Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Kompas » Teknologi Reproduksi: Menghitung Waktu Kehamilan

Teknologi Reproduksi: Menghitung Waktu Kehamilan

Oleh Adhitya Ramadhan | Di kehidupan sehari-hari, kerap dijumpai perempuan usia muda yang susah hamil. Sebaliknya, ada perempuan yang usianya menginjak kepala empat masih bisa hamil dengan mudah. Jadi, sebenarnya kapan waktu yang tepat untuk hamil? Kalkulator sel telur IKO dapat menghitungnya.

Ada pasangan suami-istri yang ingin cepat memperoleh keturunan, tetapi ada juga yang menunda memiliki keturunan. Kadang yang terjadi adalah pasangan muda bertahun-tahun tak juga dikaruniai keturunan, sebaliknya ada perempuan berusia di atas 40 tahun tetap bisa hamil dengan mudah.

Kondisi itu melatarbelakangi Budi Wiweko melaksanakan penelitian tahun 2007-2008. Ia berupaya mencari tahu parameter tunggal untuk meramalkan kesuburan perempuan.

Wiweko, yang juga dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), meneliti 1.616 pasien perempuan. Hasilnya, ia menemukan anti mullerian hormone (AMH) yang bisa menjadi parameter umur biologis seseorang. “Usia biologis lebih penting daripada umur kronologis,” ujarnya, Selasa (8/12) di Jakarta.

Hal itu berarti, bisa saja seorang perempuan memiliki umur kronologis 25 tahun. Akan tetapi, umur biologisnya jauh lebih tua, misalnya 35 tahun atau lebih. Padahal, untuk bisa hamil, umur biologis perempuan berperan lebih penting dibandingkan umur kronologis.

AMH baru diketahui para peneliti di dunia sekitar tahun 2000. Saat itu, belum diketahui pasti fungsi dan peran AMH dalam sistem reproduksi. Bahkan, pada 2005, AMH belum banyak dilirik peneliti dalam riset teknologi reproduksi.

Padahal, dengan mengetahui kadar AMH, seorang perempuan bisa mengetahui usia biologis dan pola cadangan ovariumnya. Jadi, dokter bisa mengetahui kapan waktu yang tepat bagi pasien untuk hamil dengan memakai teknologi reproduksi berbantu (TRB). Meramalkan kapan waktu hamil yang pas dengan mengetahui umur biologis melalui kadar AMH lebih cepat dibandingkan memakai hormon pemicu folikel (follicle stimulating hormone/FSH) dan jumlah folikel antral (antral follicle count/AFC).

Menurut Wiweko, AMH adalah senyawa glikoprotein. Itu diproduksi sel granulosa folikel yang mengelilingi sel telur. Kini, granulosa juga digunakan sebagai penanda cadangan ovarium.

Setelah mengetahui fungsi AMH, Wiweko mengembangkan normogram AMH, daftar kadar AMH perempuan Indonesia berdasarkan kelompok umur. Daftar itu bisa dijadikan patokan untuk mengetahui umur biologis. Dari normogram, diketahui, kadar AMH seorang perempuan untuk hamil setidaknya harus 1,4 nanogram per mililiter (ng/mL).

Aplikasi

Pada 2013, Wiweko lalu mengembangkan normogram AMH itu menjadi aplikasi berbasis android dengan nama Indonesia Kalkulator of Oocytes (IKO). Aplikasi itu menjadi panduan bagi pasien dan dokter agar dapat mengetahui kapan saat yang tepat bagi pasien untuk hamil.

Sebagai contoh, pasien berusia muda, yang memiliki kadar AMH rendah, tak dianjurkan menunda kehamilan. “Intervensi yang agresif perlu cepat dilakukan jika pasien memiliki kadar AMH sedikit atau umur biologis tua. Kalau umur kronologis dan biologis pasien masih muda dan kadar AMH-nya bagus serta ingin menunda kehamilan, bisa saja menyimpan telurnya melalui teknologi simpan beku,” kata Wiweko.

Aplikasi IKO relatif sederhana. Pasien bisa mengetahui umur biologisnya dengan memasukkan data kadar AMH yang dimilikinya. Begitu juga sebaliknya. Pasien bisa mengetahui kadar AMH yang seharusnya dimiliki dengan memasukkan data umur biologisnya. Bahkan, pasien bisa tahu berapa sel telur yang matang dengan memasukkan data usia, kadar AMH, dan jumlah sel telur.

“Pasien cukup periksa kadar AMH-nya dengan tes darah. Lalu, dengan aplikasi IKO, ia bisa mengetahui berapa usia biologisnya. Ini membantu menentukan kapan waktu untuk hamil. Jika umur biologisnya muda, tak masalah menunda kehamilan. Namun, jika umur biologisnya tua tetapi ingin punya anak, maka harus segera diintervensi agar hamil,” ujarnya.

Aplikasi itu sudah dipraktikkan sejumlah pasien. Tanti Waluyo, misalnya, menuturkan, tahun ini genap 10 tahun usia pernikahannya. Meski tak pernah menunda kehamilan, ia belum juga dikaruniai keturunan. Segala macam tes dan pengobatan sudah dijalani perempuan berusia 37 tahun itu agar hamil.

Ketika akhirnya ia berkonsultasi dengan Wiweko di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Jakarta, Tanti baru mengetahui kadar AMH dalam tubuhnya hanya 0,3 ng/mL. Dengan menggunakan aplikasi IKO, ia mengetahui, meski usia kronologisnya 37 tahun, tetapi umur biologisnya mencapai 44 tahun.

Setelah diperiksa pada ovarium, ia hanya memiliki tujuh sel telur. Padahal, jika kondisi AMH dalam tubuhnya bagus, jumlah sel telur bisa mencapai 20. Kemudian, semua sel telurnya diambil, tiga di antaranya tak berkembang baik, dua disimpan beku, dan tiga yang digunakan dalam program bayi tabung. Dari tiga, itu satu berhasil jadi. “Iya, sekarang saya hamil tiga minggu,” ujar Tanti.

Wiweko berharap aplikasi IKO bisa membantu pasien merencanakan kehamilan dengan baik. Aplikasi itu juga diharapkan membantu dokter merencanakan intervensi terbaik bagi pasien yang menghadapi masalah infertilitas. Jika kehamilan direncanakan dengan baik, hal itu diharapkan akan melahirkan sumber daya manusia yang baik pula.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s