Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Indonesia Fokus Lindungi REDD+

Indonesia Fokus Lindungi REDD+

Hasil Konferensi Perubahan Iklim Diharap Eksplisit

PARIS, KOMPAS — Hingga sesi pembukaan sidang para menteri dalam rangkaian Pertemuan Para Pihak (COP 21) Konferensi Perubahan Iklim 2015, Indonesia fokus pada program reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi lahan (REDD+). Sistem yang berjalan saat ini dinilai sudah cocok sehingga tidak perlu ada perubahan lagi.

Kemungkinan perubahan didesakkan delegasi Panama yang menginginkan ada badan khusus dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) yang mengurusi REDD+. “Indonesia tidak sepakat karena hanya akan membuat masalah semakin kompleks dan birokrasi jadi lebih panjang,” kata Ketua I Delegasi RI yang juga Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nur Masripatin, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Brigitta Isworo Laksmi, dari Paris, Perancis, Senin (7/12).

Saat ini, REDD+ masuk sebagai salah satu upaya mitigasi negara tropis. Indonesia memiliki proyek percontohan yang berpusat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Mulai kemarin, konferensi yang dihadiri delegasi dari 150 negara itu memasuki pertemuan setingkat menteri. Mereka melakukan pembahasan teknis menuju kesepakatan global menurunkan emisi dan menahan kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat celsius pada 2030 dari suhu era Revolusi Industri 1850-an.

Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim Rachmat Witoelar mengatakan, Indonesia hanya berharap memperoleh hasil optimal.

Dalam negosiasi, Indonesia tidak banyak berpendapat karena posisinya masuk dalam negara ekonomi tumbuh cepat (emerging country) sekaligus rawan dampak perubahan iklim. Indonesia mendukung tujuan jangka panjang mencegah kenaikan suhu 2 derajat celsius karena masih perlu ruang untuk berkembang.

Di sisi lain, sejumlah negara berkembang dan kepulauan kecil, termasuk Filipina, mendesak kesepakatan global menekan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat celsius.

Upaya keras

Kemarin, Presiden COP 21 yang juga tuan rumah konferensi, Laurent Fabius, mengumpulkan 14 fasilitator untuk memastikan perundingan di tingkat menteri berjalan lancar.

Setidaknya ada empat isu amat mendesak agar bisa mendapat kesepakatan. Keempatnya adalah diferensiasi; hal terkait perangkat implementasi (means of implementation): pendanaan, peningkatan kapasitas, dan transfer teknologi; ambisi penurunan target emisi yang diniatkan (INDC); serta aksi pra-2020.

Dorongan agar COP 21 membuahkan hasil signifikan demi penyelamatan Bumi juga muncul dari Vatikan. Paus Fransiskus dalam khotbah Minggu di Lapangan St Peter mengingatkan kembali pernyataannya, “Laudato Si”, Juni lalu. “Dunia seperti apa yang akan kita berikan kepada mereka yang datang setelah kita, kepada anak-anak yang sedang tumbuh sekarang.”

Paus menegaskan, sudah saatnya semua usaha di Paris ditujukan untuk mitigasi dampak perubahan iklim sekaligus mengatasi persoalan kemiskinan dan “biarkan martabat manusia berkembang”.

Menanggapi seruan Paus, Martin Kaiser dari Greenpeace mengatakan, “Paus telah memberikan tekanan moral pada isu ini dan intervensinya akan dirasakan di ruang konferensi. Menapaki masa krusial ini, pertemuan puncak di Paris membutuhkan berbagai bantuan yang bisa didapatkan.” Hasil Paris haruslah berupa pernyataan yang eksplisit, misalnya tidak lagi bahan bakar fosil pada 2050.

Dalam jumpa pers seusai membuka pertemuan tingkat menteri COP 21 UNFCCC, Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan, tanpa mengatasi persoalan perubahan iklim, semua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) tidak akan tercapai. Untuk itu, konferensi perubahan iklim harus bersifat universal, ambisius, dan kuat.

SDG amat komprehensif memuat isu perubahan iklim. Ban juga menekankan, semua pihak harus sepakat menahan kenaikan suhu Bumi di bawah batas 2 derajat celsius dan jika perlu 1,5 derajat celsius karena berdampak serius bagi negara kepulauan kecil. “Kita harus melihat dalam gambar besar dengan visi global,” ujarnya.
—–

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Desember 2015, di halaman 13 dengan judul “Indonesia Fokus Lindungi REDD+”.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s