Home » PAGE 3.20 - Teknologi » Ilmu dan Teknologi » Kelelawar Pakai Kompas Cahaya

Kelelawar Pakai Kompas Cahaya

Kelelawar adalah mamalia pertama yang diketahui bisa mendeteksi polarisasi cahaya.

BELFAST — Kelelawar ternyata tak hanya menggunakan gelombang suara ultrasonik untuk melakukan navigasi, tapi juga menggunakan cahaya. Spesies kelelawar bertelinga tikus (Myotis myotis) menjadi mamalia pertama yang dikenal menggunakan cahaya terpolarisasi sebagai panduan ketika terbang.

Laporan studi yang dimuat dalam jurnal Nature Communication, 22 Juli 2014, menyebutkan kelelawar bertelinga tikus itu memanfaatkan sebaran cahaya yang terpolarisasi saat matahari tenggelam untuk mengkalibrasi komp as internal mereka. Gelombang cahaya yang terpolarisasi berada dalam posisi paralel satu sama lain dan merambat sejajar secara horizontal. Dengan panduan cahaya itu, mereka bisa terbang ke arah yang tepat.

Pola cahaya yang terpolarisasi biasanya mudah terlihat pada sudut 90 derajat dari posisi matahari ketika terbit atau terbenam. Namun studi itu juga menemukan bahwa kelelawar bisa melacak polarisasi itu setelah matahari terbenam atau saat langit berawan.

Stefan Greif, ahli biologi dari Queen’s University Belfast, Irlandia Utara, menyatakan teknik memanfaatkan cahaya terpolarisasi ini membantu kelelawar yang sering meninggalkan sarangnya selepas petang untuk berburu mangsa. Binatang itu kerap terbang ratusan kilometer dalam semalam dan kembali ke sarang sebelum faj ar untuk menghindari predator. “Sebelumnya tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa bernavigasi dengan baik,” kata Greif, yang memimpin riset.

Selama ini kelelawar dikenal menggunakan teknik echolocation untuk mendeteksi mangsa sekaligus berkomunikasi dengan sesamanya ketika terbang. Namun trik mengetahui lokasi lewat gema suara ini hanya efektif dalam radius 50 meter. Peneliti berasumsi hewan itu pasti punya teknik lain untuk memantau kondisi yang berada jauh di depannya.

Greif dan koleganya melakukan studi dengan mempelajari pola terbang 70 kelelawar yang dikenalkan dengan dua tipe polarisasi cahaya. Kelompok hewan yang dipasangi pelacak radio itu dilepas di dua lokasi berbeda di Bulgaria, sekitar 25 kilometer dari sarang mereka, pada pukul 1 pagi. Saat itu tak ada cahaya terpolarisasi yang tampak.

Kelelawar yang sudah melihat cahaya terpolarisasi ternyata terbang ke arah yang benar dibanding kelompok yang belum ditunjukkan hal serupa. Hal itu menunjukkan kelelawar memang menggunakan polarisasi cahaya sebagai panduan.

Binatang kerap menggunakan kombinasi dari teknik echolocation, penglihatan, posisi bintang atau matahari, bahkan medan magnet bumi sebagai panduan jalan pulang ke sarang.

Namun kelelawar bukan satusatunya binatang yang mahir membaca polarisasi cahaya. Lebah punya reseptor spesial pada matanya untuk mendeteksi polarisasi cahaya. Burung, ikan, hewan amfibi, dah reptil juga memiliki struktur sel khusus di mata untuk melihat polarisasi cahaya. “Kami belum tahu struktur apa yang digunakan kelelawar untuk mendeteksi polarisasi,” kata rekan Greif, Richard Holland, yang juga ahli zoologi dari Queen’s University Belfast. • NATURE I LIVESCIENCE

SCAN ARTICLE : Koran Tempo 25 Juli 2014 Page 12 oleh Gabriel Wahyu Titiyoga yoga@tempo.co.id

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s