Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Terorisme Diantisipasi, Terduga Pelaku Bom Paris Pernah Belajar di Bandung

Terorisme Diantisipasi, Terduga Pelaku Bom Paris Pernah Belajar di Bandung

KOMPAS, — Kini hampir tak ada lagi negara yang bebas dari ancaman gerakan radikal, terutama Negara Islam di Irak dan Suriah. Pemerintah terus melakukan berbagai hal guna mengantisipasi terorisme dengan melibatkan sejumlah pihak untuk menjaga keamanan.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menggelar rapat koordinasi di kantor Kementerian Menkopolhukam, Jakarta, Kamis (19/11). Rapat itu dihadiri Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti, Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD Letnan Jenderal Edy Rahmayadi, Panglima Komando Daerah Militer Jaya Mayor Jenderal Teddy Lhaksmana, Pangdam IX/Udayana Mayjen M Setyo Sularso, dan Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian.

Luhut mengatakan, semua pihak terkait, seperti Badan Intelijen Negara dan Polri, telah terintegrasi dengan menjalankan perannya masing-masing.

“Kami sudah melakukan langkah-langkah untuk mengantisipasi dan menjaga. Berbagi informasi intelijen kami lakukan dengan ketat dan semuanya terintegrasi,” ujar Luhut seusai rapat koordinasi di kantor Kementerian Menkopolhukam.

Badrodin mengatakan, dalam rapat selama satu jam tersebut, dirinya melaporkan perkembangan Operasi Camar Maleo di Sulawesi Tengah yang bertujuan menangkap pemimpin Mujahidin Indonesia Timur, Santoso. Terkait dugaan akan bergabung dengan NIIS, enam warga negara Indonesia ditahan otoritas keamanan Turki ketika hendak menuju Suriah, Minggu (15/11). Badrodin menyatakan, pihaknya telah mengetahui, tetapi belum ada koordinasi dengan pihak Turki terkait pemeriksaan mereka.

“Belum (ada koordinasi). Biasanya kalau mereka mau melakukan deportasi, baru berkoordinasi dengan kami,” ucap Badrodin.

Aliran radikal

Sementara itu, Tito mengonfirmasi, seorang terduga pelaku bom di Paris, Perancis, pernah belajar aliran radikal di Bandung, Jawa Barat, di bawah pimpinan Aman Abdurrahman.

Aman telah divonis sembilan tahun penjara sejak 2010 di Lembaga Permasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ia terbukti menggelar pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh.

Setelah memimpin rapat koordinasi, Luhut menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O Blake. Dalam pertemuan selama 45 menit tersebut, mereka membahas permasalahan geopolitik, seperti keamanan dan Laut Tiongkok Selatan.

Berkait dengan terorisme, peneliti Lingkaran Survei Indonesia, Fitri Hari, memaparkan hasil survei yang menunjukkan 84,6 persen responden sangat khawatir aksi teroris di Paris merembet ke Indonesia. Hasil survei cepat pada 15-17 November 2015 dilakukan dengan metode penarikan secara acak bertingkat pada 600 responden, dengan rentang kesalahan sekitar 4 persen.

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, kewaspadaan perlu ditingkatkan dengan memperkuat imunitas warga dari berbagai syiar dan provokasi kebencian.

Sementara di Denpasar, Bali, Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan mengingatkan Polda Bali dan jajarannya agar meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi ancaman terorisme. Budi mengimbau warga proaktif mencegah terorisme dengan menjaga keamanan wilayahnya. (osa/cok/san)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2015, di halaman 4 dengan judul “Terorisme Diantisipasi”.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s