Home » PAGE 3.8 - Korupsi dan Hukum » Korupsi dan Hukum » Sudah Tujuh Bulan, Atut Belum Disentuh

Sudah Tujuh Bulan, Atut Belum Disentuh

“Harus dituntaskan, supaya tidak terkesan tebang pilih.”

Komisi Pemberantasan Korupsi memastikan pihaknya dalam waktu dekat akan menetapkan gubernur nonaktif Banten, Atut Chosiyah, sebagai tersangka kasus dugaan pidana pencucian uang. Kasus ini merupakan pengembangan dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan Banten 2011-2013 yang tahap penyiclikarmya dimulai sejak Januari lalu.

“Nanti menjurus ke sana (TPPU). Masih ada kasus pemerasan dan tindak pidana alat kesehatan. Pencucian uangnya juga akan menyusul,” kata Ketua KPK Abraham Samad di Jakarta kemarin.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan pihaknya tengah mengkaji untuk membuat berkas terpisah kasus dugaan pemerasan dan korupsi alat kesehatan dengan tindak pidana pencucian uang. Alasannya, kasus dugaan pemerasan dan korupsi alat kesehatan hampir selesai penyidikannya. “Bisa tiga kali sidang,” kata Bambang.

Bersama adiknya, Chaeri Wardana, Atut disangka terlibat dugaan korupsi alat kesehatan sejak awal Januari lalu. Tapi nasib Atut lebih beruntung. thia pekan berselang setelah penetapan itu, komisi antikorupsi menetapkan Chaeri sebagai tersangka pencucian uang. KPK sudah menyita sekitar 70 unit mobil mewah dan puluhan properti milik suami Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany itu. Kasus ini masih tahap penyidikan.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mengaku sudah menyetorkan laporan basil analisis rekening mencurigakan milik Atut, jauh sebelum mantan Ketua Golkar itu ditetapkan sebagai tersangka. “LHA PPATK sudah disampaikan ke KPK,” kata Wakil Ketua PPATK Agus Santoso saat itu.

Dari informasi yang diperoleh Tempo, misalnya, pada 2011 tercatat tagihan kartu kredit Atut menumpuk sampai angka Rp 1 miliar. Pada Desember 2011, tagihan Atut mencapai sekitar Rp 50 juta. Bulan depannya, Januari 2012, menjadi Rp 500 juta. Namun itu bukan yang terbesar. Agus membenarkan soal ini. “Saya membenarkan soal ini. PPATK sudah mencurigai RAC (Atut) sejak 2011,” kata Agus.

Dua periode menjabat Gubernur Banten, plus menjadi penjabat Gubernur Banten pada 2005-2007, Atut melaporkan total hartanya Rp 42,9 miliar pada 2011 ke KPK. Dalam laporan itu, Atut menyebutkan sebagian besar kekayaannya diperoleh dari basil sendiri, terutama sebelum dia menjabat Wakil Gubernur Banten pada 2002.

Selain kasus ini, Atut terbelit dugaan suap Rp 1 miliar terhadap Akil Mochtar– ketika itu Ketua Mahkamah Konstitusi–untuk pengurusan sengketa pemilihan kepala daerah Lebak. Senin lalu, majelis hakim Pengadilan Korupsi Jakarta sudah memvonis Atut 4 tahun penjara dan denda Rp 200 juta dalam kasus ini. Dari lima hakim, ada satu hakim yang mengajukan pendapat berbeda (dissenting opinion). KPK dan Atut banding atas putusan tersebut.

Pengamat pencucian uang Yenti Garnasih menilai KPK terlalu lama menetapkan kasus dugaan korupsi pencucian uang Atut. “Hams dituntaskan, supaya tidak terkesan tebang pilih,” kata dia.

Pengacara Atut, Tubagus Sukatma, mengatakan hingga kini tak ada fakta kliennya melakukan pencucian uang. “Apalagi, hingga sekarang, KPK belum menempatkan klien sebagai tersangka pencucian uang,” ujar dia.  [Anton Aprianto ]

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s