Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Ketika Bani Israil Dikutuk Menjadi Kera

Ketika Bani Israil Dikutuk Menjadi Kera

REPUBLIKA 29/11, Islam Diegest, — Setelah Nabi Musa AS mengabulkan permohonan kaumnya (Bani Israil) agar Sabtu dijadikan hari spesial, aktivitas sosial pada hari itu selalu sunyi dan sepi. Seluruh kaum Bani Israil berada di rumahnya masing-masing, mereka khusyuk menjalankan ibadah, seperti yang diajarkan Nabi Musa pada saat itu.

Persetujuan itu setelah Nabi Musa menerima wahyu, seperti ditulis dalam Alquran surah Shaad ayat ke-20. “Dan (Kami tundukan pula) burung- burung dalam keadaan berkumpul. Masing- masingnya amat taat kepada Allah SWT.”

Hanya sedikit di antara kaum itu yang berada di luar melakukan aktivitasnya, tapi bukan berdagang, melaut, atau bercocok tanam, melainkan mereka saling bertemu sanak famili dan membicarakan agenda esok hari setelah Sabtu.

Seperti dikisahkan penulis lengendaris H B Arifin dalam bukunya, Rangkain Cerita Alquran; Kisah Nyata Peneguh Iman, sejak dahulu Allah SWT telah menetapkan satu hari dalam sepekan yang khusus diwajibkan menjalankan ibadah secara berjamaah dan menerima tuntunan-tuntunan Allah SWT dengan perantara nabi dan rasul yang diutus ke kaum masing-masing.

Akan tetapi, entah mengapa, pada zaman Nabi Musa, Bani Israil memohon agar hari itu dijadikan pada Sabtu saja.
Keinginan mereka akhirnya dikabulkan Allah setelah turun ayat ke-20 dalam surah Shaad. Dengan begitu, terikatlah menurut syariat Nabi Musa bahwa Sabtu itu adalah hari istimewa.

Khusus pada Sabtu itu, setiap orang tidak boleh bekerja mencari nafkah layaknya rutinitas sehari-hari. Sabtu adalah hari yang memang benar-benar diistimewakan untuk menyembah Allah, bersyukur dan untuk sebagian waktu menerima pelajaran agama Allah yang disampaikan Nabi Musa.

Tidak adanya aktivitas ekonomi seperti berdagang, melaut, dan bertani untuk membiayai kehidupan sehari-hari itu sudah menjadi syariat dan tradisi kaum Bani Israil sejak zaman Nabi Musa sampai pada zaman Nabi Daud.

Syariat dan tradisi Bani Israil itu berpengaruh pada proses ekosistem hewani yang ada di perairan luas. Ekosistem di Laut Merah, seperti ikan, setiap Sabtu, segala jenis ikan bukan main banyaknya, ikan besar dan kecil bermunculan ke permukaan.

Anehnya, ikan-ikan tersebut pada hari selain Sabtu tidak ada seekor pun yang muncul sehingga membuat jenuh sebagian kaum lain ketika melaut tidak mendapatkan ikan. Tradisi larangan melakukan aktivitas selain ibadah dan belajar itu berlanjut dari waktu ke waktu.

Saat itu juga semakin banyak segala jenis ikan-ikan besar dan kecil menyembul ke permukaan Laut Merah. Ikan-ikan itu tampak tidak takut meski berada di depan manusia. Ikan-ikan itu seakan tahu, meski berada di dekat manusia, dia tidak akan dimangsa.

Kumpulan ikan yang begitu banyaknya berada di perairan dangkal di Laut Merah, memunculkan keinginan dan nafsu serakah Bani Israil yang tinggal di dekat Laut Merah untuk menangkap dan segera memakannya.

Perundingan Syahdan
fenomena tersebut menggiurkan sekelompok Bani Israil yang tidak taat. Mereka mencoba mengompromikan larangan tersebut dan melakukan perundingan bagaimana supaya sepakat menangkap ikan pada Sabtu.

Mereka kesal, karena hanya pada hari Sabtu saja ikan-ikan itu bisa ditangkap, sementara hari-hari biasa ikan itu sulit ditangkap meski sudah menjelajahi Laut Merah sampai ke tengah. “Kita pasti akan mendapatkan ikan banyak dengan cara yang gampang jika menangkapnya pada hari Sabtu,” kata salah seorang kaum Bani Israil.

Perundingan itu tak menuai kesepakatan. Muncul perbedaan. Ada yang sepakat dan ada yang tidak. Bagi kelompok yang tidak sepakat, mereka berpendapat, “Bukankan hari itu (Sabtu) dilarang melakukan aktivitas selain beribadah kepada Tuhannya Nabi Daud?”

Karena yang menolak sedikit, sementara yang setuju banyak, akhirnya pada hari Sabtu itu sebagian kaum Bani Israil menangkap ikan di Laut Merah. Benar bahwa hasil tangkapan mereka jauh lebih banyak dari hasil mereka pada hari-hari lain.

Alangkah senang hati mereka mendapatkan ide menangkap ikan banyak. Dengan hasil keputusan tadi, Sabtu bukan lagi untuk fokus menyembah Allah, bersyukur dan belajar ilmu agama, melainkan digunakan sebagai pesta pora karena mendapat tangkapan ikan banyak di laut.

Sebagian kaum Bani Israil yang menolak (beriman) segera memberikan peringatan dan nasihat, tapi arahan itu tidak dihiraukan oleh mereka yang ingkar. Karena ini sudah menjadi tradisi turun- temurun, akhirnya kaum yang beriman itu berjaga- jaga di Laut Merah.

Tujuannya agar tidak ada satu orang pun dari kaum manapun yang menangkap ikan pada Sabtu. Penjagaan itu mendapat reaksi keras dari kaum yang setuju Sabtu digunakan untuk menangkap ikan.

Adu mulut antara kaum Bani Israil yang taat dan tidak mulai terjadi dan hampir bentrok.  Golongan yang ingkar berkata, “Kampung ini bukan kepunyaan kalian saja. Kami juga berhak atas kampung ini,” katanya.

Karena kedua belah pihak sudah lelah menyampaikan pendapatnya akhirnya diputuskanlah kesepakatan, yakni membagi dua daerah tersebut.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s