Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Konferensi Perubahan Iklim, "Kesepakatan Paris" Ditunda Sehari

Konferensi Perubahan Iklim, "Kesepakatan Paris" Ditunda Sehari

Penutupan Konferensi Perubahan Iklim 2015 di Paris, Perancis, mundur sehari dari jadwal semula, Jumat (11/12). Pemunduran itu untuk memberi waktu pembahasan isi draf “Kesepakatan Paris” yang membutuhkan persetujuan negosiator dari 196 negara.

Presiden Konferensi Pihak Ke-21 (COP-21) Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim-yang juga Menteri Luar Negeri Perancis-Laurent Fabius mengatakan, “segalanya bergerak ke arah yang tepat”. Hingga kemarin, draf “Kesepakatan Paris” yang disiapkan tuan rumah, Perancis, dan beredar Kamis masih dikoreksi dan dinilai terlalu panjang sehingga perlu perbaikan.

Konferensi tahun ini adalah babak penting setelah konferensi serupa tahun 2011 mendorong ada kesepakatan global baru berjangka panjang yang mengikat dunia untuk menekan laju perubahan iklim. Isinya, di antaranya memastikan komitmen negara-negara menurunkan laju emisi nasionalnya hingga menahan laju kenaikan suhu Bumi di bawah 2 derajat celsius tahun 2030 dibandingkan suhu di era Revolusi Industri tahun 1850.

Selain itu, ada skema pendanaan baru untuk membantu negara-negara miskin dan berkembang agar dapat turut mencegah dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Namun, sejumlah kelompok aktivis menyoroti kritis draf yang beredar di ajang konferensi sejak Kamis itu. Mereka menilai isinya menolak “keadilan iklim”.

“Negara-negara maju punya tanggung jawab memastikan kesepakatan global yang adil untuk semua pihak, bukan untuk mereka sendiri,” kata Adriano Campolina dari Action Aid, seperti dikutip BBC, Jumat kemarin. Jelang penutupan, negosiasi masih mengarah pada “ketidakadilan iklim” di mana negara-negara miskin harus puas dengan isi kesepakatan yang tak terlalu memuaskan mereka.

Kelompok negara miskin dan berkembang, yang sebagian besar adalah negara kepulauan kecil dan negara-negara di Benua Afrika, mendesak konferensi kali ini memastikan suhu Bumi tidak naik melebihi 1,5 derajat celsius. Analisis mereka, kenaikan suhu di atas itu akan mempercepat negara kepulauan kecil, seperti Vanuatu, Seychelles, Kiribati, dan Barbados, cepat tenggelam serta memperparah dampak badai tropis yang menguat.

Sementara negara-negara maju dan berkembang lain, termasuk Indonesia, merasa nyaman dengan patokan kenaikan suhu di bawah 2 derajat celsius. Alasannya, masih membutuhkan pembangunan nasional yang berdampak emisi.

Menanggapi sejumlah perbedaan sikap para delegasi itu, Laurent Fabius menyatakan bahwa keberadaan “Kesepakatan Paris” sangat bergantung pada kompromi para pihak. Draf kesepakatan yang masih sepanjang 27 halaman itu hingga kemarin masih terus dipertajam.

Di luar ruang sidang, ratusan aktivis berunjuk-rasa, mendesak negara maju tidak egois memaksakan kemauannya. (BBC/GSA)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s