Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Gatot Nurmantyo Ingatkan Lagi Perang Proksi

Gatot Nurmantyo Ingatkan Lagi Perang Proksi

PT Pindad (Persero) Siap Produksi Panser Badak Tahun 2016 | Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (TNI) Gatot Nurmantyo kembali mengingatkan ancaman perang proksi yang melibatkan pihak ketiga untuk menguasai sumber daya alam Indonesia. Generasi muda harus waspada dan bersiap mengantisipasinya.

Hal itu dikemukakan Gatot saat menjadi pembicara kunci dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan seminar bela negara di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (12/12). Acara itu digelar Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI).

Perang proksi adalah perang tidak kasatmata yang dilancarkan suatu negara terhadap negara lain dengan menggunakan pihak ketiga atau aktor-aktor nonnegara. Tujuan utama perang proksi adalah menguasai sumber daya alam negara lain demi kepentingan negara penyerang.

Gatot mengemukakan, pada tahun 2043, cadangan minyak bumi akan habis dan bahan bakar hayati menjadi rebutan semua negara. Hal tersebut ditambah dengan melonjaknya jumlah penduduk dunia yang akan mencapai 12,3 miliar jiwa sehingga pemenuhan pangan dan air bersih kian sulit.

Negara-negara di garis khatulistiwa seperti Indonesia, kata Gatot, akan diincar negara subtropis. Hal itu disebabkan wilayah khatulistiwa memiliki sumber daya alam yang melimpah, termasuk sumber energi hayati.

“Saat ini, 70 persen konflik dunia dilatarbelakangi kepentingan energi. Namun, perang masa kini yang tadinya soal energi pasti akan beralih menjadi perang untuk pangan, energi, dan air. Yang tadinya (berlokasi) di Timur Tengah akan bergeser ke wilayah khatulistiwa,” tutur Gatot.

Ia menambahkan, aneka wujud perang proksi sudah terlihat di Indonesia, antara lain ditujukan untuk merusak sendi-sendi budaya, moral, dan kepribadian bangsa melalui narkotika atau adu domba masyarakat atau antarlembaga negara.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang mengatakan, bangsa Indonesia sedang krisis nasionalisme. Semua elemen bangsa perlu kembali menghayati empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oesman mengatakan, resimen mahasiswa dapat mengambil peran besar menggelorakan nasionalisme.

Produksi persenjataan

Di Bandung, Jawa Barat, salah satu industri strategis nasional yang memproduksi alat utama sistem persenjataan, PT Pindad (Persero), menargetkan mulai memproduksi kendaraan tempur terbaru, yakni panser bermeriam 90 milimeter, Badak, pada triwulan I-2016. Badak merupakan program pengembangan ranpur Anoa, kini dalam proses sertifikasi Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat.

“Kami bisa memproduksi sampai 30 panser Badak per tahun. Kapasitas produksi ini bisa ditingkatkan menyesuaikan dengan peningkatan permintaan dari TNI AD ataupun Kementerian Pertahanan.” kata Direktur Utama Pindad Silmy Karim.

Badak berhasil menjalani uji tembak di Pusat Pendidikan Infanteri, Cipatat, Kabupaten Bandung, yang dilaksanakan Kamis (10/12)-Sabtu (12/12). Uji tembak merupakan bagian dari proses sertifikasi.

Silmy menjelaskan, uji tembak untuk memastikan, kemampuan panser buatan putra-putri Indonesia itu sudah memenuhi Ketentuan Standardisasi Umum (KSU) TNI AD.

“Setelah uji tembak, beberapa mata pengujian lain akan dilakukan bersama Dislitbang TNI AD, yakni uji laboratorium dan uji jelajah eksternal,” ujar Silmy.

Pindad memperkenalkan prototipe Badak pada pameran Indo Defence 2014 di Jakarta. Wakil Presiden Jusuf Kalla yang membuka pameran juga meresmikannya dengan nama Badak.

Direktur Program Imparsial Al Araf memuji keberhasilan PT Pindad. Meski demikian, dia mengingatkan, pembangunan industri pertahanan, kemampuan industri, dan offset dari negara asing yang menjadi mitra kerja harus diperhatikan.

“Sesuai rencana strategis pertahanan Indonesia tahun 2007, ditentukan kebutuhan kendaraan tempur dan tank ringan serta tank menengah (light and medium tank). Pembuatan kubah 90 milimeter dan 105 milimeter sudah sejalan dengan rencana strategis yang tidak pernah menyatakan Indonesia butuh tank tempur utama (main battle tank),” tutur Al Araf.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tubagus Hasanudin, menegaskan, prioritas pembangunan kekuatan TNI harus mengutamakan upaya pemenuhan kebutuhan alutsista dari dalam negeri. (SEM/ONG/ENG)

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s