Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Koran Tempo » Sumiati Anastasia, "Menteri Agama, Vatikan, dan Islam"

Sumiati Anastasia, "Menteri Agama, Vatikan, dan Islam"

KORAN TEMPO 29/8 Page 15, — Dengan segala kerendahan hati, kami mengundang Paus Fransiskus untuk berkenan berkunjung ke Indonesia,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam rangka kunjungan Kardinal Pietro Parolin dari Secretary of State Vatikan di ruang kerjanya, Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2015. Menurut Lukman, kunjungan itu bisa meneguhkan semangat dialog antar-umat agama dan memperlihatkan kehidupan keagamaan di Indonesia (Tempo.co, 13 Agustus 2015).

Tokoh Nandlatul Ulama, Ahmad Mustofa Bisri, menyambut positif undangan tersebut. Sebab negara-negara lain akan dapat belajar dari kebinekaan Indonesia, sedangkan kita bisa belajar dari Paus dan Vatikan, yang selalu menaruh hormat dan penghargaan kepada Islam.

Sebenarnya relasi IndonesiaVatikan sudah terjalin lebih dari 65 tahun. Para Paus sebelum Fransiskus, seperti Paulus VI dan Yohanes Paulus, pernah berkunjung ke Indonesia. Para pemimpin Indonesia, antara lain Sukarno dan Soeharto, sudah pernah bertemu dengan Paus. Ketika berkunjung ke Vatikan, mantan presiden yang juga Ketua Umum PBNU saat itu, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mengungkapkan rasa terima kasihnya atas beasiswa bagi mahasiswa Islam asal Indonesia dan kerja sama yang baik antara Vatikan dan Indonesia. Kita tentu juga masih ingat, ketika muncul rencana invasi Sekutu yang dimotori Amerika Serikat ke Irak pada 2003, para tokoh lintas agama kita, seperti KH Hasyim Muzadi, menemui Paus Yohanes Paulus II dan bersama-sama menentang rencana itu.

Vatikan sendiri selama ini dikenal sangat apresiatif terhadap Islam, apalagi Islam Indonesia. Di tengah radikalisme agama, mendiang Paus Yohanes Paulus II menyebut umat Islam Indonesia sebagai penganut Islam yang sejati karena sangat cinta damai. Dalam dokumen Nostra Aetate, Gereja Katolik pun mengakui kebenaran dalam agama-agama lain, termasuk Islam. Dokumen itu disahkan dalam Konsili Vatikan II pada 28 Januari 1965. Sebelumnya, ada ajaran bahwa “di luar gereja, tidak ada keselamatan”.

Sebagai konsekuensi keluarnya Nostra Aetate, pasca-Konsili Vatikan II, Takhta Suci membentuk Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-Agama, termasuk dengan Islam. Vatikan juga kerap membela kepentingan Islam dari kalangan anti-Islam. Ketika ada ribut-ribut coal pelarangan jilbab di beberapa negara Eropa, seperti di Prancis, Vatikan tampil sebagai penentang larangan tersebut. Vatikan juga mendukung bangsa Palestina.

Meski demikian, Vatikan tidak bermaksud mengecilkan konflik yang pernah terjadi dalam sejarah antara Islam dan Kristen. Karena itu, dalam dokumen Nostra Aetate, Gereja menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahan di masa lalu.

Dokumen itu hendak menyadarkan .pembaca nya bahwa konflik bisa terjadi di mana pun. Yang seagama tapi beda mazhab saja bisa saling mengkafirkan serta berkonflik berdarah-darah. Antar-saudara kandung pun bisa berkonflik. “Pernahkah ada suatu zaman dalam sejarah manusia yang luput dari konflik?” tanya Ralph Holloway (1967).

Namun pengalaman perang agama (Katolik vs Protestan) selama 30 tahun di Eropa pasca-reformasi menyadarkan Vatikan bahwa dialog lebih baik daripada perang. Karena itu, Vatikan-Indonesia bisa menjadi pelopor dialog untuk mengembangkan sikap saling mengerti, menghargai, bertoleransi, bekerja sama, dan mewujudkan perdamaian antar-umat agama.


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s