Home » PAGE 3.1 – Belajar Bahasa

Category Archives: PAGE 3.1 – Belajar Bahasa

Definisi dan Contoh Kalimat SPOK yang Benar

Kalimat adalah satuan terkecil dari bahasa dalam bentuk lisan maupun tulisan dan terdiri dari rangkaian kata yang memiliki/mengandung makna atau suatu pesan tertentu. Kalimat yang baik dan benar mengandung unsur-unsur kalimat yang terdiri dari Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Keterangan (K), dan Pelengkap (P)

Agar bisa membuat kalimat yang baik dan benar, kita harus mengerti pengertian dan fungsi dari unsur-unsur kalimat. Berikut ini adalah unsur-unsur kalimat yang membentuk sebuah kalimat.

Unsur- Unsur Kalimat

1. Subjek (S)
Di dalam sebuah kalimat Subjek (S) adalah pelaku atau orang yang melakukan kegiatan tertentu. Subjek pada umumnya berupa kata benda seperti nama orang, binatang, tumbuhan, dan benda. Contoh: Budi, Gajah, Anggrek, sekolah dan lain-lain.

2. Predikat (P)
Predikat adalah unsur kalimat yang menyatakan kegiatan yang sedang dilakukan oleh Subjek. Predkat biasanya merupakan kata-kata kerja. Misalnya, Memasak, bermain, menyanyi, dan lain-lain

3. Objek (O)
Objek adalah sesuatu yang dikenai tindakan oleh Subjek. Sama seperti Subjek, Objek dapat berupa kata-kata benda. Misalnya, Ayah, Harimau, Pakaian, dan lain-lain.

4. Keterangan (K)
Di dalam sebuah kalimat keterangan menjelaskan bagaimana, dimana atau kapan peristiwa yang dinyatakan dalam kalimat tersebut. Keterangan didalam kalimat dapat berupa:

Keterangan tempat = di rumah, di sekolah, di pasar, dan lain-lain.
Keterangan cara = dengan cepat, dengan serius, dengan bersemangat, dan lain-lain.
Keterangan tujuan = agar lulus ujian, untuk bertemu ibunya, supaya bersih, dan lain-lain.
Keterangan alat = menggunakan pisau, mengendara motor, menggunakan sekop, dan lain-lain.
Keterangan waktu = pada hari minggu, Jam 9 malam, pada musim kemarau dan lain-lain.
Keterangan penyerta = bersama ayahnya, dengan ibunya, ditemani kakaknya, dan lain-lain.

5. Pelengkap (Pel)
Pelengkap adalah unsur kalimat yang fungsinya seperti Objek (O) tetapi yang membedakannya adalah Pelengkap tidak bisa dirubah menjadi Subjek pada kalimat pasif. Pelengkap biasanya terletak setelah predikat atau objek.

Contoh: Ia memakai baju yang bagus, Ember itu berisi minyak tanah.

Pola-Pola Dasar Kalimat Bahasa Indonesia
Seperti yang telah disebutkan di atas, kalimat yang baik dan benar adalah kalimat yang memiliki unsur-unsur kalimat didalamnya. Kumpulan kata dapat dikatakan sebuah kalimat, jika memiliki minimal unsur Subjek dan predikat.

Contoh:
Ibu    pergi.
S       P

Kumpulan kata pertama disebut kalimat karena memiliki unsur Subjek dan Predikat. Sedangkan kumpulan kata yang kedua bukan merupakan kalimat meskipun terlihat panjang. Kata-kata tersebut merupakan sebuah Prase.

Pada umumnya kalimat Bahasa Indonesia memiliki 8 pola kalimat dasar yang bisa dikembangkan. Berikut ini adalah contoh-contoh pola dasar kalimat Bahasa Indonesia.

1. S-P
Contoh:           Saya  makan
                        S       P

2. S-P-O
Contoh:        Saya   makan    apel
                      S        P             O

3. S-P-Pel
Contoh:        Saya      makan      yang manis
                     S           P               Pel 

4. S-P-O-Pel
Contoh:         Saya   makan   apel   yang manis
                      S        P            O       Pel
5. S-P-O-Pel-K
Contoh:         Saya   makan   apel  yang manis   dengan lahap
                      S        P            O      Pel                K

6. S-P-K      
Contoh:        Saya   makan  dengan lahap
                     S          P               K

7. S-P-O-K
Contoh:       Saya  makan   apel  dengan lahap
                    S        P             O           K
8. S-P-Pel-K
Contoh:      Saya  memakan  yang manis   dengan lahap
                   S            P           Pel                   K

Dari semua pola diatas Kalimat berpola S P O K adalah kalimat yang relative berdiri sendiri dan memiliki pola intonasi final. Kalimat S P O K juga bisa menjadi rujukan penulisan ilmiah karena hampir memiliki semua informasi yang lengkap yang bisa ditemukan dalam sebuah kaliamat.

Advertisements

Standardisasi untuk Internasionalisasi Bahasa Indonesia-Melayu

Oleh Mahsun, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud

GAGASAN
standardisasi bahasa Indonesia-Melayu semakin gencar disuarakan, terutama menjelang diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN pada penghujung 2015. Gagasan itu disampaikan secara eksplisit pertama kali oleh Duta Besar Malaysia untuk Indonesia sehabis bertemu dengan Wakil Presiden R1, Jusuf Kalla, dan kemudian dijadikan salah satu rumusan dari keputusan Kongres Bahasa Melayu yang berlangsung di Kota Batam, 14-15 Juni lalu.

Munculnya gagasan tersebut bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah melalui perjalanan panjang yang diawali dengan berbagai pertemuan, baik bersifat akademis maupun formal, antarpemimpin negara untuk mendorong bahasa Indonesia-Melayu menjadi bahasa internasional. Sebut saja beberapa pertemuan penting, di antaranya perhelatan Tamaddun Melayu September 2013 yang dibuka Wapres Boediono di Kepri, pertemuan antara pimpinan DPD RI dengan Senat Malaysia pada 23 Februari 2015, pertemuan Duta Besar Malaysia untuk Indonesia dengan Wapres Jusuf Kalla pada Maret 2015, dan pertemuan akademik di bawah payung Kongres Bahasa Melayu yang berlangsung di Kota Batam, 14-15 Juni lalu.

Seberapa penting bahasa standar bagi keperluan internasionalisasi bahasa itu? Jawabannya tentu sangat penting karena proses internasionalisasi bahasa dilakukan melalui pembelajaran bahasa yang di dalamnya menuntut keberadaan bahasa standar untuk mengukur capaian basil belajar. Lalu persoalannya ialah apa urgensinya bagi Indonesia? Bukankah sudah memiliki bahasa standar/baku bahasa Indonesia (BI)? Dengan kata lain, perlukah bagi bangsa Indonesia merumuskan bahasa standar baru dengan mempertimbangkan bahasa Melayu (BM) yang digunakan sebagai bahasa kebangsaan di Malaysia? Sebelum menjawab persoalan itu, ada baiknya dijelaskan cakupan kebahasaan yang perlu distandarkan.

Standardisasi bahasa mencakup dua hal, yaitu standardisasi bahasa itu sendiri, dalam hal ini nama bahasanya, dan standardisasi aspek kebahasaannya yang mencakup pelafalan/ejaan, tata bahasa, dan kosakata/istilah. Untuk BI, standardisasi nama bahasa telah berlangsung seiring dengan dialektika pergulatan penetapan identitas nasional Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka.

Pada Kongres Pemuda I 1926, Muhammad Yamin mengusulkan butir ketiga Sumpah Pemuda berbunyi yang berbunyi, “Kami Poetra dan Poetri Indonesia menjunjung bahasa Persatuan bahasa Melayu.”

Pandangan M Yamin itu dikritisi M Thabrani dan didukung Sanusi Pane yang menyatakan jika pada butir pertama dan kedua Sumpah Pemuda itu berisi ikrar membentuk `Tanah Air Indonesia’ dan `Bangsa Indonesia’, mengapa pada butir ketiga tidak berbunyi, “Menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.” pica belum ada, harus dilahirkan bahasa itu menjadi bahasa Indonesia.

Pandangan Thabrani itu lalu disepakati pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 sehingga lahirlah butir-butir Sumpah Pemuda yang kita kenal sekarang ini. Artinya, dari penggalan sejarah itu, nama bahasa Indonesia sudah selesai, final, dan mengikat serta tidak perlu standardisasi nama bahasa baru.

Standardisasi pada aspek kedua jauh lebih rumit karena mencakup banyak aspek substantif yang kompleks dan sulit direalisasikan. Pasalnya, masyarakat penuturnya sudah menerima secara intuitif dan menjadi bagian dari kegiatan berbahasa sehari-hari. Standardisasi pelafalan, misalnya, tidak serumit standardisasi kosakata karena hanya terkait penyamaan pelafalan kata-kata yang berstruktur `a-a’ (apa, mata) dan `a-e’ (ape, mate). Maukah negara serumpun yang memperjuangkan BM itu menerima lafal standar berstruktur ‘a-a’ (apa, mata) bukan berstruktur `a-e’ (ape, mate) sebagaimana lafal standarnya dalam BI baku?

Sementara itu, standardisasi pada aspek kosakata melibatkan banyak hal, yaitu penyamaan terhadap kelompok kata-kata yang berbentuk sama, tetapi berbeda makna yang jumlahnya relatif besar. Misalnya, kata jemput (yang dalam BM sepadan dengan kata mengundang dalam BI), tandas (dalam BM bermakna toilet dan dalam BI bermakna memberi penekanan, seperti pada bentuk menandaskan). Masalah tata cara penyerapan yang berasal dari satu sumber, tetapi berbeda kaidah penyerapannya, misalnya, /-t(s)ion/ atau /-ty/, tiap-tiap menjadi BI /-si/ dan /-tas/, misalnya, `generation’ menjadi `generasi’, ‘television’ menjadi ‘teleyisi’, dan ‘activity’ menjadi `aktiyitas’. Dalam BM, kata tersebut menjadi jenerasyen, televisyen, dan ekstiviti. Belum lagi menyangkut kaidah tata bahasa, terutama terkait dengan kolakasi imbuhan yang sama, tetapi berbeda kata dasar yang dapat dilekatinya.

Sebenarnya, kerja sama dalam standardisasi kebahasaan antara Indonesia-Malaysia sudah lama dimulai, yaitu pada 1959, khususnya untuk penyamaan ejaan (Ejaan Malindo: Malaysia-Indonesia). Karena persoalan politis antarkedua negara, kerja sama itu sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali pada 1967. Ketika Brunei Darussalam merdeka, negara itu pun ikut bergabung dalam kerja sama kebahasaan yang sekarang dikenal dengan nama Majelis Bahasa Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia (Mabbim). Namun, perjalanan yang cukup panjang dalam kerja sama tersebut (sekarang sudah berjalan 54 tahun) menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan.

Hal itu ditunjukldn, misalnya, dari hasil sidang pakar Mabbim yang seharusnya diperoleh kata/istilah yang sama untuk ketiga negara. Namun, hal itu tidak terjadi. Pasalnya, sulit untuk mempersatukan dua bahasa yang memiliki sistem yang berbeda, seperti perbedaan dalam kaidah penyerapan di atas. Artinya, upaya bersama untuk standardisasi bahasa merupakan pekerjaan yang sangat kompleks karena harus menata ulang kaidah-kaidah kebahasaan dan penerapannya terhadap kata/istilah yang sudah berterima dalam masyarakat di tiap-tiap negara.

Dalam rangka internasionalisasi BI, standardisasi dalam bentuk kerja sama itu tidak diperlukan lagi karena standardisasi BI sudah dimulai sejak 1972 dengan standardisasi ejaan, diikuti standardisasi aspek ketatabahasaan, kata, dan istilah. Apalagi secara nyata, saat ini, pusat-pusat pembelajaran BI di luar negeri Iumbuh dengan sangat menggembirakan. Sampai 2015, terdaftar 176 pusat pembelajaran BI yang tersebar di 45 negara, baik di perguruan tinggi, lembaga kursus, sekolah-sekolah, maupun di KBRI/KJRI. Sebut saja, Jepang memiliki 38 tempat pembelajaran BI, Australia 36, Jerman 17, Amerika 12, Italia tujuh, Belanda enam, Thailand enam, dan Korea Selatan lima. Selanjutnya, Prancis, Polandia, Cina, dan Rusia masing-masing memiliki empat tempat pembelajaran BI. Sementara itu, Singapura, Polandia, Arab Saudi, Inggris, Vatikan, masing-masing memiliki tiga tempat pembelajaran BI.

Masalahnya sekarang ialah cara merawat lembaga-lembaga penyelenggara pembelajaran BI itu dengan memfasilitasi melalui penyediaan bahan pembelajaran, pengiriman tenaga pengajar, dan fasilitas lainnya. Tentu, yang patut diingat bahwa penguatan bahasa BI di luar negeri jangan sampai melupakan penguatan BI di dalam negeri. Bagaimana pun juga, bahasa Indonesia ialah wajah Indonesia yang harus ditampakkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Pasalnya, BI bukan hanya sarana komunikasi yang mempersatukan berbagai sU.ku bangsa yang berbeida Tatar belakang bahasa dan budaya di Indonesia, melainkan juga jauh dari itu. HI merupakan identitas dan jati diri keindonesiaan bangsa Indonesia:

Kita harus belajar dari 27 negara yang tergabung dalam Masyarakat Uni Eropa. Tiap-tiap negara UE memperjuangkan identitas diri yang berupa bahasa nasional agar menjadi bahasa pengantar kerja sama Uni Eropa.

BAHASA: “Begal dan Pembegal”

KOMPAS, — Bahasa itu lentur, bisa “ditekuk-tekuk”, dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Namun, tentunya upaya tersebut tidak dengan sembarang atau semaunya. Ada koridornya, yakni sistem bahasa itu sendiri dan konvensi dari masyarakat pemilik bahasa. Jika hasil kelenturan itu tidak sesuai dengan sistem bahasa, akan muncul salah kaprah dan tabrakan dengan sistem bahasa yang telah ada sebelumnya.
Kata pembegal, pembegalan, dan membegal, seiring dengan kasus begal yang marak, sering muncul dalam media massa. Dalam halaman 156, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV hanya mencantumkan kata turunan membegal dan pembegalan pada lema begal yang berkelas nomina, kata benda. Argumen ketiadaan kata pembegal mudah diduga, yakni begal sudah nomina dan bermakna ‘penyamun’. Jadi, penambahan awalan pe(n)- yang berfungsi membendakan dan memiliki makna (gramatikal) ‘yang melakukan’ tentu berlebihan dan hiperkorek. Memang bisa diperdebatkan mengapa membegal dan pembegalan diakui keberadaannya oleh KBBI, tetapi pembegal tidak?
Tulisan ini tidak akan menyoroti sikap KBBI itu, melainkan akan melihat mengapa muncul kata membegal, pembegalan, dan pembegal dan bagaimana statusnya dari sudut pandang kebahasaan.
Pada mulanya begal berkemungkinan besar nomina. Sejak kecil saya sudah biasa mendengar ujaran: “Jangan lewat situ kalau malam. Banyak begal.” Namun, kita juga sering menjumpai kalimat “Begal saja orang itu”. Dalam contoh kalimat terakhir, tentu begal adalah kata kerja, verba. Dalam bahasa Indonesia kata yang memiliki dwikelas (nomina dan verba) sudah biasa, misalnya, tumis, gulai, gergaji, pacul, dan gunting. Kata-kata dalam senarai ini secara leksikal (makna) jelas nomina, tetapi secara gramatikal bisa pula berperilaku verba, seperti kata begal.
Kata begal yang bisa bergabung dengan awalan me(n)- dan menurunkan membegal, lalu pembegal dan pembegalan, adalah yang berkelas verba, bukan begal yang nomina. Pola ini sudah ada dalam bahasa kita: menumis dan menggulai atau menggergaji, menggunting, dan memacul. Mengapa bukan begal yang nomina? Argumennya, makna (gramatikal) awalan me(n)- di sini adalah melakukan perbuatan sebagaimana dalam dasarnya (begal, tumis, gulai) atau melakukan perbuatan dengan alat (menggergaji, dst). Sebaliknya, jika bergabung dengan yang nomina, awalan me(n)akan bermakna ‘menjadi’, sebagaimana dalam membatu dan meng(k)arang. Jenis kata kerjanya juga berbeda, yakni melakukan (membegal) dan proses (membatu).
Tampak pula dalam senarai itu bahwa verba perbuatan menghendaki “pelaku”, yang bisa muncul secara faktual atau potensial dalam satuan bahasa (pembegal, penggergaji, pemacul, dst).
Kata pembegal secara faktual muncul dalam pemakaian bahasa dan secara kebahasaan tidak bermasalah. Ada pola gramatikalnya. Penggunaannya bisa berlaku sebagai varian kata begal dan sesuai dengan konteks wacananya.
Kita bisa membayangkan bahwa unsur-unsur bahasa tidak lentur. Ketika ada keperluan dari penutur yang akan menceritakan bahwa ada peristiwa perbuatan dan proses membegal, kita akan terengah-engah mengungkapkannya dalam bentuk parafrasa atau penceritaan dengan kata-kata lain yang bermakna mirip, misalnya, “kemarin ada orang merebut (motor) dengan kekerasan dan sadis, dst”. Berkat kelenturan bahasa, kita cukup menggunakan kata begal yang berkelas verba dan kata turunannya: membegal, pembegalan, dan pembegal atau begal. Nuansa maknanya lebih pas. Jadi, manfaatkanlah kelenturan bahasa yang sesuai dengan sistem bahasa kita.

YANWARDI Editor Yayasan Obor

Bahasa: Keluar dan Ke Luar

Intisari-Online.com – “Tak perlu keluar duit banyak kalau mau keluar negeri”

Itu hanya contoh kalimat di baliho dan selebaran yang bertebaran di sepanjang jalan. Biasanya penawaran jasa agen wisata, biro travel, dan semacamnya. Setali tiga uang, kesalahan penulisan juga bertebaran di banyak baliho dan selebaran tersebut. (more…)

Bahasa Persatuan Tak Akan Ditinggalkan

MIRISNYA jika bahasa Indonesia akan punah dari bumi pertiwi. Karena, apabila itu terjadi maka tak akan ada lagi yang namanya “negara Indonesia”; yang ada ialah negara Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan negara-negara lainnya. Itu artinya Indonesia akan bercerai-berai.
Esensi bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia, merupakan bahasa pemersatu, seperti yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, 85 tahun yang lalu. Beraneka suku, ras, dan bahasa daerah yang berbeda-beda, namun disatukan oleh bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Seiring arus globalisasi, dari waktu ke waktu terjadilah serapan bahasa asing yang dirasa cukup ngetren. Misalnya, “Aku lagi OTW ni.” Padahal jika kita menggunakan bahasa pemersatu, sederhana saja, “Aku lagi di jalan.” Penggunaan bahasa pemersatu ini merupakan bentuk penghargaan kita terhadap salah satu kekayaan Indonesia. Selain itu, ada juga bahasa alay, misalnya “Eaa Kakak..,” tulisan Iya, diganti Eaa..

Pertanyaannya apakah dengan bermunculan bahasa asing maupun bahasa alay ini bahasa Indonesia akan punah? Mungkin bukan punah, namun sedikit mengalami pergeseran dalam bahasa percakapan.

Tidak perlu dikhawatirkan, karena keberagaman bahasa yang kita miliki akan menjadi kekayaan tersendiri bagi bangsa kita. Pun, dengan munculnya bahasa baru tentu akan menambah keberagaman bahasa di negeri tercinta kita. Selagi Indonesia masih berdiri kokoh dengan berjuta  perbedaaan yang menjadi SATU, yakinlah bahasa Indonesia tak akan ditinggalkan apalagi punah.

Dwi Sulis Tiani, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)

Kebanggaan Pakai Bahasa Indonesia Kian Hilang?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wieke Gur, pendiri bahasakita.com, menyebut rasa bangga menggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan anak muda makin berkurang. Meskipun demikian, kata dia, penyebabnya bukan karena generasi muda tidak suka, tetapi karena mereka tidak tahu. 


“Mereka tidak tahu bagaimana berbahasa yang baik. Akhirnya mereka kagok menggunakan bahasa Indonesia. Ketidakmampuan itu yang menumbuhkan rasa ketidakpercayaan diri,” ujar Wieke yang juga seorang pencipta lagu. 


Menurut Wieke, masih banyak generasi muda yang tidak paham bagaimana menggunakan dan menulis dalam bahasa Indonesia. Contoh kecilnya saja dalam penulisan kalimat sehari-hari seperti walaupun dan dimana. 


“Banyak yang tidak tahu cara menulisnya harus disambung atau dipisah. Mungkin kelihatannya sederhana, tapi sangat penting,” ujarnya


Menurut Wieke, kondisi tersebut terjadi karena pola pembelajaran yang terjadi saat ini masih tradisional, yaitu hanya melalui buku dan sekolah. Sementara, anak muda masa kini lebih menyukai berkomunikasi melalui media sosial. 


Sayangnya, lanjut dia, di media sosial tidak ada badan resmi yang memasukkan unsur pembelajaran bahasa Indonesia. Sehingga, bahasa yang berkembang adalah bahasa yang dibuat oleh kalangan mereka sendiri.  


Karenanya, dia menilai, media sosial harus dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi positif, khususnya pada generasi muda. Selain itu, lanjut Wieke, peran media massa juga sangat penting dalam membumikan bahasa Indonesia. 


“Media massa itu kan sering dijadikan rujukan bagaimana penulisan yang benar. Karenanya mereka harus memutakhirkan bahasa,” kata Wieke.

Tanggalkan Paradigma Bahasa Indonesia Sudah Punah

BERBICARA tentang bahasa berarti kita sedang membicarakan sebuah alat. Ya, sebuah alat yang dapat menjadi katalisator persatuan setiap orang yang memahami bahasa tersebut. Bahasa adalah barometer atas eksistensi suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan yang tinggi, pasti ia memiliki sebuah bahasa pemersatu yang elegan pada masanya.

Tidak bisa kita mungkiri bahwa bangsa ini telah mulai kehilangan eksistensi akan bahasanya. Hal ini berbanding terbalik dengan  kepopuleran bahasa asing yang semakin menjamur. Tengok saja para pelajar masa kini yang jauh lebih bangga ketika dia mampu berbicara bahasa asing khususnya bahasa  Inggris. Tetapi ketika diminta untuk membuat kalimat dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang benar, kebanyakan dari mereka mengalami kesulitan dan salah menempatkan EYD menurut kaidah yang benar. Bahkan  terdengar celetukan bahwa “kemampuan Bahasa Indonesia lemah, karena tidak ada lembaga kursus Bahasa Indonesia”. Hal ini bisa saja kita benarkan, toh nyatanya lembaga kursus asing memang bertaburan menghiasi kota-kota besar. Sedangkan lembaga kursus yang mempelajari Bahasa Indonesia? Jarang adanya.

Perlu ada studi kritis yang membahas pelbagai masalah ini. Kita tidak bisa membiarkan penjajahan atas bahasa ibu kita berlangsung terus menerus. Tidakkah kita bisa mencontoh negara di timur Asia sana: Jepang, yang mengharuskan para pekerja asing mempelajari Bahasa Jepang. Tidakkah kita lupa akan sumpah pemuda yang menjadi tonggak perjuangan bangsa, “Kami  putra-putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.” Dan apakah kita mau, menjadi bangsa yang hilang rasa persatuan karena dirampasnya bahasa persatuan yang tidak lain adalah hasil kebudayaan kita?

Maka dari itu, mari kita  lebih peduli kepada Bahasa Indonesia, minimal dari diri kita sendiri dahulu. Kemudian beranjak keluar, kita tanggalkan paradigma Bahasa Indonesia sudah punah.
—–
Deni Indracahya, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia