Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Koran Tempo » Hakim Tak Kompak, Atut Divonis Ringan

Hakim Tak Kompak, Atut Divonis Ringan

Satu hakim menilai Atut pantas divonis bebas.

JAKARTA — Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menilai Gubernur Banten nonaktif Atut Chosiyah terbukti menyetujui pemberian uang Rp 1 miliar untuk Akil Mochtar — ketika itu Ketua Mahkamah Konstitusi — agar mengabulkan gugatan pemilihan kepala daerah Lebak. Sengketa itu diajukan Amir Hamzah dan Kasmin Saelani, pasangan yang disokong Atut.

“Meski terdakwa mengatakan namanya diperjualbelikan, setelah meneliti bukti dan keterangan saksi, majelis menilai terdakwa mengetahui dari awal dan menyetujui pemberian uang itu,” kata Sutio Sumadi, anggota majelis, ketika membacakan putusan kemarin.

Atas pertimbangan itu, majelis hakim yang diketuai Matheus Samiadji memvonis Atut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Putusan itu tidak bulat karena anggota majelis Alexander Marwata berbeda pendapat. Menurut dia, Atut pantas dibebaskan karena tidak terbukti mengurus pilkada Lebak.

Adanya hakim yang berbeda pendapat, menurut Matheus, menjadi salah satu alasan vonis tidak sama dengan tuntutan jaksa, yang meminta Atut dihukum 10 tahun penjara. “Majelis juga hanya berbekal petunjuk-petunjuk di persidangan,” kata Matheus.

Petunjuk keterlibatan Atut, menurut hakim, dimulai saat is memanggil Amir dan Kasmin di rumah dinas nya, September 2013. Atut meminta mereka turun ke lapangan jika sewaktu-waktu MK memutuskan pemilihan ulang. Pada 21 September 2013, kata hakim, Atut bertemu Akil di Imigrasi Bandar Changi, Singapura, meminta Akil mengawal sengketa pilkada Lebak. Keesokan harinya, Atut dan adiknya, Chaeri Wardana, bertemu Akil di Hotel JW Marriott, Singapura. “Terdakwa menanyakan apakah pemilukada (pilkada Lebak diulang) bisa dilakukan,” ujar Sutio.

Petunjuk keterlibatan Atut makin kuat, kata hakim, ketika pada 26 September 2013 Amir mendatanginya di kantor Gubernur Banten. “Amir melaporkan komposisi hakim (dari sembilan hakim MK), lima mendukung Amir, dan empat mendukung Iti Jayabaya (pesaingnya),” kata Sutio.

Saat itu, hakim menjelaskan, Atut meminta Amir menghubungi Akil untuk mengatur perkara tersebut di MK. Setelah itu, melalui pengacaranya, Susi Thr Andayani, Amir memberi tahu Chaeri bahwa Akil minta Rp 3 miliar jika mau menang. Saat itu juga Chaeri menghubungi Atut meminta persetujuan ihwal duit yang diminta Akil. “Enya sok atur, ntar di-ini-in,” kata Atut seperti ditirukan hakim. Pernyataan Atut ini dinilai hakim sebagai persetujuan Atut.

Setelah mendapat lampu hij au dari Atut, Chaeri menyanggupi memberikan uang kepada Akil lewat Susi, tapi hanya Rp 1 miliar. Ketika duit sudah dikuasai Susi untuk diserahkan ke Akil, KPK menangkap Susi di Lebak. Dari keterangan Susi, KPK mencokok Chaeri. Akil juga dicokok KPK. Chaeri dan Susi sudah divonis masingmasing 5 tahun penjara. Sedangkan Akil divonis seumur hidup dengan salah satu tuduhan terbukti menerima suap terkait dengan pilkada Lebak.

Kuasa hukum Atut, Andi F. Simangunsong, mengatakan pihaknya masih pikir-pikir atas putusan itu. Adapun Atut langsung menangis mendengar vonis itu. “Saya tidak punya kepentingan dalam pilkada Lebak,” kata Atut terisak.

Wakil Ketua KPK Busyro Muqqodas mengatakan lembaganya akan mengajukan banding atas putusan itu. “Kasus ini telah menodai demokrasi dan Mahkamah Konstitusi, serta melukai..rakyat setempat,” kata Busyro. [Anton Aprianto]

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s