Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Republika » Artikel oleh Ahmad Fikri Noor, "NU Minta Umat Hormati Perbedaan Lebaran"

Artikel oleh Ahmad Fikri Noor, "NU Minta Umat Hormati Perbedaan Lebaran"

REPUBLIKA, — Umat Islam mesti bisa menghormati perbedaan pandangan dalam penentuan awal 1 Syawal 1436 Hijriyah yang terjadi di kalangan ormas Islam. Pasalnya, setiap ormas memiliki metode masing-masing dalam menentukan tanggal 1 Syawal yang menjadi Hari Raya Idul Fitri. “Imbauannya, masyarakat bisa menerima perbedaan meski idealnya tidak perlu ada perbedaan,” kata Ketua Pengurus Besar Nandlatul Ulama Slamet Effendy Yusuf kepada Republika, Rabu (8/7).

Slamet mengatakan, PBNU menerapkan metode rukyat dalam menentapkan tanggal 1 Syawal. Berbeda dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal. Masing-masing pihak teguh dengan pendiriannya.

“Kalau memang mau sendiri-sendiri ya mau bagaimana lagi?” kata Slamet.

Meski begitu, Slamet mengaku, perbedaan bisa dihilangkan dengan kembali ke kebiasaan lama, yaitu dengan menyandarkan putusan kepada pemerintah. Hal ini sejalan dengan isi Alquran surah Annisa ayat 59 yang menyuruh untuk menaati Allah, Rasulullah, dan ulil amri atau pemerintah.

Slamet mengatakan, perbedaan yang ada sekarang mesti diterima dengan kebesaran jiwa. Ia pun mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat tidak membesar-besarkan perbedaan pendapat ini. “Kita harus terima ini sebagai sebuah perbedaan pendapat dan mudah-mudahan perbedaan ini menjadi rahmat.”

Slamet juga meminta sidang itsbat penentuan awal Syawal digelar terbuka. Menurutnya, dengan sidang terbuka, masyarakat bisa lebih teredukasi terkait pengetahuan proses penentuan awal bulan penanggalan Hijriyah. “Baiknya terbuka supaya rakyat bisa belajar,” ujar Ketua MUI ini.

Menurut Slamet, publik berhak mengetahui proses sidang itsbat. Selain untuk keterbukaan, hal itu juga bisa mengedukasi masyarakat.

Penentuan awal bulan Hijriyah kerap menimbulkan polemik terutama untuk Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah. Slamet menjelaskan, Muhammadiyah menggunakan metode wujudul hilal. Sementara, katanya, PBNU dan organisasi lain menggunakan metode rukyat yang bersumber dari hadis sahih Rasulullah SAW.

Sebelumnya, sidang itsbat penentuan awal Ramadhan 1436 Hijriyah yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama berlangsung tertutup. Ketua Pengurus Besar Nandlatul Ulama (PBNU) itu lantas mempertanyakan tujuan tersebut. “Kemarin ada sidang rukyat tertutup. Mengapa harus tertutup?” kata Slamet.


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s