-bagi…”

Sebelum Jokowi datang di ruang itu sudah muncul beberapa orang “pengawal” Jokowi. Seorang diantaranya, yang ternyata Danki Brimob (saya tidak menyangka lantaran berbaju sipil), mendekat ke meja saya. “Saya senang membaca Tempo,” katanya. Saya hanya menjawab “Heh….” (karena sedang konsentrasi melihat tulisan opini saya yang belum rampung itu). “Nggak nyangka wartawannya kayak gini, saya kira gimana..sangar-sangar..” ujarnya.  “Juga kantornya, saya kira gimana…” katanya lagi. Saya tersenyum. Saya tahu maksudnya. Kantor Tempo memang kecil –ruko-  tidak seperti dibayangkan banyak orang.  Kantor baru kami, yang berdelapan lantai di kawasan Palmerah,  baru selesai akhir tahun ini. (Itu pun mungkin belum seratus persen).
Tak berapa lama muncul Kendra, illustrator Tempo, membawa kertas, berbincang dengan fotografer Tempo. “Nanti kayak gini posisi Jokowi pas difoto,” ujarnya. Lalu dengan santai gambar itu digeletakkan begitu saja di meja saya. Dia ngeloyor pergi  -mungkin demikianlah memang tipe seniman.  Inilah ilustrasinya yang hampir saja dilemparkan seorang office boy ke kotak sampah…

Di depan para wartawan Tempo Jokowi tak banyak bicara. Ia juga menolak untuk diwawancarai (kendati toh akhirnya tetap saja bisa diwawancarai). “Saya ini kalau habis diwawancai Tempo pulangnya pusing. Pertanyaannya aneh-aneh,” katanya disambut ketawa semua yang berada di dalam ruangan.  “Saya ke sini karena kangen Tempo,” katanya.

Jokowi memang tak asing dengan Tempo. Sudah beberapa kali ia datang ke kantor Tempo dan berdiskusi dengan kami. Dulu ia juga menjadi salah satu dari sejumlah ”kepala daerah pilihan Tempo” (saat itu masih menjadi wali kota Solo) yang kemudian “Kepala Daerah Pilihan versi Tempo” itu  menjadi edisi khusus majalah ini.
Di Tempo, Jumat kemarin itu, Jokowi memimpin shalat magrib. Saya berada di belakangnya. Kesan saya, bacaan surat Alquran yang Jokowi bacakan biasa saja. Nada membacanya sama seperti kebanyakan orang Jawa dalam memimpin shalat .

Pada akhirnya memang yang paling heboh adalah sesi foto. Riuh rendah teriakan wartawan dan karyawan Tempo yang bersemangat mengikuti sesi foto  membuat suasana lantai dua benar-benar “kacau.” Jokowi akan diangkat dan diputar-putar.  Bambag Harymurti, CEO PT Tempo,  yang melihat sejumlah orang melakukan latihan untuk  mengangkat  Jokowi,  dengan iseng mendorong Anies Baswedan ke tengah. “Ayo angkat Anies..angkat Anies,” katanya. Dalam sekejab, teman-teman langsung menangkap Anies yang tak mengira akan dikerjain seperti itu.

Ada dua “skenario” pemotretan Jokowi. Pertama diangkat rame-rame dan  berdiri di samping bendera merah putih.  Sejumlah adegan pun diambil. Misalnya, sedang melihat handphone, sedang menelpon, dan melihat jam tangan. Lantaran Jokowi tak memakai jam, teman “pengatur gaya” dadakan terpaksa mencari jam dan memasangkan jam itu ke tangan kanan Jokowi. Terlihat besar dan aneh. “Pak Jokowi nggak pakai jam, jadi nggak usah ditambah-tambahin,” kata Anies. Akhirnya rencana mengambil foto “Presiden tengah  melihat jam ini” pun dibatalkan.

Semua sesi pemotretan ini diiringi kehebohan para wartawan dan staf karyawan Tempo yang memenuhi lantai dua dengan segala “minatnya.” Ada yang menonton ada yang berburu tandatangan ada minta foto bersama. “Semua orang Tempo tiba-tiba jadi selfi,” ujar seorang temen terkekeh. Ya, di manapun Jokowi melangkah, sejumlah karyawan Tempo mengajak berfoto atau minta tanda tangan: dari kaos bahkan handphone. “Harga handphonenya sih murah, tapi jadi mahal karena ada tanda tangan Jokowi,” kata seorang teman meledek  -mungkin sirik karena tidak dapat tanda tangan “Presiden Indonesia” ini.  Jokowi sendiri hanya tersenyum kecil tak berdaya -sekaligus pasrah-  menghadapi serbuan  fans-nya yang tak habis-habis itu….. Berikut foto-foto Jokowi yang saya ambil dari meja kerja saya yang tentu saja sudah tidak karu-karuan karena acara hiruk pikuk ini.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s