Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Kompas » Wawancara Khusus: Panglima TNI: Pilar Utama adalah Rakyat

Wawancara Khusus: Panglima TNI: Pilar Utama adalah Rakyat

Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo adalah sosok yang dekat dengan masyarakat selama bertugas di Divisi II Kostrad, Jawa Timur. Kedekatan itu mencerminkan komitmennya membawa TNI agar tidak lupa jati diri dengan menghormati rakyat yang membesarkannya.

 Ditemui di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, Minggu (4/10) pagi, sepulang berziarah ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Gatot menjelaskan berbagai hal berkait perjalanan TNI yang berusia 70 tahun pada Senin (5/10). Berikut petikan wawancaranya.

Apa makna strategis HUT Ke-70 ini?

Saat ini, momentum paling penting adalah reformasi TNI secara struktural dan kultural sudah sepenuhnya tuntas, dengan kekurangan yang masih ada. Semua matra (AD, AL, dan AU) dan kesenjataan telah/sedang menuju Kekuatan Minimum Terpenting (Minimum Essential Forces/MEF). Sesuai amanat undang-undang (UU No 34/2004 tentang TNI), TNI merupakan tentara rakyat, tentara pejuang, dan tentara profesional yang tidak terlibat politik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya serta mengikuti politik negara sebagai acuan bertindak sesuai hukum, hak asasi manusia, dan hukum internasional. Itu dilakukan agar masyarakat tahu bahwa TNI adalah milik rakyat. TNI itu tentara rakyat. Pilar utama kekuatan TNI adalah rakyat.

Makna strategis HUT Ke-70 TNI adalah ini saat penyelesaian secara utuh pembangunan TNI ke depan. Kita perlu mewaspadai Negara Islam di Irak dan Suriah. Mereka tidak bicara agama, tetapi orang dari mana-mana ikut bergabung. Ancaman ke depan adalah kelompok ekstrem keagamaan yang mengganggu penganut Islam. Indonesia negara berpenduduk Muslim terbesar tentu rentan terhadap gangguan ini dan harus waspada.

Bagaimana menjabarkan itu di lapangan?

Momentum ini juga momentum menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ancamannya tidak lagi hanya bom, tetapi lebih bagaimana mengintegrasikan semua komponen bangsa dan rakyat. Pilar utama TNI adalah rakyat. TNI kuat jika bersama-sama dengan rakyat.

Kemerdekaan ini rakyat yang merebut. Rakyat bersatu berjuang dengan bergotong royong. Dalam antropologi budaya, gotong royong itu memang nilai kearifan lokal orang Indonesia yang merupakan masyarakat patriot dan ksatria. Mereka rela berkorban.

Dari Sabang sampai Merauke, semua suku memiliki sifat-sifat ksatria. Ada senjata pusaka dan tari perang sebagai bukti masyarakat yang ksatria. VOC bisa menjajah Nusantara karena mempelajari kekhasan antropologi budaya tersebut.

Dalam fungsi dan tugas TNI, TNI yakin rakyatlah kunci sukses tugas-tugasnya. Seluruh prajurit harus dengan sadar memperlakukan rakyat sebagai ibu kandung.

 Dalam kesempatan ini, saya minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Dalam perjalanan TNI, ada oknum-oknum yang membuat kesalahan. Terhadap mereka, kami akan tindak sesuai hukum dan tidak ada pembelaan (dari komandan).

Apakah ini juga berkait isu HAM?

Harus dipahami kalau ada penyelidikan dan penyidikan, itu berarti bukan lagi pelanggaran HAM karena oknum prajurit sudah ditindak sesuai hukum. Aparat yang melanggar hukum ditindak lebih keras dari orang biasa. Pengadilan Militer terbuka untuk umum dan media dipersilakan meliput.

Bagaimana TNI berperan aktif dalam pembangunan? Apa betul Babinsa TNI memaksa petani menanam padi dan sebagainya?

Begini, pada 7 Desember 2014 dalam apel dandim, danrem, dan pangdam se-Indonesia, Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Pertanian untuk swasembada pangan dalam tiga tahun yang kalau tidak bisa, maka menteri akan dicopot. Saat itu, Presiden memerintahkan TNI AD untuk melaksanakan pendampingan. Sebagai KSAD, tentu saya langsung menjawab, siap Presiden.

Sepanjang sejarah NKRI, baru kali ini ada insentif besar-besaran untuk petani lewat pembagian traktor, pengawasan penyaluran pupuk, pembagian bibit, dan perbaikan irigasi.

Seharusnya panen padi naik 30 persen karena diawasi ketat seperti sekarang ini. Jangan sampai momen swasembada pangan diganggu dengan impor beras yang membuat harga gabah jatuh sehingga petani meninggalkan sawah merantau ke kota dan menjadi buruh. Setelah terjadi urbanisasi dan ada gejolak politik, bisa terjadi kekacauan dan negara bangkrut.

Dalam kondisi seperti ini, saya berinisiatif menggerakkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) belajar ilmu bertani ke Makassar, Sulawesi Selatan, lalu kembali ke wilayahnya mendampingi para petani bekerja. Kami tidak memaksa dan petani pun bahagia. Panen dan harga sudah bagus. Kita harus sadar banyak orang Indonesia tidak waspada. Ada pihak yang tidak suka melihat Indonesia sejahtera.

Untuk mencapai sasaran strategis itu seperti kemandirian pangan dan lain-lain, TNI memainkan peran Operasi Militer Selain Perang (OMSP) termasuk dalam hal pendampingan petani. Penjabarannya perlu dilakukan dalam UU Perbantuan TNI. Kerja sama, gotong royong, saling percaya, serta memuji dan musyawarah adalah nilai-nilai asli Indonesia yang dapat mendukung sasaran strategis yang dilakukan TNI bersama rakyat termasuk dengan petani. Perang ke depan adalah soal kekuasaan atas sumber daya energi, yakni ekonomi, pangan, dan sumber daya air.

 Bagaimana minat generasi muda masuk TNI?

Kita kewalahan. Banyak sekali yang berminat menjadi prajurit TNI. Banyak sekali yang mendaftar dan tentu kita ingin mendapat yang berkualitas. Ini bukti masyarakat sadar bela negara, bukan sekadar berkarier untuk cari makan belaka.

Seharusnya UU Komponen Cadangan sudah dijalankan. Saya ingin masyarakat juga terlibat bersama TNI menjaga pertahanan negara dan berbagi peran. Bisa saja untuk 1/3 kekuatan TNI itu, masyarakat yang dikontrak. Ini bukan militerisasi. Kalau itu tercapai, bangsa Indonesia menjadi masyarakat yang disiplin, hebat dan kuat, tentu ditakuti bukan?

Masuk tentara itu tidak bayar. Kalau ada pungutan ini dan itu tolong laporkan agar kami tindak. Ada pelaku yang kami tangkap orang biasa dan ada juga oknum prajurit. Selanjutnya pendidikan di militer itu tidak dikenai biaya apa pun.

Bagaimana hubungan kerja sama seperti dengan Amerika Serikat?

Kita bekerja sama dengan semua negara termasuk Amerika Serikat. Dalam kasus Amerika Serikat, sistem pertahanan mereka berbeda, tetapi tentu kita bisa pelajari. Demikian juga negara lain yang kita sesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Bagaimana pengadaan alutsista baru dan kebijakan zero growth personel TNI?

Kalau anggaran dikurangi, kita mau bagaimana lagi. Kalau cinta TNI, tolong dibantu agar anggaran TNI diperkuat. Kita pernah mengadakan latihan anti teror di fasilitas swasta dan BUMN. Itu karena TNI belum punya fasilitasnya. Seperti atraksi militer yang menggambarkan kekuatan laut dan udara TNI dalam HUT he-70 ini, sebelumnya ada dua pilihan yakni di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, dan dermaga Indah Kiat di Cilegon, Banten. Setelah ditinjau langsung yang layak, efektif, dan efisien adalah dermaga Indah Kiat. Kita juga mengundang 12.000 orang dari masyarakat biasa untuk menonton pesta rakyat ini.

Dirgahayu TNI. Tentara rakyat. (ong/nmp/rus/nwo/ham)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s