Home » PAGE 5.8 - Provinsi DKI Jakarta » Jakarta Metropolitan » Peminta-minta Meneror Penumpang

Peminta-minta Meneror Penumpang

KOMPAS — Berkali-kali dikeluhkan penumpang, para pemuda itu kembali muncul menebar keresahan. Kehadirannya pun dengan gaya serupa, menarasikan kisah pilu, nasib sebagai pengangguran, lalu meminta belas kasihan. “Jika Anda sopan, kami pun segan. Seribu dua ribu takkan membuat Anda miskin. Banyak orang nekat karena lapar.”

Kalimat itu meluncur dari seorang pemuda yang nyelonong naik bus Kopaja 502 rute Tanah Abang-Kampung Melayu. Saat para penumpang baru memulai perjalanan dari Tanah Abang ke tujuan masing-masing, Kamis (11/9) pekan lalu, Jakarta Pusat, pemuda bersuara serak yang mengenakan sandal jepit itu menunjukkan luka kakinya yang sudah jadi borok.

Hanya sekitar lima menit pemuda itu berkata-kata. Ia lalu menyodorkan topi sebagai penampung uang yang diminta dari penumpang.

Satu per satu penumpang dihampiri. Sebagian kecil saja yang sudi memberi uang. Kepada yang tidak memberi, pemuda itu berhenti sesaat. Menyenggolkan topinya untuk kedua kali, lalu menggerutu pergi.

Di rute Tana Abang-Kampung Melayu sepertinya para pemuda memiliki wilayah masing-masing. Sebab, pemuda bersandal jepit dengan luka di kaki itu hanya ditemui dari simpang Jalan Jatibaru-Abdul Muis hingga Jalan Kebon Sirih, jaraknya kurang dari 1 kilometer.

Di ruas jalan yang berbeda orang yang naik pun berbeda. Kondisi serupa hampir terjadi si semua rute bus reguler. Metromini jurusan Blok M-Pasar Minggu dan Blok M-Tanah Abang yang Kompas tumpangi paling tidak ada empat kali orang nyelonong masuk bus bergantian, lalu meminta uang ke penumpang.

Di bus rute Slipi-Cawang, pemuda peminta-minta itu biasanya naik dari Slipi ke Semanggi atau dari Semanggi ke Cawang. Tidak hanya bus, angkutan kota pun tak lepas dari sasaran mereka, seperti yang terjadi di Pasar Rebo-Pusat Grosir Cililitan. Mereka bergelandot di pintu angkot seraya meminta uang ke penumpang. Deretan kenyataan itu mengurangi kenyamanan penumpang angkutan umum.

Putri Kurnia (23), pegawai bank, dua kali ditodong pemuda yang minta-minta uang di bus kota. Peristiwa teror itu pertama dia alami saat naik angkutan umum 06 jurusan Kampung Melayu-Gandaria. Pengalaman kedua saat dia naik kopaja jurusan Tanah Abang-Terminal Kalideres.

“Muka mereka seram. Kalau tidak dikasih uang, mereka bersumpah serapah. Sebenarnya saya tidak rela memberi, tetapi akhirnya saya terpaksa, deh, memberi juga,” kata Putri.

Menurut Putri, pengalaman itu membuatnya enggan menggunakan angkutan umum selain bus transjakarta. “Saya hanya naik angkutan umum kalau sudah kepepet,” ujar Putri.

Pemerasan
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, meminta uang di angkutan umum merupakan modus pemaksaan yang sudah’ ada sejak lama. “Tahun lalu kami menangkap tangan sekitar 20 orang. Mereka mendapat vonis hukuman penjara beberapa bulan hingga beberapa tahun tergantung tingkat kejahatan dan keyakinan hakim,” ujar Rikwanto.

Rikwanto meminta masyarakat melaporkan apabila ada orang yang meminta uang dengan cara memeras, mengancam, atau memaksa. Hal itu dapat dikategorikan sebagai premanisme. “Kami sudah menempatkan anggota polisi di tempat-tempat keramaian untuk mencegah kekerasan dan agar masyarakat merasa aman. Masyarakat dapat segera melapor apabila menemukan kejahatan,” kata Rikwanto.

Sementara sopir tak kuasa menolak kehadiran para pemuda itu. Ari (41), sopir bus metromini, pernah diancam seorang pengamen tanpa alat musik. Ari menolak memberi uang kepada pengamen saat dia lepas kerja menjadi sopir. Pada saat Ari memberi tabu dirinya sopir, pengamen itu malah mengancam Ari dengan kata-kata kasar.

“Sebenarnya tidak apa-apa kalau mereka hanya bernyanyi sambil tepuk tangan. Asal tidak memaksa, penumpang pasti tidak masalah,” kata Ari, yang sebelum menjadi sopir juga pernah mengamen.

Ketua Kopaja Nanang Basuki memahami keluhan penumpang terkait kehadiran peminta-minta tersebut. Keluhan itu akan diperhatikan dan ditelusuri kebenarannya. Keluhan serupa pernah diterimanya di wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Setelah itu manajemen Kopaja menyelesaikannya dengan melibatkan petugas keamanan di rute Cengkareng.

Untuk menjaga keamanan dan kelancaran operasional, Kopaja menempatkan petugas keamanan di setiap rute. Penumpang sebenarnya dapat melaporkan keluhan itu kepada petugas yang dimaksud. Namun, sejauh ini, penumpang belum dapat mendeteksi ciri-ciri petugas yang dapat menjadi tumpahan menyampaikan keluhan.

Premanisme di fbu Kota selayaknya menjadi tantangan bagi Kapolda Metro Jaya yang baru Irjen Unggung Cahyono. Bukankah dia sudah berjanji memberi rasa aman bagi warga? (A14/A06/NDY/RTS)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s