Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Fobia Islam kian diluar kendali

Fobia Islam kian diluar kendali

Anti-Muslim di Amerika Serikat kian mengental. Pemberitaan media yang tak berimbang turut memberikan andil. Sehari setelah komentar salah satu calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, sekelompok orang berkostum milisi dengan memakai gaya militer —beberapa dari mereka bertopeng — muncul di luar Islamic Center di Irving, Texas. Membawa senapan serbu, dengan lantang mereka menyebut misi utama kedatangannya adalah untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “Islamisasi Amerika.” Segala kegiatan di gedung itu berhenti sementara.

Tak selesai sampai di sini, milisi kemudian menerbitkan selebaran berisi alamat rumah orang yang mereka katagorikan sebagai Muslim dan simpatisan Muslim. Pemimpin milisi menanggapi kritik dengan menulis di akun Facebook-nya, “Jika kita memiliki daftar sasaran dan ingin penjabaran isi daftar itu, maka kini Anda bisa melihatnya.”

Pada Thanksgiving, hanya beberapa hari kemudian, sopir taksi di Pittsburgh yang juga seorang imigran dari Maroko `disandera’ penumpangnya. Sepanjang perjalanan, ia dihujani ratusan pertanyaan tentang latar belakangnya dan keterlibatannya dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ketika mereka tiba di tempat tujuan, penumpang itu masuk ke dalam dengan dalih mengambil dompet untuk membayar. Saat keluar, bukannya uang yang didapat, ia ditodong senapan. Untunglah ia segera tancap gas dan hanya mengalami luka ringan di tulang bahunya.

Tahun lalu, South Asia American Leading Together, sebuah lembaga nirlaba yang mempromosikan kesetaraan etnis di AS mencatat Muslim menghadapi iklim yang semakin bermusuhan di negara itu. Mereka dianggap `bukan Amerika’ dan `tidak setia’ pada negara.

Menurut Suman Raghunathan, direktur eksekutif SAALT, lebih dari 80 persen dari insiden kekerasan terkait kebencian merupakan sentimen anti-Muslim. Demikian pula, mayoritas – lebih dari 90 persen -komentar politik bernada xenophobia ditandai oleh bias anti-Muslim.

“Anggota masyarakat sedang mengirimkan pesan bahwa kita tidak diinginkan. Bahkan di ruang-ruang paling suci kita, bertabur pesan yang bertentangan dengan nilai-nilai inti bangsa Idta,” kata Raghunathan.

Laporan, berjudul, ‘Under Suspicion, Under Attack’ ini mendokumentasikan lebih dari 150 insiden kekerasan yang bermuara pada kebencian dan retorika xenophobia oleh tokoh-tokoh politik dan pejabat pemerintah yang terjadi secara nasional sejak Januari 2011 hingga April 2014.

Analisis ini menemukan peningkatan 40 persen dalam komentar politik xenophobia sejak analisis terakhir SAALT dirilis pada tahun 2010. Angka yang sebenarnya, bisa lebih tinggi lagi. Pasalnya, insiden kekerasan berlatar kebencian sering tidak dilaporkan.

SAALT melacak hampir 80 insiden terjadi di komunitas nasional, dengan sentimen anti-Muslim yang terbanyak. Insiden ini terutama terjadi di wilayah yang dianggap sebagai `hotspo’ anti-Islam, di antaranya wilayah metropolitan New York City, New Jersey, Chicago, serta California Utara dan Selatan.

“Masyarakat AS telah mengalami reaksi berkelanjutan dan bahkan serriakin tinggi setelah Tragedi 11 September, mengkristal oleh kekerasan kebencian,” kata Linda Sarsour, Senior Strategist pada Take on Hate Campaign. Ia sendiri mengaku sering menjadi korbannya karena wajah Timur Tengahnya. “Derajatnya mulai mengkhawatirkan.”

Jadi di atas semua ini, lontaran bernada anti-Muslim Trump bukan hal Baru. Sebaliknya, dia hanya memanjakan sentimen yang sudah tersebar luas.

Di tingkat elit, politisi Partai Republik dikenal yang paling nyaring menyuarakannya. Jeb Bush dan Ted Cruz, dua calon presiden partai ini selain Trump, jauh-jauh hari menyerukan akan menerima pengungsi dari Suriah hanya jika mereka beragama Kristen – kalimat tak langsung untuk menyebut melarang pengungsi Muslim asal negara yang kini tengah berkonflik itu.

Trump hanyalah puncak gunung es yang berjalan lebih dalam dari kebanyakan politisi AS. Fobia Islam, diakui atau tidak, kian di luar kendali di AS. Hal yang, tentu saja, membuat ciut hati kaum Muslim AS.

Hingga kini, tak ada data pasti jumlah umat Islam di AS. Sebuah survei 2010 yang dilakukan lembaga survei Pew memperkirakan populasi Muslim di AS mencapai 2,6 juta dan meramalkan bahwa pada tahun 203o akan meningkat menjadi 6,2 juta, atau sekitar 1,7 persen dari populasi.

Ancaman kekerasan sering memiliki titik yang sama dengan kekerasan itu sendiri: untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi, untuk menimbulkan penderitaan psikologis pada kelompok sasaran dalam bentuk ketakutan dan keterasingan, untuk memaksa kelompok sasaran tersisih di tempat terbuka dan hidup dalam bayang-bayang. Jelas, serangan yang sebenarnya pada Muslim lebih buruk dari ancaman implisit atau eksplisit – dan, jangan salah, ketika milisi berdiri di luar sebuah pusat Islam, bahkan jika mereka tidak punya niat untuk menggunakan kekerasan, pesan mereka sudah sampai.

Untungnya, sejauh ini sebagian besar dari aksi kekerasan lebih menyasar pada bangunan dan bukan orang. Masjid dicoratcoret misalnya, atau pemakaman Muslim dirusak.

Sikap Islamofobia awalnya melonjak setelah pemilihan presiden yang dimenangi Barack Obama dari Partai Demokrat. Obama kerap disebut sebagai ‘diam-diam merupakan penganut Islam’ dan kebijakannya dianggap pro-Islam.

Sebuah jajak pendapat Februari menunjukkan bahwa 54 persen responden Partai Republik percaya Obama adalah seorang Muslim. Pada September, jajak pendapat di Iowa menemukan bahwa hanya 49 persen dari Partai Republik yang menyebut Islam adalah legal, 30 persen menyebut ilegal, dan 21 persen menyatakan tak tahu.

Di antara pendukung Trump di Iowa, permusuhan terhadap umat Islam lebih tinggi tapi tidakjauh lebih tinggi: 36 persen mengatakan Islam harus dilarang. Sebuah jajak pendapat nasional November menemukan bahwa 56 persen orang Amerika melihat Islam sebagai bertentangan dengan nilai-nilai Amerika. Lima puluh tujuh persen orang Amerika, dan 83 persen dari Partai Republik mengatakan bahwa umat Islam hams dilarang dari kursi kepresidenan.

Masalah pemberlakuan hukum syariah menjadi isu yang kemudian muncul dan dihembus-hembuskan kubu ini. Pada akhir Januari, seorang legislator negara bagian Texas memprotes perayaan Capitol Day umat Islam yang dimaksudkan untuk mempromosikan toleransi. Ia menuntut setiap Muslim “secara terbuka harus mengumumkan kesetiaannya pada negara dan hukum Amerika” tiap kali hendak masuk ke tempat kerjanya.

Bahkan, politisi Partai Republik yang juga gubernur Louisiana, Bobby Jindal, menggemakan kebencian terhadap Islam seperti yang didengungkan Trump. Ia menyebut imigran Muslim yang datang ke AS bermaksud melakukan invasi dan kolonisasi.

Media kerap jadi ‘kompor’
Berbicara tentang penghakiman atas Muslim, hampir semua media massa di AS seragam bersikap. Sangat sulit menemukan media yang netral bersikap, media besar atau kecil. Entah siapa yang memulai, fenomena munculnya Negara Islam Irak dan Suriah di Timur Tengah dilekatkan pada Islam. Lalu muncul penggambaran bahwa Muslim entah bagaimana adalah makhluk yang kurang manusiawi dan lebih ganas.

Berita TV kabel telah mempromosikan kefanatikan terbuka tentang Muslim, menyatakan berulang kali bahwa Islam adalah agama penuh kekerasan yang hams disalahkan untuk lahirnya ISIS. Berbarengan dengan itu, isu-isu keislaman turut `dipelintie untuk menunjukkan Islam itu penuh kekerasan; sunat perempuan, seruan jihad, pengabaian hak perempuan, dan mengekspos beragam keterbelakangan kaum Muslim.

Makin lama, Islam dalam pandangan sebagian besar publik AS menjadi lekat dengan gambaran berdarah-darah. Fobia Islam merebak. Tak hanya pada rakyat, hingga ke tokoh dan elit. Petinggi HBO, Bill Maher, misalnya, meyakini bahwa “sejumlah besar umat Islam ingin orang dengan ediologi berbeda mati” dan menyebut Islam “terlalu banyak kesamaan dengan ISIS.”

Fobia Islam muncul dalam budaya populer juga. Pada bulan Januari, Warner Bros merilis American Sniper, sebuah film Perang Irak yang menggambarkan warga Irak dibedakan dari dua hal, teroris dan simpatisan teroris. Aksi-aksi brutal dilekatkan dengan Islam.

Film ini kemudian menjadi salah satu film perang paling sukses dalam sejarah perfilman AS, yang dinominasikan untuk Academy Award untuk Best Picture, dan menginspirasi gelombang ancaman pembunuhan terhadap Muslim dan Arab.

Tentang peran media mengompori fobia Islam di AS pernah diteliti sekelompok sosiolog di University of North Carolina. Hasilnya di luar dugaan, yaitu bahwa peran sekelompok organisasi kecil bukan organisasi arus utama yang justru lebih didengar media.

“Sebagian besar organisasi bersaing untuk membentuk wacana publik tentang Islam setelah Serangan ii September. Studi menunjukkan bahwa wartawan begitu terpesona oleh sekelompok kecil organisasi pinggiran yang kemudian dianggap sebagai arus utama,” kata Sosiolog Christopher Bail, salah seorang peneliti, seperti dikutip Wired.

Organisasi pinggiran Anti-Muslim ini mendominasi media massa melalui penggambaran ketakutan dan kemarahan. “Energi emosional mereka menciptakan tarikan yang mampu mengubah kontur wacana utama itu sendiri,” katanya.

Studi Bail menyimpulkan, fobia Islam di AS mengental karena banjir informasi salah ini. “Bahayanya adalah bahwa banyak orang Amerika tak menerima pesan-pesan positif dari organisasi-organisasi Muslim moderat karena mereka menerima liputan media begitu sedikit. Representasi menyimpang ini berkolerasi dengan peningkatan sikap anti-Muslim di AS,” katanya.

Sosiolog lainnya, Penny Edgell, menyatakan belum terlambat untuk diperbaiki. Toleransi agama, katanya, sangat tertanam dalam karakter nasional AS. Muslim telah menjadi kekuatan positif dalam sejarah Amerika Serikat sejak abad ke-19. Sebelum serangan ii September, Muslim digambarkan sebagai ‘model yang minoritas dengan tingkat pendidikan dan pendapatan di atas rata-rata’. Bahwa serangan 11 September mengubah segalanya is membenarkan, namun koalisi lintas agama bisa diharapkan untuk membalikkan stigma kekerasan yang melekat pada Islam.

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s