Home » PAGE 3.19 – Streaming Radio

Category Archives: PAGE 3.19 – Streaming Radio

Oleh Bandung Mawardi, "Hari Radio dan Njoto"

KORAN TEMPO 11/9 Page 15, — Pada 1950-an, radio adalah benda ajaib dan mewah. Orang-orang menginginkan radio, bermanja mendengarkan pelbagai acara: berita, lagu, pidato, sandiwara, atau pengajian agama. Radio memikat jutaan telinga yang membuat pemiliknya merasa sah sebagai manusia modern. Suara radio di rumah menjadi representasi keluarga berharta dan melek perubahan zaman. Radio menentukan kemesraan, kelas sosial, nasionalisme, harmoni keluarga, dan kemodernan. Suara-suara dari radio mengantar ke imajinasi tokoh, tempat, peristiwa, dan pelbagai hal lain. Radio menjadikan Indonesia hersuara. Kehidupan tak lagi sepi atau membisu. Radio itu keajaiban meski sering memicu scribu masalah. Orang-orang bertaruh demi memiliki radio.

Kita mengingat sejenak sejarah radio di Indonesia. Hari Radio bermula dari rapat di Jakarta, 11 September 1945. Para tokoh berjanji mendirikan radio berhaluan nasionalis demi Indonesia. Radio sangat diperlukan untuk mengaba rk a n pelbagai scruan para pemimpin bangsa. Hiburan ,juga disajikan agar para pendengar tidak terlalu frustrasi mengalami revolusi. Radio memang berperan dalam mengumumkan kemerdekaan. Para pemimpin rajin berpidato di corong radio. Jutaan telinga di Indonesia mendengarkan agar mengerti perkembangan situasi politik dan bergairah membela kemerdekaan. Radio perlahan menjadi suara zaman. Pada 1950-an, radio semakin digandrungi pendengar segala umur. Mereka mungkin beranggapan radio adalah “mukjizat” untuk Indonesia sebagai negara yang sedang membangun dan mengartikan kemerdekaan.

Pemaknaan romantic menggenapi seruan nasionalisme. Peringatan Hari Radio turut diekspresikan oleh majalah Merdeka edisi 11 September 1954. Sampul majalah itu berupa foto studio RRI di Jakarta. Herawati Diah selaku pemimpin redaksi menjelaskan, “Oleh karena madjalah Merdeka menganggap radio sebagai suatu alat penting dalam hidup manusia seharihari, maka untuk sekcdar memperingati hari Radio, dipasanglah pada halaman depan gambar salah satu studio jang terbesar di Indonesia.”

Edisi peringatan itu memuat pelbagai informasi mengenai radio. Empat halaman menceritakan sejarah radio dan kontribusi para tokoh. Kita simak deskripsi dramatisnya: “Radio mengumandangkan keseluruh dunia bahwa bangsa Indonesia menjatakan dirinja sebagai bangsa jang merdeka dan melalui udara pula semangat rakjat dipimpin kearah kesadaran mempertahankan tjita-tjita jang tclah diikrarkan itu. Radio timbul dan tenggelam bersama pasang dan surut jang dialami perdjuangan bangsa Indonesia”.

Radio menggerakkan sejarah Indonesia. Peran itu diimbuhi peran radio sebagai alat penerangan dan hiburan.

Pada 1950-an, peringatan Hari Radio biasanya memuncak pada pemilihan bintang radio. Ratusan orang mengikuti lomba berebut gelar bintang radio. Peringatan Hari Radio pada 1959 menetapkan ketentuan daftar lagu-lagu wajib. Peserta wanita dalam kriteria seriosa wajib melantunkan lagu Di Sela Rumput Hidjau (Maladi) atau Tempat Bahagia (B. Sitompul dan Sanusi Pane). Lagu wajib peserta pria adalah Awan (B. Sitompul dan Sanusi Pane) atau Setitik Embun (M. Embut dan M. Murni).

Kriteria lagu hiburan mewajibkan peserta wanita melantunkan lagu Seruan Ibu (T. Suhekti dan Njoto) atau Sendja di Priangan (Djauhari). Peserta pria wajib membawakan lagu Seruling Gembala (Pus Tuk idjo) atau Imbauan Pertiwi (Hari dan Njoto). Lagu-lagu wajib juga ditentukan untuk kriteria keroncong.

Kita temukan ada nama Njoto dalam kriteria lagu hiburan. Siapa Njoto? Kita gampang mengenalinya sebagai tokoh Partai Komunis Indonesia. Lelaki kurus berkaca mata itu tak melulu berpolitik. Njoto pin- tar memainkan alat musik dan menggubah lagu. Njoto pun pantas dikenal atas gubahan lagu dalam pemilihan bintang radio. Njoto berkontribusi untuk Hari Radio. Dua lagu itu pernah diulas di majalah Varia edisi 16 September 1959 dan 23 September 1959. Njoto berperan sebagai penulis lirik.

Kita mengenang sejenak persembahan lirik dalam lagu Seruan Ibu, sederhana tapi mengena: Tengah aku seorang diri, kudengar rintih tangismu… Dengarlah tambatan hatiku, dengar genderang djiwaku/Akan kugemakan lagu ini `tuk pengobat gundahmu… Mengatakan perdjoanganmu dan mendoakan langkahmu/Pertjajalah engkau anakku, dengan bimbingan lagu/Dengan perasaan tenagamu mengharumkan nusa tentu.

Lagu itu bertema perjuangan, memicu imajinasi nasionalisme. Lirik scrupa muncul dalam lagu berjudul Imbauan Pertiwi. Njoto masih mengisahkan nasionalisme: Wahai, putri Dewi Bangsa, kau mustika rochani/Takkah engkau merasa ichlas untuk Ibu Pertiwi/Saju pilu menderam kalbu hendak berseru/Adakah sampai senandung ibu mengimbau putri sakti. Kita mulai agak berpikiran berbeda jika menempatkan Njoto dalam urusan lagu dan Hari Radio.

Pengetahuan tentang biografi Njoto pada 1950- an cenderung mengarah ke PKI ketimbang seni. Rcdaksi majalah Minggu Pagi edisi 15 Agustus 1954 menginformasikan biografi Njoto pada halaman 3 dengan judul “Kawan Njoto”. Informasi dari redaksi menyatakan Njoto itu “anggauta C.C. P.K.I jang paling muda”, “ketjil dan sangat energik”, serta “paling bahagia mengantarkan djenazah Stalin dan Gottwald”. Pengenalan Njoto itu terkesan lebih terbuka ketimbang keingintahuan publik pada masa Orde Baru. Kehadiran rubrik biografi itu cukup menjelaskan ketokohan Njoto. Kita simak keterangan pendek dan penting: “Batjaannja dan peladjarannja jang mendalam adalah dalam lapangan filsafat, kesusasteraan dunia, musik, dan djurnalistik”. Hari Radio pun menjadi peristiwa penting bagi Njoto untuk turut berkontribusi dengan mempersembahkan dua lirik lagu.

Advertisements

Mahfud MD on Youtube

 

Mahfud MD : Saya sudah tidak berhasil menangkan Prabowo Hatta, Tidak berguna Pemilu Ulang

Prabowo on BBC News


‘Man of the people is an act’ says Subianto about Widodo – Indonesia elections – BBC News

Jokowi Nangis Saat di Datangi Tetangganya di Kampung teringat Saat hidup…

Dakta 107 FM

Eksistensi Radio Dakta berawal dari keinginan Bapak H. Iman Loebis, sebagai pemilik PT Java Motors yang bercita-cita untuk membangun sebuah radio, sebagai sarana menyebarkan informasi dan dakwah ditengah masyarakat. Pada awal tahun 1991 beliau membeli izin Radio Famor yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Setelah melalui berbagai proses administrasi dan persiapan teknis maka dipindahkanlah izin penyiarannya ke wilayah Bekasi dengan tujuan agar daya pancarnya bisa menjangkau wilayah Jabodetabek.

(more…)

i Radio

100% INDONESIA

89,6 fm I-Radio adalah sebuah radio yang menyuguhkan 100% Musik Indonesia. Dari 24 jam siarannya I-Radio hadir dengan musik dalam negeri berkualitas dari era tahun 90an awal hingga era millennium. Jenis musik yang kami pilih adalah lagu-lagu yang sedang, pernah dan akan segera menjadi hits dari berbagai aliran, seperti pop, pop rock, jazz, hip hop, ska, balada hingga alternative.

INFORMATIF

Tidak sekedar menyuguhkan musik dalam negeri berkualitas, tapi 89,6 fm I-Radio juga memberikan informasi mutakhir untuk pendengarnya. Semua jenis informasi bisa didapatkan di 89,6 fm I-Radio. Mulai dari informasi ringan seputar prakiraan cuaca, nilai tukar rupiah, kemacetan lalu lintas, acara televisi, film yg sedang diputar di bioskop, tempat makan yang enak dan murah, jadwal kereta api dan lowongan kerja, hingga informasi yang agak berat seputar politik, ekonomi, hukum, sosial dan budaya

(more…)

Hard ROCK FM

Hard Rock FM announces itself as a “Lifestyle & Entertainment Station”.

In line with this statement, Hard Rock FM always features the latest trends among its listeners. Be it the latest fashion news, various popular sport activities, or web information. As an Entertainment Station, Hard Rock FM tries to update the listeners with new-movie information, the latest issues in music business, hot gossips around, and other related issues happening around the city.

(more…)