Home » PAGE 3.10 - Kesehatan » Kesehatan » ASI Eksklusif Kurangi Risiko Penularan HIV

ASI Eksklusif Kurangi Risiko Penularan HIV

SUARA PEMBARUAN – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan agar ibu yang positif HIV tetap memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya. ASI eksklusif terbukti mengurangi penularan HIV dari ibu ke anak.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, WHO merekomendasikan bagi ibu yang mengidap HIV positif mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) dan tetap menyusui bayi. Ibu positif atau anaknya dapat diberi ARV selama periode menyusui dan sampai bayinya berusia 12 bulan.

“Ini artinya bayi masih bisa diberi ASI, sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan dari ASI dengan risiko yang sangat kecil terinfeksi HIV,” tutur Nafsiah pada Kongres Nasional II Ikatan Konselor Menyusui bersamaan dengan seminar “HIV dan Menyusui Mungkinkah?”, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Nafsiah menjelaskan, ASI adalah makanan terbaik dari Tuhan yang tidak bisa tergantikan dengan makanan apa pun untuk bayi. ASI memiliki nutrisi lengkap yang sangat dibutuhkan bayi dalam membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan tumbuh kembangnya. ASI mengandung ribuan sel imun hidup dan enzim yang melindungi bayi dari semua macam penyakit, termasuk risiko penularan HIV dari ibu.

Penelitian menunjukkan, bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif justru memiliki risiko lebih tinggi tertular HIV daripada yang mendapatkan ASI. Selain itu, angka risiko kematian pun meningkat bila bayi tersebut diberikan susu formula. Pemberian ASI eksklusif di 6 bulan pertama usia bayi bisa mengurangi 3-4 kali risiko dari transmisi HIV dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI dan asupan lain berupa susu formula atau makanan lain.

“Jadi, kalau ada yang melarang ibu positif HIV menyusui bayinya, dia berdosa besar karena membuat ibu dan bayi tidak mendapatkan haknya. Anda menghina Tuhan jika bilang ada pengganti ASI. Susu sapikan  untuk anak sapi, masa bayi kita disamakan dengan anak sapi,” ujar Menkes.

Pakar nutrisi dari Sentra Laktasi Indonesia dr Dian Nutjahjati Basuki menjelaskan, setiap cairan dalam tubuh memiliki konsentrasi tertentu terhadap penularan HIV. Bila antara cairan tubuh, seperti darah, sperma, air liur, ASI, urine, keringat, dan air ketuban dikumpulkan dengan vorume yang sama, maka konsentrasi penularan HIV tertinggi terjadi pada darah. Sedangkan sisanya, termasuk ASI dan ketuban, relatif lebih rendah. Misalnya, dalam darah konsentrasi penularan 100%, maka ASI hanya 15%- 20%.

Karena HIV dalam konsentrasi tertentu, maka pemberian ASI murni eksklusif tanpa tambahan lainnya mampu mengurangi risiko penularan. Ini memungkinkan karena ASI tidak secara langsung melekat pada sistem darah bayi, tetapi melalui pencernaan.

“ASI masuk ke dalam darah juga harus melalui pencernaan. Nah, dalam sistem pencernaan itu sudah mengurangi risiko penularan menjadi lebih kecil. Kecuali kalau saat menyusui itu, bayi dalam kondisi luka di mulut, lam-bung, dan saluran pencernaannya, atau ibu luka di payudara dan lainnya,” ucap Dian, kepada SP, di Jakarta, Selasa (2/8).

Tanpa Formula Apa Pun
Dian menegaskan, yang diberikan ke bayi harus murni ASI eksklusif, yaitu tanpa tambahan cairan atau formula apa pun. Sebab, dengan memberikan selain ASI, potensi virus HIV masuk ke dalam darah menjadi lebih tinggi. Pasalnya, dari cairan apa pun selain ASI yang diterima bayi kemungkinan besar membawa bakteri atau virus melalui saluran pencernaan akan menjadi pintu masuk virus HIV ke dalam darah.

“Sedangkan, ASI eksklusif bisa mencegah, karena selain melalui pencernaan, juga mengandung beragam enzim dan zat kekebalan yang bisa mencegah perlukaan di dalam saluran pencernaan,” kata Dian.

Dahulu, ungkap Dian, memang ada kekhawatiran ASI bisa menjadi penghantar penularan HIV dari ibu ke bayi. Teiapi, sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan pemberian ASI bisa dilakukan asalkan dengan cara diperah untuk mencegah penularan dari puting ibu yang terluka. Selain itu, ibu hamil positif HIV yang teratur mengonsumsi ARV juga mencegah penularan kepada anaknya.

Namun, menurut Dian, tata laksana penularan HIV dari ibu ke bayi hams komprehensif seperti yang sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan. Tata laksana orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sudah hams jauh-jauh hari. Pengobatan dilakukan sejak terdeteksi positif, masa subur, sebelum hamil, selama hamil, bersalin, dan menyusui.

Dengan mengonsumsi ARV secara teratur dan rutin memeriksakan kondisinya, jumlah viral load (jumlah virus dalam darah) semakin berkurang dan bahkan lambat laun tidak terdeteksi. Bila virus sudah tidak terdeteksi kemungkinan penularan melalui ASI pun semakin kecil, sehingga pemberian ASI jauh lebih bermanfaat. [D-13]

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s