Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » "Waspadai Teror di Wilayah ASEAN, Isu Terorisme Agenda Utama"

"Waspadai Teror di Wilayah ASEAN, Isu Terorisme Agenda Utama"

KUALA LUMPUR, KAMIS — Serangan teroris di jantung kota Paris ditengarai sangat mungkin terjadi di Asia Tenggara. Deputi Menteri Dalam Negeri Malaysia Nur Jazlan Mohamed, Rabu (18/11), mengatakan, ancaman itu menguat karena sejumlah veteran jihad Suriah telah kembali ke tanah airnya.

“Saya pikir situasi Paris juga dapat dipraktikkan di sini, di Asia Tenggara, di mana kita juga memiliki tanah yang subur untuk perekrutan jaringan tersebut, yang akan menerima arahan dari Suriah untuk melakukan serangan,” kata Nur Jazlan.

Indikasi itu terbaca sejak beberapa waktu lalu. Salah satunya, September lalu, polisi Malaysia berhasil menggagalkan rencana teroris yang ingin meledakkan kawasan wisata Bukit Bintang, Kuala Lumpur, dan menyerang markas tentara.

Tak hanya itu, saat ini setidaknya ada 400 warga Indonesia, 40 warga Malaysia, dan beberapa warga Singapura yang bergabung dengan kelompok militan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), dan sebagian dari mereka telah kembali ke tanah airnya.

Keberadaan mereka memunculkan kekhawatiran bahwa NIIS dapat menggerakkan mereka untuk melakukan teror di sejumlah kota di ASEAN. Apalagi ada sejumlah kelompok bersenjata, seperti Abu Sayyaf di Filipina, yang mendukung NIIS. Beberapa minggu lalu, kelompok bersenjata yang pernah memiliki hubungan dengan Al Qaeda itu membunuh seorang pengusaha Malaysia yang mereka culik sejak Mei lalu dan disandera di Pulau Jolo, Filipina selatan.

Pengusaha Malaysia itu, bersama seorang perempuan asal Malaysia, diculik dari restoran di sebuah kota pantai di Negara Bagian Sabah. Mereka kemudian dibawa lari ke Jolo. Pekan lalu, perempuan itu dibebaskan setelah kelompok tersebut menerima uang tebusan. Jolo merupakan markas kubu Abu Sayyaf, kelompok militan yang dikenal kerap melakukan pengeboman, pembunuhan, dan penculikan untuk memperoleh uang tebusan.

September lalu, kelompok itu menculik warga Kanada, Norwegia, dan Filipina dari sebuah resor pantai kelas atas di Filipina selatan. Mereka menuntut tebusan sebesar 21 juta dollar AS untuk tiap-tiap sandera.

Guna mengantisipasi serangan terorisme, Malaysia telah memperbarui informasi keamanan mereka untuk memastikan tidak ada teroris asing masuk ke negara itu dan mengaktifkan sel-sel lokal.

Malaysia sangat mengkhawatirkan masuknya sejumlah warga mereka yang saat ini bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf. Mereka diketahui ingin menyatukan kelompok-kelompok radikal di Malaysia, Indonesia, dan Filipina untuk membentuk cabang regional NIIS di Asia Tenggara.

Manajemen operasi

Peneliti dari Pusat Studi Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia Solahuddin Wahid mengatakan, kekhawatiran Nur Jazlan sangat beralasan. Menurut dia, serangan teroris di Paris sebenarnya tidak memerlukan keahlian atau perlengkapan khusus. “Jika diperhatikan, sebagian besar pelaku adalah anak muda, beberapa di antara mereka berusia belasan tahun,” kata Solahuddin.

Setelah mereka diradikalisasi dan cukup dilatih menembakkan senjata, sutradara serangan-biasanya berasal dari jaringan kelompok militan atau bersenjata-menyusun rencana serangan yang rapi untuk mengaktifkan para teroris muda itu. Ancaman di ASEAN makin menguat karena kelompok bersenjata, seperti Abu Sayyaf di Filipina, turut memberikan pasokan senjata untuk mendukung operasi teror.

Di Indonesia, benih serangan yang dimotori NIIS sebenarnya telah terjadi pada Agustus lalu di Solo. Menurut Solahuddin, mereka mendapat dana dan instruksi dari seorang warga Indonesia di Suriah. Mereka juga menerima instruksi membuat bom melalui telegram.

Untuk itu, diperlukan penguatan operasi intelijen guna mematahkan rencana mereka. Sebab, kelompok-kelompok teror seperti itu hanya membutuhkan organisasi payung, seperti NIIS yang mengakomodasi kelompok militan berbeda dan terpisah-pisah untuk bekerja sama.

Tidak mengherankan jika dalam pertemuan tingkat tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) para pemimpin dunia yang berkumpul di Manila menempatkan isu terorisme sebagai salah satu agenda utama mereka. Minggu depan, agenda serupa akan dibicarakan para pemimpin ASEAN yang akan bertemu di Kuala Lumpur. (Reuters/JOS)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 November 2015, di halaman 9 dengan judul “Waspadai Teror di Wilayah ASEAN”.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s