Home » PAGE 3.2 - Berita Koran » Investor Daily » Peter F Gontha: “Sejauh Mana Tanggung Jawab Media?”

Peter F Gontha: “Sejauh Mana Tanggung Jawab Media?”

“Ternyata ada perorangan yang memonitor peranan pers dan mengatakan bahwa satu di antara tiga berita merupakan “berita bohong atau berita yang tidak lengkap” yang pada akhirnya memberikan kesimpulan yang salah bagi pembaca atau pemirsa.” | Peter F Gontha Duta Besar RI untuk Polandia

Oleh Peter F Gontha Duta Besar RI untuk Polandia

SCANApakah media hari ini memengaruhi kehidupan manusia dengan memberikan pemberitaan yang berlebihan, fakta tidak utuh atau bahkan tidak benar?

Seorang peneliti baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mewawancarai si peneliti, media cetak maupun media dunia maya menampilkannya sebagai salah satu berita utama.

Menurut penelitian tersebut, di sebuah daerah hunian kelas menengah bawah, kehidupan telah menjadi sangat individualistik. Politisi memberi perhatian pada penelitian tersebut dan nama si peneliti tersebut akhirnya berulang kali disebut di media elektronik, radio, dan media cetak maupun berita online.

Sesudah badai informasi mengenai penelitian tersebut mulai berkurang, di waktu luang saya sebagai duta besar yang ingin mengetahui lebih detail mengenai hasil penelitiannya, saya berusaha bertemu dengan peneliti tersebut. Karena pernah merasa sebagai pewawancara di sebuah media elektronik, saya mengajukan beberapa pertanyaan yang mungkin agak kritis dan sulit untuk dijawab.

Saya memulai pertemuan’dengan mengatakan, setelah membaca di surat kabar wawancara si peneliti dengan media masa, ia mengatakan bahwa penduduk daerah tersebut mulai lebih banyak berjalan kaki. Saya katakan telah membaca penelitiannya dan dikatakan bahwa masyarakat di daerah itu lebih mengurangi olah raga dan bahkan lebih banyak mengunjungi restoran waralaba, yang kita ketahui tidak terlalu sehat untuk kesehatan. Mengapa tidak Anda katakan hal tersebut dalam wawancara Anda? Di surat kabar juga dikatakan bahwa masyarakat telah mengurangi kebiasaan merokok, sebaliknya hal tersebut tersebut tidak ada dalam penelitian Anda? Apakah Anda tidak merasa bahwa data yang Anda sajikan telah dimanipulasi oleh media massa?

Atas pertanyaan itu, si peneliti menjawab bahwa koran dan media masa tidak menyampaikan hasil wawancara secara lengkap. Peniliti tersebut telah wanti-wanti menyatakan bahwa ia mengharapkan semua fakta hasil penelitian diangkat ke permukaan dan bahwa semua yang dikatakannya dalam wawancaranya hanya merupakan ilustrasi dan penelitiannya.

Fakta?

Fakta yang diputar balik? Fakta yang tidak lengkap, bahkan sampai sesuatu yang sama sekali tidak benar, semua ada di dalam dunia pemberitaan yang sangat mudah diakses oleh siapapun, di mana saja dengan cuma-cuma. Dunia internet memungkinkan semua, itu, sementara media cetak dan elektronik berlomba untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menampilkan berita yang bombastis dengan gambar yang menarik bagi pembaca atau pemirsanya.

Sebenarnya angka dan interpretasi seharusnya bertemu untuk memberikan gambaran yang tepat mengenai suatu keadaan. Penelitian harus membawa konklusi. Organisasi, universitas, perusahaan kecil maupun multinasional, organisasi politik harus memakai data tersebut untuk diajarkan atau dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan.

Rangkuman apa yang dibaca dan apa yang didapatkan di media masa dan tanpa kita sadari akan menjadi senjata ampuh pemusnah segalanya yang akan mematikan orang sekeliling kita maupun din kita sendiri. Ternyata ada perorangan yang memonitor peranan pers dan mengatakan bahwa satu di antara tiga berita merupakan “berita bohong atau berita yang tidak lengkap” yang pada akhirnya memberikan kesimpulan yang salah bagi pembaca atau pemirsa.

Kesalahan apa yang terjadi? Seorang buruh pabrik memaki-maki atasannya, ternyata di balik menjadi atasan telah menganiaya pekerjanya dengan memberhentikannya. Informasi mengenai seorang anak yang bertambah umur dalam keluarga yang memelihara binatang akan lebih kebal terhadap alergi bulu kucing. Uban atau kerontokan rambut merupakan masa lampau setelah ditemukannya varian genetik yang mencegah hal ini terjadi.

Angka pun sering kali disalahtafsirkan. Menurut Al Jazeera, Yaser Arafat sudah pasti, 83%, diracuni.

Kesimpulan ini diambil setelah At Jazeera mengambilnya dan sebuah hipotesa 6 kemungkinan. Ternyata, 5 kemungkinan adalah bahwa Yaser Arafat pada saat tertentu tidak didampingi dirumah sakit dan bukan,kah 5 dan 6 kemungkinan adalah 83%? Kantor berita utama di dunia pun segera melaporkan hal yang sama. Sebab dan akibat pun sering kali diputarbalikkan.

Jawabannya tentu: Pers tidak pernah salah atau kolom surat pembaca dapat dipergunakan untuk mereka yang menganggap tulisan di media itu perlu dikoreksi. Kolom itu pun acap kali berada di bagian yang sulit dijangkau pembaca dengan tulisan yang sangat kecil. Apa bila mesin media sudah bergerak, maka putih akan menjadi lebih putih dan hitam menjadi lebih hitam.

Apakah media bertanggung jawab terhadap kejadian Brexit? Ternyata Google melakukan penelitian dan mereka yang memberikan suara proBrexit tidak mengerti anti dari Brexit maupun untung rugi keberadaan Inggris di dalam euro.

Apakah CNN atau Euronews adalah media di mana aksi terorisme diajarkan 24 jam sehari? Kejadian di San Bernadino, Miami, Florida, Brussel, Turki, Bangladesh, dan Indonesia semua disiarkan tanpa hentinya selama 24 jam seminggu penuh. Siaran tersebut melaporkan tempat tinggal para teroris, bagaimana mereka membuat bom bunuh diri, jam berapa melakukan aksi teror agar mengakibatkan korban terbanyak, posisi sosial para pelaku di dalam masyarakat, dan sebagainya.

Apakah keterbukaan dan demokrasi yang berlebihan baik untuk masyarakat dan untuk dunia? Segala sesuatu yang berlebihan belum tentu baik. Makan mie instan yang terlalu sering akan berakibat fatal bagi kesehatan. Makan es campur terus menerus akan membuat kita mual, bahkan berlebihan makan durian, yang bagi lidah orang Indonesia sangat lezat akan berakibat fatal bagi kesehatan.

Sebuah tulisan dari Marina Ottaway mengatakan, mempromosikan demokrasi adalah cara yang termudah untuk memberi semangat dan memfalisitasi transisi dari otoritarian, pada zaman pasca-konflik di sebuah negara dimana demokrasi justru sering membawa bencana.

Apakah pers pernah merasa bertanggung jawab terhadap ekses yang terjadi atas tulisannya? Apak pers internasional pernah merasa bertanggung. jawab atas sebab dan akibat dari pemberitaannya mengenai kejadian di dunia? Apakah benar pers merupakan alat kontrol sosial atau justru sebaliknya? Apakah demokrasi pers, nasional maupun internasional, yang berkelebihan justru memberikan dampak negatif bagi umat manusia?

Secara pribadi saya menanyakan hal ini kepada seorang Condoleezza Rice, mantan penasihat keamanan Presiden Amerika Serikat, George Bush yang juga adalah mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, seorang profesor dalam ilmu politik dan komunikasi pada sebuah pertemuan di bulan Juni lalu. Dan jawabannya adalah: “We have to live with it!”


Darkwin Web's Official

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s