Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Apakah APBN Itu?

Apakah APBN Itu?

OLEH ADLER HAYMANS MANURUNG

Apakah perlu kita ketahui mempelajari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk investasi? Bagaimana memanfaatkannya untuk investasi yang kita miliki?

Isian APBN adalah pendapatan yang diperoleh negara dan belanja yang dilakukan negara. APBN bisa juga merupakan rugi-laba dari satu negara, tetapi sedikit berbeda dengan laporan rugi-laba karena dalam APBN ditemukan adanya penerimaan dan pembayaran pinjaman, sementara pada Rugi Laba dari perusahaan tidak ada penerimaan dan pembayaran pinjaman. Oleh karena itu, dalam APBN tidak dikenal keuntungan (profit) dan jika ada selisih pendapatan dengan pengeluaran (belanja), selisih tersebut dinamakan surplus, yaitu pendapatan lebih besar daripada belanja yang dilakukan. Ada pula defisit yaitu pendapatan lebih kecil dari Belanja.

APBN dipersiapkan oleh Negara dan harus mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Biasanya, Kementerian Keuangan mempersiapkan seluruh anggaran dengan masukan dari kementerian yang lain. APBN sudah lengkap diajukan kepada DPR oleh Presiden, tetapi pengurusannya di DPR dikerjakan oleh Kementerian Keuangan.

APBN ini disampaikan oleh Presiden pada pidato kenegaraan yaitu setiap 16 Agustus tahun berjalan untuk APBN tahun berikutnya. Setelah APBN dipidatokan pada tanggal tersebut baru Kementerian Keuangan melakukan rapat-rapat dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan APBN tersebut. Biasanya diskusi APBN memakan waktu lebih lama karena disana juga ada biaya pengeluaran untuk aktivitas DPR. Biasanya, tarik menarik antara DPR dengan pemerintah (Kementerian Keuangan) juga terjadi sehingga ada kesepakatan.

Pendapatan

Pendapatan negara dapat dirinci menjadi pendapatan dari pajak dan pendapatan bukan dari pajak serta hibah. Biasanya pendapatan dari pajak merupakan pendapatan paling besar dari semua pendapatan yang ada. Adapun pendapatan pajak sekitar 65 persen sampai 70 persen dari belanja negara. Pendapatan pajak umumnya selalu ditargetkan setiap tahun, tetapi target tersebut sering kali tidak terpenuhi sehingga pemerintah menutupi belanja negara melalui pinjaman.

Adapun pinjaman yang dilakukan pemerintah bisa saja pinjaman dalam negeri dan pinjaman luar negeri. Ketika Pemerintahan Orde Baru, pinjaman tersebut semuanya dari pinjaman luar negeri sehingga ada kerugian akibat terjadinya apresiasi valuta asing. Dalam APBN muncul penerimaan (pendapatan) dari pinjaman luar negeri dan ada juga di belanja sebagai pembayaran cicilan pinjaman dan bunganya. Ada kemungkinan pinjaman yang diterima sama dengan pembayaran cicilan dan bunga sama besar jika jumlah pinjaman sudah membengkak.

Selanjutnya, pergantian pemerintahan dari Orde Baru ke Pemerintah Reformasi maka pinjaman banyak diubah menjadi pinjaman dalam negeri dengan menerbitkan obligasi. Kelihatannya, pinjaman dalam negeri ini membengkak terus karena dari pinjaman dalam negeri ini juga dipergunakan untuk membayar utang. Tetapi, perlu diingat Pemerintah menerbitkan obligasi awalnya untuk kepentingan mem-bail out kerugian perbankan pada tahun 1998, dan keterusan untuk membayar pinjaman dan juga menghilangkan kerugian akibat selisih kurs valuta asing.

Kalau diperhatikan, APBN kita agak berbeda dengan APBN di Amerika Serikat, karena APBN Amerika Serikat memiliki penerimaan dari Jaminan Sosial dan cukup besar juga nilainya. Indonesia belum mempunyai program jaminan sosial sebagus Amerika Serikat. Pada sisi lain, APBN ini dipergunakan pebisnis sebagai motor penggerak perekonomian. Gaji yang diterima PNS merupakan patokan bagi pebisnis. Sering kali, ada rencana kenaikan gaji PNS membuat harga barang-barang mengalami kenaikan sebelum PNS tersebut mendapatkan kenaikan tersebut.

Belanja

Pada APBN ditemukan pengeluaran pemerintah untuk pengeluaran belanja pegawai dan belanja barang. Belanja pegawai merupakan pengeluaran pemerintah untuk membayar gaji pegawai yang bekerja di pemerintahan. Belanja pegawai untuk Militer juga ada di APBN tersebut. Bahkan diperkirakan belanja pegawai ini cukup besar, sekitar 13,43 persen pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 13,71persen pada 20014 dan sebesar 14,77 persen pada tahun 2015 (Realisasinya 17,02 persen) dan tahun 2016 direncanakan tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, belanja negara sekitar Rp. 2000 triliun.

Sementara belanja barang tersebut sekitar 12 persen pada tahun 2013, menurun menjadi 9,9 persen pada tahun 2014 dan direncanakan sebesar 12% pada tahun 2015 dimana realisasinya baru 8,7 persen. Fluktuasi belanja barang ini merupakan sebuah pentunjuk fluktuasi perekonomian.

Sebenarnya, belanja barang ini merupakan patokan bagi pebisnis, karena adanya belanja barang ini merupakan adanya proyek yang dikerjakan oleh pebisnis walaupun masih ada dari pebisnis yang melakukan investasi untuk pengembangannya. Artinya, APBN dapat dipergunakan untuk melihat arah perekonomian Indonesia ke masa mendatang terutama dalam tahun berjalan. Oleh karenanya, tidak heran bagi semua pihak ingin mengetahui APBN ini agar tahu kelanjutnya dalam perekonomian.

Bagi mereka yang memiliki dana untuk investasi maka APBN ini bisa juga dipergunakan sebagai alat arah investasi atas dana yang dimiliki. Bila Pemerintah mempunyai keinginan (arah) belanja barang banyak ke sektor perikanan, maka sektor ini diharapkan akan mengalami pertumbuhan yang baik dan akibatnya sektor akan bisa memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik.

Jika pemerintah melakukan belanja barang pada berbagai sektor dan tidak ada penekanannya pada sektor tertentu maka pemerintah kelihatan tidak melakukan penekanan ekonomi, tetapi membuat semua sektor bertumbuh. Investor bisa melakukan investasi ke semua sektor, tetapi perlu hati-hati juga agar investasi tidak mengalami bunting.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s