Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Mungkinkah Kematian Bisa Ditunda?

Mungkinkah Kematian Bisa Ditunda?

Banyak yang percaya kematian dipicu jantung yang berhenti berdetak sehingga pemompaan darah keseluruh tubuh terhenti dan berakibat tubuh berhenti bekerja.

PENELITIAN terbaru oleh pakar saraf dari University of Michigan, Jimo Borjigin, mengungkap bahwa itu lebih ditentukan kiriman sinyal ke jantung dari otak daripada organ jantung itu sendiri. “Orang biasanya fokus pada jantung, berpikir bahwa jika menyelamatkan jantung, otak juga akan selamat. Anda harus memutuskan komunikasi kimia antara otak dan jantung untuk menyelamatkan jantung,” kata Borjigin.
Untuk mengungkap hal itu, Borjigin memaparkan karbon dioksida ke tikus menginduksi kejadian henti detak jantung. Menjelang kematian, ilmuwan mengamati aktivitas jantung dengan echocardiography (ECG) dan electroencephalography (EEG) serta sinyal kimia pada dua organ itu.
Awalnya, denyut jantung turun tajam, tapi kemudian aktivitas otak juga menjadi sinkron dengan aktivitas jantung.
Saat jantung dan otak sinkron, peneliti melihat banyak aliran zat kimia saraf, terlihat dopamin (perasaan senang) dan norepinefrin (perasaan waspada).
Sinkronisasi antara jantung dan otak dibiarkan hingga mencapai tahap fibrilasi ventrikel, yaitu kontraksi sangat cepat dan tidak beraturan pada ruang bawah jantung dan memperlihatkan reaksi pencegahan pemompaan darah oleh jantung.
Akan tetapi, ketika peneliti memblokade aliran zat kimia saraf tersebut, fibrilasi ventrikel dapat tertunda. Hal itu dilakukan dengan memutuskan tali tulang belakang tikus.
Namun, Borjigin menyatakan semua ini baru dilakukan kepada tikus. Akan muncul banyak pertanyaan yang ditujukan ketika berbicara pengaplikasiannya terhadap manusia.
Melalui pengamatan tersebut pula, Borjigin menyebutkan akan mencari tahu apakah terdapat cara untuk memutus zat kimia saraf dengan membentuknya menjadi obat tanpa harus memutus sumsum tulang belakang. Tentunya, ketika itu ditemukan, akan dapat membantu memperpanjang perawatan yang dilakukan petugas kesehatan terhadap reaksi yang dapat terjadi pada manusia.
Lebih lambat
Dalam penelitian sebelumnya, tim peneliti dari Institute of Health Aging di University College London, lnggris, telah menemukan kematian dapat terjadi lebih lambat.
Penelitian itu mengamati proses kimia yang terjadi sebelum kematian tiba pada cacing. Namun, ke depan penelitian akan diperluas pada manusia, demikian dilansir Daily Caller, 26 Juli 2013.
Para peneliti menemukan proses kematian cacing tidak terjadi pada seluruh bagian tubuh secara sekaligus. Itu terjadi secara perlahan-lahan. Biasanya, akibat dari sebuah penyakit, sel-sel pada cacing tidak mati secara bersamaan, tapi satu per satu.
“Kami mengidentifikasi jalur kimia penghancur tubuh cacing yang menyebabkan sel-selnya mati. Itu dapat kami lihat dari sinar fluoresensi yang menyala di tubuh cacing,” kata David Gems dari Institute of Health Aging di University College London.
Untuk diketahui, fluoresensi ialah pancaran sinar oleh suatu zat yang telah menyerap sinar atau radiasi elektromagnet lain. Fluoresensi banyak digunakan dalam bidang mineralogi, gemologi, sensor kimia (spektroskopi fluoresensi), penandaan fluoresen, pewarnaan, dan detektor biologi.
“Ketika cahaya fluoresensi itu memudar, menandakan cacing itu telah mati. Namun, kami melihat memudarnya cahaya itu terjadi secara perlahan-lahan,” tambah Gems.
Temuan itu telah menciptakan persepsi baru bahwa pemadaman cahaya fluoresensi dapat diblokade terlebih dahulu untuk menunda kematian dengan menyelamatkan sel-sel yang masih dalam keadaan baik.
“Kami sedang memikirkan cara Untuk mengganggu proses kimia yang menyebabkan kematian sehingga kematian bisa ditunda,” tutup Gems.

Beberapa istilah kematian dalam Tanatologi
Tanatologi ialah baglan dan ilmu kedokteran forensik yang mempelajari hal-hal yang ada hubungannya dengan kematian dan perubahan yang tetjacti setelah seseorang mati dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
Mati Somatis
Terjadi akibat terhentinya fungsi ketiga sistem penunjang kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernapasan secara menetap (ireversibel) Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernapasan dan suara pernapasan.
Mati Suri
Mati suri (near-death experience (NDE), suspend animation, apparent death) ialah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan oleh alat kedokteran sederhana. Dengan alat kedokteran yang canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.
Mati Seluler (Mati Molekuler)
Kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul beberapa saat setelah kernatian somatis. Daya tahan hidup setiap organ atau jaringan berbeda-beda. Pengertian ini penting dalam transplantasi organ.
Mati Serebral
Kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel, kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya, yaitu sistem pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.
Mati Otak (Batang Otak)
Dengan diketahuinya mati otak (mati batang otak), dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi sehingga alat bantu dapat dihentikan.
Perubahan tubuh setelah kematian:
§  Kerja jantung dan peredaran darah terhenti      
§  Kulit pucat
§  Pernapasan berhenti    
§  Terjadi relaksasi otot

§  Refleks cahaya dan kornea mata hilang
Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s