Home » PAGE 3.10 - Kesehatan » KB, Keluarga Berencana » KB Menurut Ulama Indonesia

KB Menurut Ulama Indonesia

By Hafidz Muftisany | ScannedArticle | Page 10, Dialog Jumat

REPUBLIKA, — Pembahasan tentang Keluarga Berencana (KB) seolah tak pernah habis diurai. KB identik dengan penggunaan alat kontrasepsi untuk mengatur atau membatasi keturunan. Pemakaian alat kontrasepsi menarik dari sisi kajian fikih kontemporer. Pasalnya, pada zaman Rasulullah SAW belum ditemukan alat atau obat untuk mencegah kehamilan.

Pendapat-pendapat para ulama global tentang alat kontrasepsi terbelah. Ada yang sepakat, ada pula yang menolaknya. Lalu, bagaimana dengan pendapat ulama Tanah Air?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya berfokus pada hukum vasktomi dan tubektomi sebagai salah satu cara yang digunakan dalam KB. MUI dalam Keputusan Komisi Fatwa Tahun 1979 mengeluarkan fatwa haram terhadap vasektomi. Alasannya, pemandulan secara umum dilarang dalam agama. Selain di Indonesia, belum ditemukan dan dibuktikan jika vasektomi atau tubektomi dapat disambung kembali.

Fatwa MUI saat itu ditinjau kembali dan dikuatkan pada 2009. Alasan peninjauan kembali fatwa tersebut adalah sudah ditemukannya cara’ menyambung kembali saluran sperma yang dipotong dalam proses vasektomi. Penyambungan kembali frekanalisasil ini bisa ditakukan oleh ahli urotogi dengan menyambung saluran spermatozoa (vas deferen) melalui operasi.

Namun, dalam temuan MUI berdasarkan penjelasan ahli ginekotogi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Farid Anfasa Moeloek, kemampuan untuk memitiki anak setelah rekanalisasi akan menurun. Penurunan kemampuan memiliki anak ini juga tergantung dari lamanya vasektomi yang dijalani.

Dengan dasar tidak ada jaminan kepulihan tingkat kesuburan setelah rekanalisasi, Komisi Fatwa MUI tetap memutus haram hukumnya melakukan vasektomi. Komisi Fatwa tetap mendasarkan hukumnya pada Alquran surah al An’am ayat 151, “Dan jangantah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin Redaksi yang kurang lebih sama juga termaktub dalam Alquran surah al-Isra ayat 31.

Mengenai vasektomi, ulama dari Nandlatut Ulama (NU) membatasi bolehnya penggunaan alat kontrasepsi selama tidak mematikan fungsi keturunan secara muttak. Jika proses penjarangan ketahiran merusak. atau menghitangkan bagian tubuh yang berfungsi, itu hukumnya haram.

Forum Bahtsul Masail NU mengambil dasar hukum dari pendapat Imam Syibramalis. Menurut beliau, ada dua cara pencegahan kehamilan. Jika mencegah total, hukumnya haram. Jika mencegah hanya secara temporer, hukumnya mubah karena diqiyaskan dengan az1 (mengeluarkan sperma di luar ketamin istri).

Imam Zarkasyi berpendapat tidak haram menggunakan sesuatu yang dapat mencegah kehamilan sebelum ketuarnya sperma ketika berkumput. Hukumnya makruh bagi wanita menggunakan sesuatu yang dapat memperlambat kehamilan dan haram jika mencegah kehamilan secara total.

Dengan mengambil hukum bolehnya kontrasepsi sementara, ulama NU pada dasarnya juga memperbolehkan penggunaan spiral (IUD). Namun, syarat penggunaan IUD sangat ketat. Bagi utama NU, yang boleh memasang ke wanita adatah suaminya sendiri. Pasalnya, memasang spiral harus melihat aurat mughalazhah sang wanita. Jika bukan suaminya atau tidak sesuai syara, hukum pemasangan IUD jatuh ke haram.

Dalam kitab al-Oulyubi Juz III hataman 211 yang menjadi rujukan NU, masalah aurat tawan jenis disebutkan bahwa jika melihat itu haram, memegang itu lebih kuat keharamannya.

Majelis Tarjih MUhammadiyah dalam keputusannya tentang KB memberikan pandangan secara umum. Beberapa poin yang mesti diperhatikan menurut Majelis Tarjih adalah pencegahan kehamitan yang berlawanan dengan ajaran Islam jika niatnya memang segan memiliki anak. Selain itu yang dilarang juga merusak atau mengubah fisik, seperti memotong, mengikat, dan sebagainya.

Melakukan penjarangan kelahiran diperbolehkan menurut Muhammadiyah jika ada kondisi darurat atas pertimbangan kesehatan. Namun, itu harus dengan persetujuan suami-istri dengan sudah meminta pertimbangan dokter ahli dan ahli agama.

Kondisi darurat yang dimaksud di atas dijabarkan Majelis Tarjih dengan dua hal. Pertama, mengkhawatirkan kesehatan ibu karena mengandung atau melahirkan sesuai keterangan dokter. Kedua, mengkhawatirkan keselamatan agama akibat faktor kesempitan kehidupan, termasuk ekonomi, sehingga dikhawatirkan kaum Mustimin jatuh dalam menerima hal-hat yang haram dengan alasan memenuhi kebutuhan anak. ■


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s