Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Jangan Menyudutkan Umat Islam

Jangan Menyudutkan Umat Islam

Pancasila ini harus jadi ideologi populis yang ditafsirkan oleh masyarakat yang beradab.

CIREBON — Mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengungkapkan, semua elemen bangsa harus mulai berlomba mengisi Pancasila, terlebih Umat Islam. Menurut dia, kontribusi kaum Muslimin pada awal perumusan Pancasila harus berlanjut untuk meningkatkan daya saing dan aktualisasi politiknya.

“Jangan sibuk lagi mendiskusikan atau mempertentangkan Islam dengan Pancasila sebab nanti orang lain yang mengambil dan menggunakan sesuai kepentingan politiknya sendiri,” kata Din pada acara Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Cirebon, Rabu(15/6).

Din juga menegaskan, bangsa harus memperhatikan peran dan posisi umat Islam. Jangan menyudutkan umat Islam. Menurutnya, tidak baik jika meminggirkan posisi Umat Islam dalam proses politik. Keguncangan bangsa bisa terjadi jika keseimbangan politik tak terjadi. “Umat Islam adalah kekuatan bangsa,” kata dia.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Muhadjir Effendi menjelaskan, berdasarkan survei nasional Pusat dan Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mayoritas responden masyarakat Indonesia (84,7 persen) mendukung Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berdasarkan Pancasila. Sementara, sebanyak 22,8 persen mendukung membentuk Negara Islam.

Muhadjir mengumumkan, Indonesia memang menjadi negara Pancasila. Namun, sebagian di antara rakyat Indonesia bahkan belum bisa menyebutkan sila-sila dalam Pancasila dengan benar. Survei dari sebuah media massa nasional menyebutkan, 48,4 persen responden berusia 17-49 tahun tidak dapat menyebutkan sila-sila Pancasila.

Penafsiran Pancasila itu, jelas Muhadjir, ada pada level etik dan logis yang sesuai dengan kepribadian bangsa dan nilai estetik, yaitu sesuai dengan aspek keindahan. Kemudian sesuai dengan norma-norma kemanusiaan. Pasca-Reformasi, ujar Muhadjir, penafsiran Pancasila diserahkan kepada pasal. “Pancasila ini harus jadi ideologi populis yang ditafsirkan oleh masyarakat yang beradab,” kata Muhadjir, seperti dilansir laman resmi Muhammadiyah.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, Muhammadiyah mengaktualisasikan Indonesia sebagai darul andi wa syahadah dalam perspektif pemikiran. Ini dibuktikan dengan peran Muhammadiyah yang membangun bangsa melalui bidang pendidikan. Yakni, dengan membangun integrasi sosial melalui pendidikan yang inklusif.

“Muhammadiyah membangun Indonesia tidak tersekat karena suku, agama, dan kelas sosialnya,” ujar Mu’ti saat menyampaikan mated Aktualisasi Negara Pancasila sebagai Dar al-Ahd wa al-Syahadah: Sosial, Budaya, dan Pendidikan, Selasa (14/6).

KH Ahmad Dahlan, jelas Mu’ti, memilih pendidikan sebagai implementasi untuk membangun bangsa. Itu, kata dia, karena pendidikan dapat mencapai seinua lini dalam masyarakat. Baik dalam segi agama, sosial, maupun budaya agar siapa pun yang mangenyam bangku pendidikan dapat merasa nyaman di dalamnya. “Ini sumbangan besar untuk integrasi nasional,” kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Mu’ti menyebutkan tiga hal yang merupakan kontribusi Muhammadiyah dalam membangun bangsa Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan yang inklusif. Pertama, inklusif sosial yang artinya pendidikan Muhammadiyah melayani masyarakat secara keseluruhan. Dalam lembaga pendidikan, ungkap Mu’ti, Muhammadiyah tidak ada sekat sosial karena strata sosialnya.

“Semua orang berbaur menjadi satu. Sekolah Muhammadiyah yang dekat dengan masyarakat,” kata Mu’ti ihwal pendidikan inklusif yang dilakukan Muhammadiyah. Menurutnya, kaum elite memiliki posisi strategic dalam peran sosial bangsa Indonesia.

Kedua, papar Mu’ti, pendidikan liberatif yang berbeda dengan liberal. Liberatif, kata Mu’ti, merupakan pendidikan yang membangun jiwa merdeka. Muhammadiyah, lanjut Mu’ti, berusaha keluar dari tradisi dengan melakukan inovasi pendidikan, inovasi kelembagaan, serta kurikulum dan metode pembelajaran.

Muhammadiyah, ia menuturkan, berani membangun sistem dan keluar dari tradisi yang ada. Muhammadiyah menjadikan pendidikan sarana untuk melakukan transformasi sosial. “Agent of change,” ujar pria asal Kudus yang sempat mengenyam pendidikan di Universitas Flinders, Australia, itu.

Negara Pancasila, kata Mu’ti, sebagai darus syahadah telah melakukan tranformasi dari langkah KH Ahmad Dahlan. Langkah sosial ini sesungguhnya dilandasi nilai-nilai tauhid. Islam itu, ujarnya, bukan agama dalam suku, melainkan agama seluruh umat manusia.


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s