Home » PAGE 5.7 - ISLAM dan Muslim Indonesia » Khazanah Ramadhan » Kolom Opini Oleh Ahmad Ubaidillah, "Bangun Moralitas Lewat Puasa"

Kolom Opini Oleh Ahmad Ubaidillah, "Bangun Moralitas Lewat Puasa"

KORAN JAKARTA, — Bulan puasa telah tiba. Inilah aktu untuk menjernihkan hati dari dosa. Apa makna yang bisa dipetik dari ibadah yang bersifat personal ini? Apakah puasa hanya sebatas tidak makan, minum, atau berhubungan seks? Memang, secara sederhana itulah makna puasa. Diperlukan kesabaran tinggi dan perjuangan gigih.

Dalam konteks lebih luas puasa mengajarkan menunda kesenangan yang bersifat sementara sebagimana kenikmatan dunia. Manusia harus mengejar yang abadi yaitu berjumpa dengan Allah. Sayang, manusia sering tergoda kenikmatan-kenikmatan sesaat dan mengorbankan yang abadi dengan bertindak jahat.

Manifestasi lanjutan akibat menurutkan nafsu rendah berupa pengejaran hal-hal yang bersifat temporer adalah amburuknya akhlak. Kebobrokan akhlak ini sungguh luar biasa dampaknya bagi kehidupan manusia-manusia lain. Efektinya, tidak peduli sesama, tidak mau tahu orang miskin, selalu mementingkan diri sendiri.

Seorang pejabat publik ketika kehilangan kendali, menggunakan wewengan dan kekuasaannya secara sewenang-wenang. Tindakan korup, misalnya, tidak hanya merendahkan martabat bangsa, tetapi juga merugikan keuangan negara. Bisa dibayangkan ketika seorang pemimpin sudah tergoda kesenangan-kesenangan duniawi dan lupa bertanggung jawab kepada Tuhan, maka akan mengabaikan kepentingan rakyat.

Mereka tidak melayani kepentingan rakyat. Tindakan mereka akan membangkrutkan moral bangsa dan negara, sehingga sulit maju. Dari sejarah dapat dilihat bahwa bangsa tepuruk karena kehancuran moral. Ini yang perlu direnungkan secara baik- baik para pejabat negara.

Tindakan mengutamakan kesenangan sesaat yang dilakukan masyarakat umum pun berdampak signifikan bagi masyarakat lain.

Dia akan cenderung melakukan hal- hal negatif. Kekacauan tata sosial tinggal tunggu waktu. Memfitnah, merampok, memperkosa, apalagi membunuh sebetulnya menjerumuskan diri sendiri ke lembah hina.

Inilah gambaran sederhana manusia yang sudah menggelanyutkan diri pada kesenangan sesaat. Manusia yang memiliki integritas moral dan kesadaran religius tinggi akan jauh dari tindakan jahat. Godaan datang bila rapuh akhlak.

Karena itu, ramadan harus dijadikan olah ruhani terus-menerus untuk menahan kesenangan-kesenagan sesaat guna mencapai karunia abadi di akhirat kelak. Dunia ini memang penuh tipu daya setan yang begitu canggih dan memikat. Hanya orang-orang yang selalu ingat akan Allah bisa lepas dari kelekatan dunia.

Pesan Moral
Puasa merupakan salah satu cara mendekatkan diri pada Allah. Bukan hanya puasa yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang sering kita lupakan tetapi semua ibadah yang sebetulnya merupakan latihan spiritual (riyadhah) untuk mendidik nilai moral.

Etika manusia digembleng.
Di dalam puasa atau ibadah lain ter- kandung pesan moral. Bahkan begitu mulianya pesan moral ini, sampai Nabi Muhammad Saw menilai “harga” suatu ibadah sejauh mana manusia menjalankan pesan moralnya. Apabila ibadah tidak meningkatkan akhlak, tidak bermakna. Dengan kata lain, manusia ti- dak melaksanakan pesan moral ibadah. Ada sebuah cerita menarik dalam sebuah hadis. Pada bulan ramadan ada seorang wanita sedang mencaci-maki pembatu. Rasulullah mendengarnya dan menyuruh seseorang un- tuk membawa makanan serta memanggil perempuan itu. Katanya, “Santaplah makanan ini.” Perempuan itu menjawab, “Saya sedang berpuasa.” Rasul berkata lagi, “Bagaimana mungkin kamu berpuasa, padahal mencaci-maki pembantumu. Sesung- guhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal-hal yang tercela. Betapa sedikitnya orang berpuasa dan betapa banyaknya orang kelaparan.”

Ini mau menunjukkan bahwa orang-orang yang hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi tidak sangggup mewujudkan pesan moral iba- dah, tidak lebih dari sekadar orang-orang yang lapar dan haus saja. Apakah manusia mau merasakan lapar dan haus, sedangkan kita tidak mendapat apa-apa dari lapar dan haus tersebut? Tentu saja, tidak mau bukan?

Beberapa tahun lalu, sebagaimana dikutip Jalaluddin Rakhmat (2008) dalam bukunya Membuka Tirai Kegaiban: Renungan-renungan Sufistik, puluhan rektor universitas Amerika berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan. Mereka seakan tersentak ketika Dr Benjamin E Mays, Rektor Morehouse College, Georgia, berkata, “Kita memiliki orang-orang terdidik yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi lebih banyak. Namun kemanusiaan kita berpenyakit. Bukan pengetahuan yang kita butuhkan. Kita sudah punya pengetahuan. Kemanusiaan sedang membutuhkan yang spiritual.” Jean Jaques Rousseau, filsuf Prancis pun pernah mengatakan dengan nada sama, “Semakin banyak orang pandai, semakin sulit dicari orang jujur.”

Thomas Merton, penulis buku yang sangat terkenal Mysticism in The Nuclear Age mengatakan, “Anda tidak bisa menyelamatkan dunia hanya dengan sebuah sistem. Anda tidak bisa meraih kedamaian tanpa kedermawanan. Anda tidak bisa mendapat keteraturan sosial, tanpa orang-orang suci, kaum mistis, dan para nabi.”

Tidak ada suatu sistem, teori, ideologi atau apa pun namanya, lanjut dia, yang dapat menyelamatkan dunia dari krisis. Kita memerlukan orang-orang suci yang dengan sinar rohaninya memancarkan kasih sayang dan menerangi kegelapan. Lebih rabun pandangan, lebih banyak sinar diperlukan. Dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran seorang “manusia suci” daripada seribu “manusia nalar.” Lalu siapa manusia suci menurut Islam itu? Dialah dalam Alquran surat Yunus ayat 62-64, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawa- tiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu kemenangan besar.”

Kemudian siapa manusia takwa itu? Dialah wali-wali Allah yang semula mati kemudian dihidupkan dan diberikan cahaya terang. Dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.

Intinya, keyakinan dan ketakwaan mampu menggerakkan individu-individu untuk membangun peradaban yang unggul dan bermoral. Tepatlah ungkapan Alfred L Kroeber, antropolog, budaya asal Amerika Serikat, dalam karyanya Configurations of Culture Growth. Katanya, “I can not think of a single people which first evolved a high science, philoshopy, art, and thereafter a religious pattern (Saya tidak melihat seseorang lebih dulu mencapai level tinggi di bindang ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan baru kemudian agama). Agama tidak lain moral itu sendiri. Penulis mahasiswa Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s