Home » PAGE 5.8 - Provinsi DKI Jakarta » Pasukan Oranye » Terimakasih Pejuang Oranye

Terimakasih Pejuang Oranye

Pasukan Oranye

Mereka ada dan benar-benar ada untuk bekerja. Hasilnya pun [tanpa sadar], kita sebagai warga Jakarta sudah dapat merasakannya.

Setahun terakhir ada pemandangan berbeda di Jakarta. Saat ini banyak terlihat sekumpulan petugas menggunakan pakaian berwarna oranye, yang sibuk membersihkan gorong-gorong, selokan, sampah dan pohon di Ibu Kota. Mereka tak lain adalah Petugas Pemeliharaan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang biasa disebut dengan PASUKAN ORANYE. Mereka bertugas untuk menangani pelayanan darurat dari warga Jakarta. Setiap harinya, mereka bekerja turun ke jalan untuk membersihkan lingkungan di Jakarta. Setiap kelurahan terdiri dari 40 sampai 70 pasukan oranye. Jumlah yang banyak ini dianggap tidak akan berbenturan antar individu.

Mengenai soal kesejahteraan mereka, para pasukan oranye itu tetap bekerja sesuai UU Tenaga Kerja yaitu maksimal 8 jam per hari. Para petugas itu juga diberikan gaji di atas UMR setiap bulannya. “Mereka kita gaji Rp 3,1 juta per bulan, selain itu mereka juga dapat tambahan berupa BPJS kesehatan, BPJS ketenagakerjaan dan lain-lain,” ujar Kadis Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Aji seperti dikutip dari laman Detik.com.

Dan untuk mendapatkan opini mengenai Pasukan Oranye ini, dalam laman status di social media Facebook mencoba membuka opini dari sahabat-sahabat, diantaranya dari Nurlita Noviana sahabat dan adik di organisasi Paskibraka JP memberikan opininya dengan mengatakan bahwa teman SMP-nya ada yang berprofesi sebagai pejuang orange. Teman SMP-nya ini bukan tidak memperjuangkan nasibnya untuk bisa berdasi dan memiliki jabatan tinggi. Dia cerdas, bahkan selalu 5 besar. Ketika ditanya kenapa dia pilih profesi ini, dia jawab karena dia kagum dengan bapaknya yang juga berprofesi sebagai pejuang orange. Bapaknya cinta lingkungan, mau bersihin sampah dari orang-orang, bertindak nyata untuk pelestarian lingkungan. Dan kata-katanya yang selalu saya ingat itu: “Seenggaknya walaupun gue miskin, tapi gue gak ngerusak lingkungan.”

Sungguh positif output yang kita dapat dari contoh cerita diatas, mungkin sahabat yang lainpun punya cerita yang tidak jauh berbeda. Tapi tak dimunafikkan pasti ada saja suara yang berbeda dimasyarakat. Itu sih wajar-wajar saja, namun yang terpenting adalah ada kemauan dari pemerintah tentu bersama masyarakat untuk bergerak dan menawarkan solusi nyata, bukan hanya ikutan berkomentar tanpa memberikan solusi.

 

Advertisements

Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s