Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Media Indonesia » Lulusan Sekolah Kejuruan Dominasi Pengangguran

Lulusan Sekolah Kejuruan Dominasi Pengangguran

Scanned Article | By Irene Harty
Siswa sekolah kejuruan sejatinya dibekali keterampilan yang diperlukan oleh dunia kerja. Kenyataannya?

[Media Indonesia, p2] Ingat tayangan iklan SMK Bisa di televisi beberapa tahun lalu? Niat pemerintah, kala itu, menggembar-gemborkan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai pionir di dunia kerja, kini perlahan-lahan menyurut.

Adalah Badan Pusat Statistik (BPS) yang merilis data angkatan kerja dan pengangguran dalam kurun setahun terakhir.

Dalam survei pada Agustus 2014, lembaga penyurvei pelat merah tersebut mencatat sebanyak 809.280 (11,24%) lulusan SMK tidak bekerja alias menganggur. (Lihat Gambar 1)

Gambar 1

“Jumlah ini berkurang sedikit dibandingkan dengan periode Agustus 2013, yaitu sebanyak 829.540 (11,21%) lulusan SMK tidak terserap di pasar kerja.

“Pemerintah perlu mempeihatikan informasi ini. Lulusan SMK seharusnya langsung bekerja. Penyerapan lulusan SMK di pasar kerja tergantung kerja sama dengan perusahaan,” kata Kepala BPS Suryamin kepada wartawan, kemarin.

Menurut Suryamin, dengan angka 11,24% itu, berarti lulusan SMK mengambil porsi terbesar tingkat pengangguran terbuka.

Pada periode Agustus 2014 itu pengangguran tamatan diploma I/II/III mencapai 6,14%, sedangkan lulusan universitas sebesar 5,65%.

Secara akumulasi total pengangguran pada Agustus 2014 mencapai 7,24 juta atau menu- run 6,17% dari Agustus 2013 sebanyak 7,41 juta. Jumlah angkatan kerja hingga Agustus 2014 mencapai 121,87 juta dan jumlah usia kerja sebesar 182,99 juta.

Pergeseran
Peningkatan pengangguran dari kalangan berpendidikan tinggi, lanjut Suryamin, ber banding terbalik dengan penyerapan tenaga kerja yang naik dalam setahun terakhir, yakni sampai 9,79% dari sebelumnya 9,35%.

Sebaliknya, kalangan berpendidikan rendah yang terserap di pasar kerja menurun dari 65,95% menjadi 64,83%. Sektor penyerap tenaga kerja yang menduduki peringkat teratas ialah sektor pertanian. Disusul sektor perdagangan, jasa kemasyarakatan, dan sektor industri pengolahan.

“Ada pergeseran dari petani guram di sektor primer atau tersier. Kami belum menyurvei lebih jauh lagi berapa persentase formal dan informalnya,” ungkap Suryamin.

Tingginya jumlah lulusan SMK yang gagal terserap di pasar kerja juga diakui oleh . Kepala BPS Nusa Tenggara Barat (NTB) Wahyudin. Di salah satu provinsi yang menjadi lumbung beras nasional itu, lulusan SMK yang menganggur tercatat 13,88% dari 127.710 orang pengangguran hingga Agustus 2014.

Wahyudin menambahkan struktur pekerjaan di NTB hingga Agustus 2014 tidak mengalami perubahan, yakni sektor pertanian, perdagangan, jasa kemasyarakatan, dan sektor industri masih menjadi primadona penyerap tenaga kerja.

Saat menanggapi tingginya lulusan SMK yang tidak terserap di pasar kerja, Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Achmad Jazidie memaklumi karena Man berkurangnya jumlah lapangan pekerjaan saat ini.

“Walaupun demikiAn, kami terus melakukan sejumlah langkah antisipatif, yakni menambah bekal siswa. SMK dengan keterampilan kewirausahaan,” jelas Jazidie.

Jazidie berharap kelak lulusan SMK tidak hanya mencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja.

“Seorang lulusan SMK diharapkan memiliki soft skill yang memadai,” ujar Jazidie.

Lalu akankah iklan SMK Bisa kembali tayang? (Bay/Ant/X-4)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s