Usia Menikah Perempuan Minimal 21 Tahun

Republika 11 Feb 2015 oleh Ira Sasmita | Sejumlah aktivis dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) dan Yayasan Pemantau Hak Anak mengajukan uji materi mengenai batas umur pernikahan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada September 2014. Mereka meminta batas usia menikah 16 tahun dinaikkan.
Sebelum MK mengeluarkan putusan, pemerintah terdiri atas Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga mendorong agar batas usia perempuan menikah dinaikkan.
Pelaksana tugas kepala BKKBN Fasli Jalal mengatakan, BKKBN sejak awal sebenarnya sudah menyatakan posisi yang jelas. “Bahwa jangan menikah sebelum berumur 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki,” kata Fasli dalam diskusi di kantor YKP, Jakarta, Selasa (10/2).
Aturan dalam UU Perkawinan, menurut Fasli, sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini. Apalagi bila melihat risiko perkawinan pada usia di bawah 21 tahun. Pernikahan bagi perempuan berusia di bawah 21 tahun, menurutnya, menimbulkan risiko negatif terutama bagi ibu dan bayi. Mulai dari risiko penyakit kanker rahim, anemia, hingga kematian ibu dan bayi.
Pernikahan dini juga erat hubungannya dengan tingkat perceraian pada pasangan. Pernikahan bagi anak di bawah 21 tahun, menurut Fasli, juga bertolak belakang dengan hak asasi anak. Lantaran pada usia di bawah 21 tahun itu anak berhak mendapatkan pendidikan dan hak-hak lainnya.
Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang Agama Siti Khadijah mengatakan, data United Nations 2011, Population Facts menyebutkan, bahwa Indonesia di tingkat internasional merupakan negara dengan praktik perkawinan anak tertinggi ke-37 dari 63 negara.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2008 mencatat, perempuan usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 18 tahun di daerah perdesaan mencapai 33,5 persen. Sedangkan di perkotaan mencapai 18,8 persen. Dari aspek kesehatan, menurut Siti, perempuan yang melahitkat usia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin, dibandingkan dengan kelompok usia 20-24 tahun.
Data UNICEF mencatat 70 ribu kematian tiap tahun pada anak perempuan usia 15-19 tahun yang disebabkan oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan. Sementara hasil penelitian UGM menunjukkan, sekitar 14 persen bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah tujuh tahun lahir prematur. “Dari sisi psikologis, perkawinan pada usia anak dapat mengganggu kesehatan jiwa, yaitu pada saat anak dihadapkan pada urusan rumah tangga.”
Kasubdit Bina Kesehatan Perlindungan Anak Kementerian Kesehatan Mujaddid mengatakan, penelitian terakhir menunjukkan, kematian ibu berusia di bawah 20 tahun mencapai 92 persen. Sementara, kematian pada ibu berusia di bawah 20 tahun mencapai 34 persen. Di samping kematian bayi, lanjut Mujaddid, perilaku seks pranikah yang sering mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan dapat menghasilkan tindakan aborsi.

Sementara, di Indonesia praktik aborsi tidak dilegalkan sehingga remaja tidak tahu tempat aborsi yang aman, aborsi yang tidak aman sangat berisiko menyumbang kematian ibu atau remaja tersebut. Karena itu, menurut Mujaddid, upaya menekan risiko negatif akibat perkawinan usia dini akan optimal jika didukung oleh konstitusi. 
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s