Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Koran Tempo » Sikap ‘Tak Bulat’ Soal Laut Cina Selatan

Sikap ‘Tak Bulat’ Soal Laut Cina Selatan

Menteri Pertahanan menilai patrol bersama bisa menjadi awal penyelesaian konflik.

JAKARTA — Pemerintah Cina mengajak Indonesia dan sembilan negara Asia Tenggara menggelar latihan perang bersama di wilayah Laut Cina Selatan pada 2016. Beijing beralasan, latihan tersebut mampu menurunkan tensi tinggi konflik klaim wilayah Laut Cina Selatan yang terjadi antara Cina dan sejumlah negara ASEAN.” Hal terpenting yang diperlukan adalah menjaga stabilitas,” kata Menteri Pertahanan Cina Chang Wanquan di Beijing, di depan 10 perwakilan negara ASEAN, Jumat pekan lalu, seperti dikutip Reuters.

Menurut Chang, salah satu materi dalam latihan bersama tersebut adalah penerapan aturan tentang jika dua kapal berpapasan mendadak. Selain itu, misi pencarian dan penyelamatan korban bencana dan kecelakaan laut pun dimasukkan dalam materi latihan. Chang juga mengklaim bahwa Cina bersedia bekerja sama dengan negara-negara ASEAN yang bcrsengketa di Laut Cina Sclatan untuk melawan keterlibatan pihak luar dalam konflik di kawasan itu.

Ajakan tersebut tentu mengejutkan di tengah ketegangan konflik Laut Cina Selatan. Cina masih bekukuh mengklaim hampir 95 persen wilayah laut tersebut—yang dipersoalkan anggota ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Manila sudah meminta bantuan Amerika Serikat untuk menghadapi agrcsifnya pembangunan pangkalan militer Cina di Kepulauan Spratly, yang tak jauh dari Filipina. Dari sisi ekonomi, Laut Cina Selatan sangat menggiurkan. Sebab, dalam satu tahun, laut itu dilintasi kapal dagang dengan nilai ekonomi sekitar US$ 5 triliun. Belum lagi kekayaan minyak dan gas yang tertanam di dasar lautnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memilih mcnolak ajakan latihan bersama Cina. Alasannya, latihan bersama di Laut Cina Selatan malah berpotensi memperkcruh konflik saling klaim di wilayah tersebut. Gatot juga menganggap ajakan tersebut tak sesuai dengan dua kebijakan pemerintah tentang konflik Laut Cina Selatan.

Kebijakan pertama, kata Gatot, pemerintah bertekad mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut Cina Selatan. Kedua, pemerintah mengimbau semua pihak yang bersengketa agar menahan diri dan tidak melakukan kegiatan yang berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan tersebut. “Jadi, diajak oleh negara mana pun latihan di Laut Cina Selatan, kami menolak,” kata Gatot di gedung DPR di Jakarta, kemarin.

Sikap ini didukung oleh Wakil Ketua Komisi Pertahanan DPR Hanafi Rais. Menurut Hanafi, menerima tawaran dari Beijing seperti mengirim pesan bahwa Indonesia mendukung Cina dalam konflik Laut Cina Selatan. “Jangan sampai Indonesia malah masuk dalam lubang konflik,” kata Hanafi kepada Tempo, kemarin. “Pemerintah harus tetap memegang politik luar negeri bebas aktif.”

Ketua Komisi Pertahanan DPR Mahfudz Siddiq meminta pemerintah berkonsolidasi dengan sembilan negara ASEAN lainnya. Menurut dia, Indonesia harus mengedepankan kerja sama komunitas Asia Tenggara dalam menyikapi ajakan Cina. Musababnya, ada negara anggota ASEAN yang bersengketa dengan Cina soal Laut Cina Selatan. “Pemerintah harus mementingkan keputusan yang menguntungkan ASEAN,” ucapnya, kemarin.

Pengamat pertahanan dari Universitas Padja- djaran, Muradi, meminta pemerintah mendetailkan maksud dan tujuan tawaran latihan bersama dari Cina. Pemerintah hams bisa meyakinkan Cina untuk berdialog dengan ASEAN terkait dengan klaim mereka atas Laut Cina Selatan. “Kalau Cina tetap tak mau buka dialog, jangan mau,” tuturnya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu punya pandangan berbeda menyikapi tawaran Cina. Menurut Ryamizard, tawaran Cina itu bukan berupa latihan perang, melainkan latihan patroli laut bersama. “Beda dong. Kalau patroli untuk keamanan bersama. Sedangkan latihan perang, ya, untuk perang,” kata mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu kemarin di gedung DPR.

Ajakan patroli bersama dari Cina merupakan buah pikiran Ryamizard untuk meredam konflik di Laut Cina Selatan. Dalam sejumlah pertemuan antarmenteri pertahanan se-Asia Tenggara, Ryamizard sering memaparkan konsep patroli bersama itu. Soal ini pernah disampaikannya dalam’pertemuan antar-menteri pertahanan ASEAN di Langkawi, Malaysia, Maret lalu, dan di Singapura, Juni lalu.

Ryamizard menegaskan, patroli bersama itu juga bukan merupakan bentuk pengakuan klaim Beijing atas Laut Cina Selatan. Ia menganggap patroli bersama di Laut Cina Selatan bisa menjadi awal penyelesaian konflik. Dia optimistic, seusai patroli bersama itu, Cina bersedia membuka dialog diplomasi dengan Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Brunei Darussalam untuk menyelesaikan sengketa laut tersebut. “Itu salah satu cara benerin Laut Cina Selatan. Jangan cuma dilihat doang,” kata Ryamizard.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s