Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Kompas » Solidaritas Memudar

Solidaritas Memudar

By HRS | Scanned Article | Page 3

Kebinekaan dan Demokrasi Jadi Modal Dasar

YOGYAKARTA, KOMPAS — Dalam beberapa tahun terakhir, solidaritas kebangsaan masyarakat Indonesia mulai memudar. Untuk membangun kembali solidaritas kebangsaan dibutuhkan pemimpin yang demokratis, menjunjung tinggi keberagaman, dan mau melindungi hak-hak warga.

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X saat menyampaikan orasi kebangsaan dalam pembukaan Retret Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Selasa (4/11) malam, di Yogyakarta.   

Menurut Sultan, memudarnya solidaritas kebangsaan antara lain terlihat dari maraknya konflik sosial, radikalisme agama, dan praktik politik uang. Kondisi itu didorong oleh tiga faktor. Pertama, globalisasi yang membuat transfer kebudayaan dan tata nilai jadi sangat mudah. Kedua, munculnya radikalisme di sebagian kelompok masyarakat sebagai reaksi terhadap globalisasi. Ketiga, perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat cepat.

“Setiap hari media massa menyuguhkan aneka tragedi kerapuhan kebangsaan kita. Jika krisis itu tidak diatasi, semangat kebangsaan kita akan makin rapuh,” ujar Sultan.

Irouisnya, lanjut Sultan, banyak elite politik yang tidak menunjukkan keteladanan dalam membangun solidaritas. Bahkan, maraknya konflik di antara elite politik, seperti yang sekarang masih terjadi di DPR, justru dapat mendorong memudarnya rasa persatuan sebagai bangsa.

“Para pemimpin di atas selalu bertengkar, cuma sekadar berebut kekuasaan. Semua ini membuat kita bertanya, benarkah kita suatu bangsa?” tanya Sultan.

Sultan menuturkan, Presiden Joko Widodo harus membangun kembali solidaritas kebangsaan masyarakat Indonesia dengan mendasarkan diri pada dua hal, yakni kebinekaan dan demokrasi. Keberagaman masyarakat Indonesia merupakan fakta yang tak bisa ditolak dan harus jadi modal membangun persatuan. “Kita telah ditakdirkan untuk beragam. Maka, keragaman harus jadi kekuatan kita,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Sultan, juga sudah mempunyai pengalaman membangun gerakan demokrasi. Dengan demokrasi, keinginan setiap kelompok bisa didengarkan.

“Kita menaruh harapan besar kepada presiden Baru untuk mengurai benang kusut ini. Namun, ini bukan hanya tanggung jawab Presiden, tetapi juga generasi muda,” papar Sultan.

Generasi muda
Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI Lidya Natalia Sartono mengatakan, generasi muda Indonesia, termasuk kader PMKRI, harus mengambil peran dalam memperbaiki kondisi bangsa. “Arah perjalanan bangsa kita kini tidak jelas. Dalam situasi semacam itu, generasi muda harus kembali bergerak,” ujarnya.

Ketua Forum Komunikasi Alumni PMKRI Hermawi Taslim menambahkan, generasi muda bisa aktif di organisasi nergerakan untuk menambah pengetahuan sekaligus berkontribusi untuk perbaikan kondisi bangsa.

Menurut Hermawi, banyak alumni organisasi pergerakan yang mampu memberikan sumbangsih bagi masyarakat. Namun, organisasi pergerakan mahasiswa harus tetap independen dan tidak terlibat dalam kepentingan politik sesaat. (HRS)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s