Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » UU Perkawinan » Awal Menciptakan Peradaban

Awal Menciptakan Peradaban

Menikah adalah ikatan sakral nan agung. Dalam Islam, menikah berarti menyempurnakan separuh dari agamanya. Menikah penuh dengan nilai-nilai religi. Bagaimana tidak, sesuatu yang awalnya diharamkan, berubah hukum menjadi sesuatu yang dinilai mubah bahkan berpahala dan menjadi ibadah. Makna dalam pernikahan ini yang kadang terluput dari orang yang menikah. Menikah pada dasarnya menciptakan generasi saleh yang menjadi batu bata peradaban Islam. Namun, dengan dalih cinta, makna dalam ini kabur, salah satunya dengan kampanye nikah beda agama. Umat mesti menyadari hakikat pernikahan yang bukan berlandaskan cinta dan nafsu saja. Inilah yang ditegaskan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Dr Hamid Fahmy Zarkasyi. Berikut petikan wawancaranya bersama Wartawan Republika Hannan Putra.

Apa makna suci pernikahan?
Pernikahan bukan sekadar hubungan suami istri. Pernikahan itu adalah untuk menghasilkan generasi, yaitu anak-anak yang saleh yang kemudian akan mendoakan kedua orang tuanya. Sekarang, bagaimana anak-anak itu akan menjadi anak yang saleh, kalau orang tuanya beda agama. Anak-anak akan kebingungan memilih agamanya, apakah dia menjadi Muslim atau tidak.

Hadis soal ini jelas, “Setiap anak adam yang lahir ke dunia itu dalam keadaan fitrah (Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Muslim).

Di sinilah masalahnya, kalau orang tuanya menikah dengan orang yang berbeda agama, itu pasti ada persoalan. Pasti salah satu orang tuanya ingin anaknya mengikutinya. Inilah kasus yang banyak terjadi. Seperti kita lihat kasus nikah beda agama para antis yang marak di televisi.

Orang Islam yang menikah beda agama, mereka tidak berniat untuk menghasilkan waladun shalihun yad’u lahu (anak yang saleh yang akan mendoakan kedua orang tuanya).

Seberapat penting urgensi pernikahan dalam Islam?
Pernikahan dalam Islam kita sebut dengan mitsaqan ghalizha. Ikatan ini bukan hanya dengan manusia, tapi dengan Tuhan. Orang Islam laki laki yang menikah dengan wanita non-Muslim sekalipun, tugas utamanya adalah menjadikan dia Muslimah dahulu. Artinya, tetap tujuannya untuk menikah adalah untuk menciptakan kesalehan yang kemudian akan melahirkan anak yang saleh.

Apa maksud ayat, “salah satu tanda kebesaran Allah adalah menikah”?
Ada banyak hal dalam pernikahan itu yang menjadi tanda kebesaran Allah. Dalam Alquran kan disebutkan, salah satu tanda kebesaran Allah adalah Dia menciptakan makhluknya berpasang pasangan. Ada laki-laki dan perempuan. Menciptakan laki-laki dan perempuan itu hikmahnya agar mereka ini menikah. Dari pernikahan itu menghasilkan anak-anak yang menjadi penerus generasi.

Jadi, pernikahan itu bukan hanya sekadar hubungan suami-istri dengan dasar saling mencintai. Bukan hanya itu. Ada sesuatu yang agung di balik pernikahan itu. Inilah yang dijelaskan dalam ayat itu. Mereka yang menikah (beda agama) tanpa berdasarkan akidah, mungkin tidak membaca ayat ini. Bagi mereka hanya sekadar saling mencintai.

Inilah yang menjadikan alasan bagi mereka yang menghalalkan nikah beda agama. karena keduanya sudah saling mencintai, mengapa harus kita larang untuk menikah? Tapi mereka ini hanya bicara sebatas cinta. Mereka tidak membahas soal sesudah pernikahan. Mereka tidak mau tahu, bahwa ayat-ayat Alquran sebenarnya membahas perkara di balik pernikahan itu.

Inilah yang perlu kita pahami tentang makna menikah itu, bahwa menikah adalah menjalin ikatan dengan Tuhan di samping menjalin ikatan dengan manusia. Kemudian, ada ikatan pula dengan regenerasi. Di sini sebenarnya peradaban itu. Kalau kita bicara soal peradaban, menikah adalah awat peradaban manusia itu. Menikah berarti melahirkan peradaban, dari menikah, melahirkan keturunan, dan keturunan itu besar kemudian menikah laqi. Inilah hal yang agunq itu.

Bagaimana Islam memandu umatnya dalam memilih jodoh?
Hadisnya sudah jelas seal ini. Islam menuntun kita, agar pilihan kita tidak salah, kita disuruh untuk beristikharah. Istikharah tentu saja dengan ilmu. Jadi, memilih jodoh itu dengan itmu. Saat ini kan ketentuannya sudah jelas dari Nabi. Bagaimana keturunannya, hartanya, rupanya, dan agamanya. Ini kriteria yang sangat manusiawi sekali. Orang zaman sekarang pun, untuk menikah itu tidak sekadar karena cantik. Bukan sekadar cinta.

Jadi, kalau untuk menikah, harus jelas orang tua dan keturunannya seperti apa. Agamanya juga dilihat seperti apa. Kalau orang yang religius pasti akan mempertimbangkan aspek-aspek seperti yang di dalam hadis itu. Dia pasti akan berhati-hati untuk pernikahan yang nilainya sangat sakral itu. Hat-hat ini mungkin tidak akan nyambung dengan perspektif orang yang tidak beragama.

Apa fadhilah (keutamaan) menikah?
Menikah adalah solusi dari pengharaman zina. Masalah syahwat, kalau dia tidak ditampung dalam institusi pernikahan, dia akan merusak seluruh sistem yang ada. Dengan syahwat orang bisa mencuri, berjudi, membunuh, dan perbuatan kriminal lainnya. Tapi dengan menikah, orang akan sakinah (tenang). Tidak mungkin orang yang sudah sakinah akan bertaku buruk, misalkan selingkuh. Itu tidak mungkin.

Dari sinilah kita bisa menciptakan masyarakat yang baik. Bagaimana mungkin pernikahan yang cuma dasarnya karena cinta tadi itu bisa menciptakan sakinah? Bayangkan, hanya karena alasan berdasarkan cinta, hubungan pernikahan ini sudah bisa dilangsungkan. Entah model masyarakat seperti apa yanq akan lahir nanti?

Apa makna sakinah, mawadah, warahmah yang benar?
Orang yang sudah mempunyai sakan (rumah) dan mempunyai istri, intinya sudah mempunya tempat kembali (sakana) itu merasa nyaman. situlah dia nanti akan mencintai keluarganya. Kalau sudah sakinah (tenang) hubungan suamil istri itu akan baik. Jika berumah tangga tujuannya adalah untuk ibadah, pasti anak keturunan yang akan dilahirkan akan saleh.

Orang yang tidak sakinah dalam rumah tangganya, bagaimana dia akan membangun sebuah rumah tangga yang menciptakan generasi-generasi soleh. Mana mungkin generasi yang nantinya akan menjadi orang-orang besar akan lahir dari rumah tangga yang tidak sakinah. Apalagi tidak ada mawaddah dan rahmahnya. ■ ed: hafidz muftisany


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s