Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Kemandirian Energi untuk Indonesia Mendunia

Kemandirian Energi untuk Indonesia Mendunia

Percepatan infrastruktur energi merupakan kunci utama terciptanya kemandirian energi sekarang dan di masa yang akan datang. | KEMAMPUAN memenuhi kebutuhan energi menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.Semua itu juga ditentukan kemampuan mengelola sumber energi dan upaya menjadikan energi tersebut sebagai pendorong kemajuan ekonomi nasional yang akan membuat Indonesia mampu berdiri di jajaran bangsa maju di dunia.

“Tugas kita semua, pemerintah, BUMN, swasta, dan masyarakat, untuk melakukan konservasi energi dengan penghematan pemakaian energi, memanfaatkan sumber energi alternatif dan energi baru terbarukan dengan tata kelola yang transparan dan berkesinambungan,“ ujar Presiden Joko Widodo, dalam kicauan di akun twitter @ Jokowi, di awal Juli 2015.

Keseriusan pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi itu dituangkan dalam berbagai pengembangan proyek infrastruktur energi.Beragam aturan direvisi demi menggairahkan pengembangan sumber energi di tengah minimnya penemuan cadangan migas nasional dan gejolak harga minyak bumi dunia.

“Percepatan infrastruktur energi merupakan kunci utama terciptanya kemandirian energi sekarang dan di masa yang akan datang. Pemerintah mendukung dan memberi apresiasi yang tinggi kepada Pertamina dan para mitranya yang menggagas dan merealisasikan megaproyek Pertamina terintegrasi,“ ujar Presiden saat meresmikan megaproyek Pertamina terintegrasi di lokasi kilang Donggi Senoro, Sulawesi Tengah, awal Agustus lalu.

Proyek hulu sekaligus hilir migas senilai US$5,8 miliar (Rp77,72 triliun) itu, imbuhnya, menunjukkan kepercayaan dan minat tinggi pelaku usaha berinvestasi di Indonesia, khususnya di sektor energi.

Sejatinya, sudah 58 tahun BUMN energi itu menjadi tulang punggung pemenuhan energi nasional. Bukan hanya turut menghasilkan sumber energi berupa minyak dan gas bumi yang berkontribusi sebagai devisa bagi negara, Pertamina juga memiliki tugas menyediakan dan mendistribusikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan gas yang terus meningkat.

Kini di saat energi fosil (migas) semakin mahal dan cadangan terbatas, Pertamina gencar mening katkan kemandirian energi. Salah satunya dengan mengonversi energi dari BBM ke bahan bakar gas (BBG).

“Kami akan mendorong peran riset untuk memikirkan energi 10-20 tahun mendatang,“ ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto baru-baru ini.

Pertamina, lanjutnya, akan mengembangkan infrastruktur untuk konversi minyak ke gas.Langkah kedua melakukan efisiensi perusahaan di segala bidang agar masyarakat bisa mendapatkan energi murah.

“Pertamina harus jadi the most efficient company di region dan dunia supaya bisa bersaing. Salah satu efisiensi yang kami lakukan adalah restrukturisasi pengadaan minyak impor dari sebelumnya dilakukan oleh anak usaha kami Petral menjadi ISC (Integrated Supply Chain),“ terangnya.

Terbukti dalam dua bulan restrukturisasi, Pertamina bisa menghemat hingga US$22 juta.Langkah ketiga menjadikan Pertamina sebagai perusahaan penghasil minyak terbesar di Indonesia. “Target kami dalam lima tahun ke depan bisa menghasilkan 45%-50% produksi minyak mentah nasional.“

Dwi menambahkan, saat ini Pertamina berjuang untuk mengambil lapangan-lapangan minyak yang sudah hampir habis masa kontraknya yang dikuasai perusahaan asing.

Langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian energi menuju Pertamina baru melalui transformasi secara positif yang terangkum dalam lima prioritas strategis. Dwi menjelaskan strategi itu meliputi pengembangan sektor hulu, efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang, pengembangan infrastruktur dan marketing, serta perbaikan struktur keuangan.

“Demi menggapai visi menjadi perusahaan energi na sional kelas dunia, Pertamina berupaya untuk mewujudkan ketahanan ener gi nasional dengan lima prioritas strategis serta mengaplikasikan enam tata nilai perusahaan, good corporate governance, serta menanamkan spirit satu Pertamina,“ ujarnya belum lama ini.

Untuk meningkatkan kapasitas kilang, tambahnya, Pertamina terus meningkatkan dan memperbarui kilang-kilang dengan program Refinery Development Master Plan (RDMP), membangun kilang baru (grass root refinery), serta revitalisasi dan integrasi kilang swasta.Energi baru terbarukan Dwi juga menjelaskan filosofi transformasi mindset karena sebagai energy company, Pertamina senantiasa mengupayakan keberlanjutan pasokan energi untuk Indonesia dan menyediakan energi dengan kualitas prima dan biaya murah.

Salah satunya dengan pembentukan direktorat khusus energi baru terbarukan (EBT) di manajemen Pertamina.Hal itu, selain sebagai bagian pengembangan lini bisnis perusahaan untuk terus bertumbuh, juga menjadi langkah mendukung pemerintah untuk menggenjot pengembangan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang ditargetkan dapat mencapai sekitar 23% dari total bauran energi pada 2025.

Pertamina telah mencanangkan pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan sebesar 1,13 gigawatt (Gw) dan produksi biofuel sebesar 1,28 juta kiloliter (kl) pada 2019.

Selain itu, Pertamina melakukan peningkatan kapasitas produksi pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan akan bersumber utama dari panas bumi sebesar 907 megawatt (Mw), solar photovoltaic dan energi angin masing-masing 60 Mw, biomassa 50 Mw dan minimicrohydro dan ocean energy masingmasing 45 Mw dan 3 Mw.

Untuk biofuel, produksi akan terdiri dari green diesel dengan kapasitas 0,58 juta kl per tahun, co-processing green diesel 0,14 juta kl per tahun, co-processing green gasoline 0,23 juta kl per tahun, bioavtur 257 ribu kl per tahun, bioetanol sebesar 76 ribu kl per tahun, dan 10 ton per hari bio-LNG plant.

“Pertamina mempertimbangkan pula untuk masuk ke semua lini dari bisnis energi baru terbarukan, tidak sekadar menjadi offtaker, tetapi bisa juga menjadi produsen di bisnis hulu energi baru dan terbarukan,“ tutur Dwi.

Pertamina siap berinvestasi di bisnis hulu energi baru dan terbarukan. Belanja modal diperlukan untuk pengembangan bisnis EBT, di luar panas bumi yang diperkirakan mencapai US$1,5 miliar hingga 2019.

Namun, lebih dari sekadar target angka-angka, Pertamina menyadari untuk bisa berkiprah lebih jauh di level global membawa nama Indonesia mendunia dibutuhkan upaya terus-menerus untuk meningkatkan sumber daya manusia.“Untuk mendunia yang diperlukan adalah pengembangan people, people, and people,“ pungkas Dwi. (S-25) jajang@mediaindonesia.com

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s