Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Penjualan Beras NTB Naik

Penjualan Beras NTB Naik

Ketahanan Pangan Terus Dijaga

MATARAM, KOMPAS — Pemasaran beras produksi Pulau Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, keluar daerah cenderung meningkat. Pada Agustus-September lalu, misalnya, jumlahnya mencapai 500 ton, setahun sebelumnya hanya sekitar 100 ton.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Daerah NTB Hartina kepada wartawan di Mataram, Senin (7/12), mengatakan, pengiriman beras dari NTB ke Bali dan Surabaya, Jawa Timur, terjadi ketika musim panen raya Maret-April hingga September. Para pengusaha menjual beras asal NTB di Surabaya seharga Rp 9.200 per kilogram, sementara harga pembelian Bulog NTB Rp 7.000 per kilogram.

Belakangan, Pemerintah mengizinkan Bulog memberi beras petani seharga Rp 8.600 per kg, tetapi harga itu terlambat ditetapkan karena pengusaha hanya mau melepas berasnya sesuai harga di Surabaya tadi. Di pihak lain, stok beras di tingkat petani dan pengusaha semakin menipis dan Bulog NTB hanya meraih sebagian kecil dari produksi beras itu.

Hartina mengatakan, tahun 2015 produksi beras NTB sebanyak 1,3 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 568.183 ton untuk konsumsi lokal termasuk untuk kebutuhan wisatawan. Sisanya sebagai stok nasional dan untuk dikirim ke sejumlah provinsi seperti Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Beras asal NTB itu umumnya dipasarkan melalui Kabupaten Bima untuk memasok kebutuhan beras masyarakat yang bermukim di pulau-pulau seperti Sulawesi,” ujar Hartina. Di luar pengiriman itu, NTB masih memiliki stok 180.000 ton. Dengan rata-rata konsumsi 47.000 ton per bulan, stok tersebut mencukupi kebutuhan lokal hingga Maret 2016.

Budi, pengusaha beras di Mataram, membenarkan adanya beras asal NTB yang beredar di luar NTB. Para pengusaha dari Bali dan Jember, Jatim, misalnya, datang ke Lombok dengan membawa truk. Mereka bernegosiasi dengan pengepul padi lalu membawa padi itu ke tempat asal mereka. Beras itu digiling dengan mesin penggiling milik mereka.

Ketahanan pangan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus berupaya meningkatkan produksi padi dalam rangka menjaga ketahanan pangan. Ini dilakukan dengan cara meningkatkan luas tanam dari 531.000 hektar pada musim tanam 2014-2015 menjadi 548.000 hektar pada musim tanam 2015-2016. Perluasan areal tanam sekitar 17.000 ha itu juga untuk mengantisipasi gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalsel Fathurrahman mengatakan, tahun ini ada sekitar 12.000 hektar areal tanaman padi yang gagal panen atau puso. Sebagian tanaman padi puso akibat El Nino, sebagian lagi hangus terbakar akibat kebakaran lahan dan hutan. “Dari luas tanam 531.000 hektar, yang berhasil panen 519.000 hektar,” katanya.

Pada musim tanam 2014-2015, kata Fathurrahman, produksi padi Kalsel mencapai 2,15 juta ton gabah kering giling (GKG) atau naik 2,8 persen dari produksi tahun sebelumnya. “Untuk tahun yang akan datang, produksi padi ditargetkan naik 10 persen atau mencapai 2,3 juta ton GKG,” ujarnya.

Untuk menjaga ketahanan pangan nasional, mulai musim tanam 2015-2016 ada gerakan tanam padi serentak. Di Kalsel, pencanangan gerakan tanam padi serentak dilakukan di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Senin.

Dalam acara tersebut, Penjabat Gubernur Kalsel Tarmizi Abdul Karim mengatakan, gerakan tanam padi serentak digalakkan agar pemanfaatan irigasi bisa lebih efektif dan siklus hama juga bisa terputus. Dengan begitu, produktivitas padi bisa lebih baik dan meningkat.

“Gerakan ini untuk mencapai kemandirian pangan yang membawa kesejahteraan pada para petani,” ujarnya.

Di Jawa Barat, pencanangan gerakan tanam padi serentak dilakukan di Desa Kertajaya, Kabupaten Bandung Barat. Pada kesempatan itu, Gubernur Ahmad Heryawan meminta petani mempertahankan lahannya untuk tidak dialihfungsikan. Hal ini diperlukan agar produksi hasil pertanian memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga ketahanan pangan dapat terwujud.

“Penting bagi petani untuk mempertahankan lahannya. Jangan sampai lahan-lahan yang selama ini menjadi sumber hasil pertanian dialihfungsikan untuk kepentingan bisnis,” ujarnya.

Berdasarkan pusat data dan sistem informasi pertanian Kementerian Pertanian, luas sawah di Jabar selalu menurun. Pada 2011, luas sawah di Jabar 930.507 hektar, tahun 2012 berkurang jadi 925.565 hektar, dan pada 2013 berkurang jadi 925.042 hektar.

Meskipun alih fungsi lahan di Jabar terus berlangsung, Ahmad mengatakan, Pemerintah Provinsi Jabar berupaya menambah lahan pertanian. Salah satu upaya tersebut dilakukan di Jawa Barat bagian selatan dengan menambah lahan seluas 1.000-2.000 hektar. Ahmad optimistis produk pertanian, terutama padi, akan terus meningkat. [RUL/TAM/JUM]
—-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Desember 2015, di halaman 21 dengan judul “Penjualan Beras NTB Naik”.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s