Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Republika » Menlu: Diplomasi Islam Tangkal ISIS

Menlu: Diplomasi Islam Tangkal ISIS

DEPOK — Kekuatan diplomasi dibutuhkan untuk menangkal penyebaran gerakan terorisme Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) alias Negara Islam (IS). Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari mengungkapkan, umat Islam dapat mengambil bagian dalam cara yang disebutnya sebagai soft power.

“Soft power ini salah satunya juga dengan menebar dan menebarkan semangat Islam Indonesia yang damai,” ujar dia dalam seminar internasional bertajuk “Konflik dan Proses Demokratisasi di Timur Tengah” yang diselenggarakan International Conference of Islam Scholars (ICIS) di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok, Kamis (30/10).

Dikatakannya, gerakan baru ISIS diwaspadai seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Propaganda dan gerakannya berhasil menarik “pejuang” dari berbagai negara. Oleh karena itu, is berterima kasih kepada masyarakat Islam Indonesia yang menunjukkan wajah Islam cinta damai. Masyarakat dunia pun dapat melihat karakter Islam yang sejuk.

Terkait konflik di Palestina, Menlu menjelaskan, Pemerintah Indonesia secara aktif telah berupaya menghentikan serangan Israel di Gaza. RI pun mendukung perdamaian antara kedua negara konflik tersebut. “Buktinya, kita telah menyusun 128 proker peningkatan kapasitas pendukung perdamaian di Palestina,” tuturnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebut, Indonesia berpeluang menjadi model penerapan demokrasi yang baik dalam agenda menata peradaban dunia. Alasannya, Indonesia berpengalaipan dalam penerapan demokrasi sejak merdeka pada 1945. Terlebih, dengan kondisi Indonesia dalam konteks hubungan antarumat beragama dan negara dengan agama.

Menurutnya, para pendiri bangsa sejak awal telah menyadari untuk membangun Indonesia yang multietnik tidak dengan negara Islam juga bukan sekuler. “Karena perbedaan itu alami dan niscaya, meski akan menimbulkan masalah jika kurang mampu memahaminya,” tuturnya.

Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) M Nashihin Hasan mengungkapkan, penerapan sistem demokrasi dapat dengan mulus diterapkan negara dengan karakter civil society yang kuat seperti Indonesia. Menurutnya, hal tersebut sulit dipraktikkan di Timur Tengah karena terdapat sistem kekuasaan kerajaan mengakar.

“Ada hal yang bersifat ideologis, ekonomis, yang bisa menjadi penghambat penerapan demokratisasi di Timur Tengah,” kata Nashihin Hasan. Faktor penghambat lainnya ialah dugaan bahwa demokratisasi adalah suatu komponen asing untuk menguasai sumber daya alam di Timur Tengah. Menurutnya, hal tersebut menimbulkan dampak ideologic sehingga timbal kelompok-kelompok pengadang demokratisasi.

Oleh karena itu, kehadiran tokoh ulama se-Indonesia, para aktivis keagamaan serta undangan dari unsur pemerintah dan pemuka agama Timur Tengah diharapkan dapat menunjukkan kepada mereka betapa baik proses demokrasi di Indonesia. Di tengah masyarakat mayoritas Muslim yang beragam etnis, keyakinan, bahasa, dan ragam lainnya. ■ c78 ed: a syaLaby ichsan

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s