Home » PAGE 3.10 - Kesehatan » Farmasi » 90% Bahan Kimia Obat dari Impor

90% Bahan Kimia Obat dari Impor

Advertisements

Saat ini, industri farmasi Indonesia hanya berkutat pada pengembangan formula. Tidak ada penelitian intensif untuk pengembangan obat sintetis yang berasal dari alam.

PERTUMBUHAN industri farmasi di Indonesia sampai saat ini dinilai masih belum maksimal. Hampir 90% bahan sintetis kimia untuk obat yang diproduksi di Indonesia adalah hasil impor.

Kurangnya teknologi untuk menunjang pengembangan industri farmasi menjadi salah satu faktor penyebab yang masih sulit dihindari. “Karena itu, jadi banyak impor. Hal itu jadi kendala pengembangan industri farmasi, apalagi saat kurs dolar meningkat kuat seperti sekarang ini,” ujar Dekan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (UI) Mandi Jufri pada   seminar pameran hasil riset inovatif bidang farmasi di Depok, kemarin.

Dikatakan Mahdi, teknologi yang lturang mendukung menjadi penghambat perkembangan in dustri farmasi. Hampir sebagian besar penelitian terhambat karena ma salah instrumen yang kurang memadai.

Saat ini, tambah dia, industri farmasi Indonesia hanya berkutat pada pengembangan formula. Tidak ada penelltian intensif untuk mengembanglcan obat sintetis yang berasal dari alam. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan dalam hal alam dan bidang herbal.

“Rita dalam teknologi memang kalah telak dari negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Amerika. Namun, kita punya beragam kekayaan alam yang seharusnya bisa dijadikan bahan penelitian industri farmasi,” terang Mandi.

Untuk mengatasi masalah terse- but, Mandi berpendapat salah satu jalan yang bisa dilakukan ialah melalui kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri. Selain itu, is mengusulkan riset intensif harus dilakukan guna menemukan berbagai inovasi di bidang farmasi.

Manajer. Riset dan Pengabdian Masyarakat UI Rani Sauriasari menambahkan saat ini banyak hasil riset yang tidak mencapai tahap komersialisasi dan hilirisasi. Pengembangan hasil riset kerap terhenti karena gagal bertemu dengan investor dan stakeholder lainnya.

“Hasil riset bermutu tidak hanya sampai sekadar presentasi dan seminar bergengsi. Hams ada langkah lanjut untuk membawanya ke masyarakat luas,” ujar Rani.

Inovasi
Fakultas Farmasi UI menggelar pameran hasil riset inovatif dan hasil riset farmagi sebagai wadah bagi para peneliti untuk menampilkan hasil riset mereka.

“Tahun ini, tercatat tiga perusahaan farmasi besar nasional bekerja sama dengan Fakultas Farmasi UI dalam upaya komersialisasi produk riset,” kata Kepala Humas dan KIP UI Rifelly Dewi Astuti pada kesempatan sama.

Beberapa produk inovatif yang dipamerkan di antaranya gel anestetik bunga cengkih, inkubator bayi, kursi stroke, dan vaksin carrier.

Ia memandang perlu mengangkat lebih banyak lagi ‘para peneliti dari zona nyaman dan memperteraukan mereka dengan para pelaku usaha sebagai langkah menuju pemanfaatan hasil riset semaksimal mungkin agar menyentuh masyarakat, salah satunya melalui pameran itu.

Ia menambahkan publikasi staf Fakultas Farmasi UI mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2014, jelasnya, rasio publikasi terhadap dosen adalah 0,6, artinya lebih dari setengah staf menghasilkan satu publikasi internasional per tahun.

Pada tahun ini, Farmasi UI juga telah meluncurkan buku Direktori Jurnal Internasional di Bidang Farmasi dan Buku Profil Periset Farmasi III 2015. (Ant/H-1) putri@mediaindonesia.com | PUTRI ROSMALIA OCTAVIYANI


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s