Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Koran Tempo » Jatah Kursi Komisioner Perempuan untuk Ombudsman

Jatah Kursi Komisioner Perempuan untuk Ombudsman

“Pansel harus berani membuat terobosan mencari figur yang berpengaruh positif.”

KORAN TEMPO, 1/9 Page 8
— Panitia Seleksi Calon Pemimpin Ombudsman RI memperpanjang masa pendaftaran selama satu pekan setelah menerima berkas dari 136 peserta. Perpanjangan masa pendaftaran ini menjadi dalih panitia untuk menjaring lebih banyak lagi pendaftar. Seperti halnya Panitia Seleksi Calon Pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dan Komisi Yudisial, Pansel Komisi Ombudsman juga menggunakan sistem jemput bola.

Anggota Panitia. Seleksi dari Organisasi Masyai-akat Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan, salah satu alasan perpanjangan adalah jumlah peserta perempuan sangat minim, yakni hanya 12 orang. Panitia ingin membuka kesempatan bagi aktivis dan akademikus perempuan untuk ikut memimpin Ombudsman. “Perempuan adalah salah satu kelompok marjinal yang selama ini menghadapi diskriminasi dalam pelayanan publik,” kata Anis.

Anggota Pansel dari aktivis perempuan, Zumrotin Susilo, mengatakan peserta bergender perempuan diharapkan dapat bersaing dan lobos, sehingga mampu memimpin lembaga pengawas pelayanan publik tersebut. “Kalau ada laki-laki dan perempuan, akan balance,” kata Zumrotin. Baik Anis maupun Zumrotin tak secara gamblang mengungkapkan panitia memberikan jatah kursi khusus bagi calon bergender perempuan.

Panitia hingga saat ini masih berada di tahap awal, yaitu membuka pendaftaran peserta. Nantinya, panitia akan menggelar pelbagai rangkaian seleksi, seperti wawantara, penelusuran rekam jejak, dan tes kesehatan. Panitia akan mengajukan 18 nama kepada Presiden Joko Widodo untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat yang menentukan sembilan komisioner periode 2016-2020.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, Yogi Suprayogi, mengatakan, tak ada alasan yang signifikan antara perpanjangan masa pendaftaran dan upaya penjaringan peserta perempuan. Menurut dia, Ombudsman lebih membutuhkan sosok calon berkualitas dan berani memperjuangkan seluruh rekomendasi lembaga tersebut yang kerap tak dilaksanakan.

“Indonesia punya banyak stok tokoh yang berkualitas,” kata Yogi. “Tak perlu dihiasi dengan isu gender.”

Yogi menilai sosok populer dan berpengalaman sangat penting untuk membangkitkan Ombudsman menjadi lembaga yang lebih “bergigi”. Ombudsman, kata dia, saat ini sekadar menjadi lembaga yang berdiri karena titah undang-undang tanpa ada kemampuan tindak lanjut. Lembaga pengawas ini juga dinilai lemah dalam koordinasi dengan daerah, yang justru mendominasi 70 persen dari seluruh masalah pelayanan publik.

“Pansel harus berani membuat terobosan baru mencari figur untuk memberikan pengaruh positif pada Ombudsman ke depan,”kata dia.

Seolah sepakat, Komisioner Ombudsman Bidang Penyelesaian Laporan Pengaduan Budi Santoso menilai sosok pemimpin lembaga tersebut tak bergantung pada gender. Sosok pemimpin Ombudsman yang lebih penting adalah orang yang kerap berkecimpung dalam dunia pelayanan publik. Kandidat dengan pengalaman seharusnya mendapat nilai tambah karena tak akan mendapat kesulitan memimpin lembaga tersebut.

Soal jemput bola, “Asalkan Pansel tetap independen terhadap sosok yang dijemput,” kata Budi. “Calon itu tetap harus mengikuti seluruh proses dan prosedur.”
Penulis : Fransisco Rosarians


Selesai, tapi Belum Tuntas

Komisioner Ombudsman RI periode 2011-2016 mengklaim telah menyelesaikan banyak laporan dan pengaduan yang masuk selama hampir 4,5 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, lembaga pimpinan Danang Girindrawardana ini setiap tahun menangani ribuan laporan yang-tak semuanya kelar.

Contohnya, pada 2014, ada 6.679 laporan yang masuk, tapi hanya bisa diselesaikan 59,7 persen atau sekitar 3.987 laporan. Ombudsman juga telah mengeluarkan 70 rekomendasi, tapi hanya 39 rekomendasi yang telah dilaksanakan untuk memperbaiki pelayanan publik.

1. Penangkapan Bambang Widjojanto
Ombudsman memeriksa laporan kasus pelanggaran maladministrasi penangkapan pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi Bambang Widjojanto. Lembaga tersebut menyampaikan adanya sembilan pelanggaran yang dilakukan oleh Polri. Di antaranya, tak ada surat penangkapan dan penggeledahan, serta ikutnya Komisaris Besar Victor Simanjuntak yang bukan penyidik dalam penangkapan.

Ombudsman meminta Polri memberikan sanksi bagi Kepala Sub-Direktorat VI Bareskrim Kombes Daniel Bolly Tifaona dan Victor. Namun Polri justru memberikan promosi. Bolly naik menjadi Kepala Kepolisian Resor Bekasi dan Victor menjadi Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus.

2. Gereja GKI Yasmin Bogor
Ombudsman memeriksa polemik panjang antara jemaat Gereja Kristen Indonesia Yasmin dan Wali Kota Bogor. Dalam rekomendasinya, Ombudsman menilai Pemerintah Kota Bogor telah melakukan maladministrasi karena tak melaksanakan fatwa Mahkamah Agung untuk memberikan izin membangun tempat, ibadah.

Wali Kota Bogor Arya Bima mangkir dari panggilan Ombudsman.

3. Pengadilan HAM Ad Hoc
Ombudsman mengeluarkan rekomendasi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dinilai maladministrasi terhadap rekomendasi Dewan Perwakilan Rakyat soal penyusunan Keputusan Presiden tentang Pengadilan HAM ad hoc kasus penghilangan orang pada 1997-1998. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menjawab surat Ombudsman yang tak menunjukkan titik terang.

4. Dwelling Time Empat Pelabuhan
Ombudsman mencatat adanya maladministrasi dalam proses masa tunggu dan bongkar-muat di empat pelabuhan, yaitu Tanjung Priok, Jakarta; Tanjung Perak, Semarang; Belawan, Medan; dan Soekarno Hatta, Makassar. Ombudsman memberikan catatan kepada enam menteri dan empat direktur utama Pelabuhan Indonesia.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s